top of page

Hasil pencarian

9740 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Anak-anak Nonton Film di Zaman Kolonial Belanda

    DI AWAL kemunculannya di Hindia Belanda pada penghujung abad ke-19, film telah menarik perhatian banyak orang,tak hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak. Kala itu, film yangdisebut gambar idoep ditayangkan di bioskop yang lokasinya berpindah-pindah. Tak jarang pemutaran film dilakukan di ruang terbuka hingga melahirkan istilah bioskop misbar (gerimis bubar). Sementara bioskop permanen mulai muncul di beberapa kota pada periode awal abad ke-20. Menurut M. Sarief Arief dalam Politik Film di Hindia Belanda , ketika itu film telah menjadi sarana hiburan yang diminati oleh penduduk lokal. Salah satu pemicunya yakni meningkatnya kebutuhan akan tempat hiburan saat malam hari. “Pada setiap malam Minggu pertemuan remaja pria dan wanita sering diadakan yang dilanjutkan dengan acara menonton pertunjukan film di bioskop,” tulis Arief. Guna menjaring lebih banyak penonton dari berbagai kalangan dan kelompok umur, sejumlah bioskop mengadakan pertunjukan khusus untuk anak-anak. Biasanya pertunjukan itu diselenggarakan seminggu sekali dengan harga tiket masuk lebih murah dan sudah termasuk tiket pendampingnya. Bahkan, sebuah bioskop di Sidoarjo pernah memberikan hadiah hiburan gratis menonton film bagi murid-murid sekolah. Murid yang berhasil meraih peringkat tertinggi mendapat tempat duduk kelas VIP.

  • Membersihkan Najis dari Film

    MENYAMBUT Ramadan, stasiun televisi dan bioskop menayangkan film-film bertema Islam. Film-film itu menyampaikan ajaran Islam melalui ide cerita yang beragam. Kesamaan film-film itu terletak pada gagasan bahwa film hanya berupa media dan Islamlah pesannya. Berpuluh tahun lampau, orang mempertentangkan dua hal ini. Film masuk ke Hindia Belanda pada 1900. Khalayak Hindia Belanda menerima kehadiran film. Hari demi hari, film berkembang makin menarik. Dari bisu menjadi bersuara. Semula hanya dokumenter kemudian beranjak mempunyai jalan cerita. Omongan sehari-hari penduduk Hindia Belanda pun mesti bersinggah pada perihal film. Lalu selingkar orang berpaham kaku mengkhawatirkan perkembangan film dalam masyarakat. Menurut mereka pergi ke bioskop menonton film perbuatan tak berfaedah. Film mulai menampilkan adegan percumbuan, pergaulan lelaki dan perempuan bukan muhrim, cerita fantasi, dan mempertontonkan lekuk tubuh perempuan. Orang berpaham kaku akhirnya memvonis film sebagai perusak moral masyarakat, barang berbahaya.

  • Proses Kreatif Usmar Ismail di Balik Layar

    SINEAS Riri Riza menaruh respek tinggi pada sosok Usmar Ismail. Dalam diskusi daring dalam rangka 100 Tahun Usmar Ismail dan menjelang Hari Film Nasional bertajuk “Usmar dan Cerita-Cerita dalam Filmnya” di kanal Youtube Rumata Artspace , Rabu (24/3/2021) malam, Riri mengupas lebih dalam sosok “Bapak Perfilman Nasional” yang idealisme dan gagasannya sangat kuat dalam karya-karyanya. Hal itu membuat kiprah Usmar di belakang layar masih sangat relevan dijadikan obyek studi di dunia perfilman. “Film-filmnya sampai saat ini masih dijadikan sandaran studi tidak hanya di perfilman Indonesia tapi juga dunia. Karya-karyanya punya kekuatan bercerita yang sinematik secara audio dan visual,” ujar Riri. Film-film Usmar, baik sebagai sutradara maupun produser, yang kerap dijadikan obyek studi para sineas muda hingga kini antara lain Darah dan Doa  (1950), Harimau Tjampa (1953), Krisis (1953), Lewat Djam Malam , dan Tiga Dara  (1956). Karya-karya tersebut dianggap sineas muda Salman Aristo menetapkan standar tinggi bagi mutu perfilman Indonesia.

  • Pemikiran Usmar Ismail dalam Film-filmnya

    HISTORIOGRAFI perfilman Indonesia tak bisa dilepaskan dari nama Usmar Ismail.   “Bapak Perfilman Indonesia” itu pemikirannya dalam berkarya masih jadi inspirasi bahkan   bagi para sineas muda 100 tahun setelah kelahirannya (20 Maret 1921). Pesatnya perkembangan perfilman Indonesia sejak 1950, tahun ditetapkannya Hari Film Nasional yang bertolak dari hari pertama syuting film Darah dan Doa  ( The Long March ) karya Usmar pada 30 Maret 1950, tak bisa dilepaskan dari kiprah Usmar. Tema film, misalnya, lebih variatif dari masa ke masa. Menurut pemerhati industri perfilman Indonesia   JB Kristanto, Usmar dengan film-filmnya setelah Darah dan Doa  jadi pembeda dari generasi pembuat film sebelumnya. Garis pemisahnya ia hadirkan lewat film-film yang temanya lebih logis dan tak lagi bertema dongeng.

