- 12 Agu 2019
- 4 menit membaca
Diperbarui: 8 Jul
Bunyi gamelan yang penghabisan telah lenyap di udara senja hari. Sepagi anak lurah Kaliwangan telah disunati. Tamu-tamu telah habis pulang. Senja rembang datang.
Begitulah Pram memulai ceritanya, Perburuan. Sejak senja rembang 16 Agustus 1945 itulah Hardo untuk pertama kalinya menampakkan diri. Setelah setengah tahun bersembunyi dari buruan Nippon, ia muncul di depan rumah Ningsih, tunangannya. Hari itu adalahhari sunatan Ramli, adik Ningsih.
Namun Den Hardo, bukan lagi pemuda yang orang-orang Kaliwangan kenal. Saat itu telah menjadi seorang kere. Kere dengan rambut gondrong dan lengket. Wajah kotor dan dipenuhi brewok. Tidak berbaju dan telanjang kaki.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