  • Kisah Tragis Akhir Hidup Bapak Film Nasional

    USMAR Ismail ditahbiskan sebagai Bapak Film Nasional. Dia mendirikan Perfini (Pusat Film Nasional Indonesia) dan pada 30 Maret 1950 memulai shooting pertama filmnya, Darah dan Doa di Purwakarta. Tanggal 30 Maret kemudian ditetapkan sebagai Hari Film Nasional. Selama hidupnya, antara tahun 1950-1970, Usmar Ismail membuat 33 film layar lebar: drama (13 film), komedi atau satire (9 film), aksi (7 film), musical/entertainment (4). Namun, ada satu film yang membuatnya tertekan dan berakhir dengan kematiannya. Menurut Rosihan Anwar, wartawan senior dan ipar Usmar Ismail, tidak semua publik tahu tentang cerita tragis yang dialami Usmar Ismail dan yang membawanya kepada kematian relatif muda.

  • 30 Maret 1950: Film Nasional Pertama

    USMAR Ismail mulai menggarap film pertamanya. Bersama krunya, pada 30 Maret 1950 dia berangkat ke Subang dan Purwakarta untuk syuting The Long March atau dikenal juga Darah dan Doa . Pemainnya adalah pemuda-pemuda yang tidak punya pengalaman di dunia seni peran, seperti Del Yuzar dan Awaluddin Djamin (di kemudian hari jadi Kepala Polri). Awaloedin Djamin yang baru pertama main film pun diajari seluk-beluk film dan acting dari yang paling dasar. “Usmar menceritakan kepada kami tentang cara-cara membuat film. Untuk pertama kalinya saya melihat diri saya sendiri bergerak dan berbicara di layar putih,” kata Awaloedin dalam memoarnya Awaloedin Djamin, Pengalaman Seorang Perwira Polri. Meski mengambil aktor nirpengalaman, di kemudian hari salah satu pemainnya menjadi aktris terkenal yang membintangi banyak film, yakni Suzzanna, si pemeran tokoh Ina dalam Darah dan Doa .

  • Pratu Misdi, Pasukan Perdamaian Indonesia yang Gugur di Gaza

    HARI Minggu pagi, 29 September 1957, Kapal Talise bersandar di Pelabuhan II Tanjung Priok. Kapal itu mengangkut pasukan perdamaian Indonesia Batalion Garuda I setelah delapan bulan bertugas untuk misi perdamaian di Mesir. Seperti pahlawan yang baru pulang dari medan perang, kedatangan mereka disambut ribuan handai tolan. Mulai dari Wakil Perdana Menteri III Hardi, pembesar militer dan sipil, perwakilan negara asing, hingga atase-atase militer. Selain para pembesar, rakyat biasa termasuk keluarga prajurit turut menyongsong para pasukan. “Pada umumnya anggota-anggota Batalion Garuda yang baru tiba kembali di tanah air itu, tampak segar-segar dan sehat walaupun tampak agak letih; mereka berpakaian uniform TNI lengkap dengan senjata-senjatanya memakai pet baret berwarna biru muda yang ditempeli dengan lencana PBB,” demikian diberitakan Harian Nasional , 1 Oktober 1957.

  • Aksi Heroik Niek De Koning, Kawan Pendiri Kopassus

    NIKOLAAS Jakobus de Koning, yang disapa Niek, sedang berada di Argentina waktu Perang Dunia II meletus. Tanah airnya, Belanda, diduduki tentara Jerman akibat perang itu. Maka demi membela tanah airnya, Niek pun meninggalkan benua Amerika.   Niek, sebagaimana disebut kawan seperjuangannya Rudy Albert Blatt dalam laporannya berjudul To Live  You Fight: A War Diary , adalah “mantan guru sekolah di Belanda, yang telah menguasai pasar domba di Argentina.” Bisnis itu dijalaninya sebelum Perang Dunia II meletus. Maka Perang pun agak mengganggu bisnisnya.   Hidup baru akibat perang terpaksa harus dijalani Niek. Algemeene Dagblad  tanggal 22 Oktober 1955 memberitakan, Niek mencapai Inggris dari Argentina pada 1941 dan dia lalu menjadi prajurit bawahan di sana. Ketika memulai karier militernya, itu usianya sudah 34 tahun. Dia kelahiran di Krabbendijke, Zeeland, Belanda, 16 September 1907.   Setelah mengikuti pelatihan komando di Achnacerry, Skotlandia, Niek tergabung dengan pasukan komando Belanda di Inggris, Dutch Army nomor 2. Di sana juga tergabung pria bernama Raymond Paul Pierre Westerling (1919-1987) dan Rodes Barendrecht Visser (1915-1977). Bila Westerling kelak dikenal sebagai jagal dalam sejarah Indonesia, Visser dikenal sebagai pendiri pasukan khusus Angkatan Darat Indonesia, Kopassus.   Sebagian dari pasukan itu kemudian dikirim melawan tentara Jepang di Burma, termasuk Niek dan Blatt. Setelah ditempatkan di Komando Nomor 5 ketika berada di India, keduanya lalu ikut diberangkatkan ke Arakan, Burma.   “Rudy dan Niek duduk di dek depan kapal kecil yang mengangkut pasukan komando dari sebuah dusun yang agak tidak penting di semenanjung, entah di mana, ke pantai Burma. Mereka mengamati siluet pilot Arakan yang setiap dua menit menancapkan tiang bambu panjang ke dalam air untuk mengukur kedalaman, karena Sungai Naaf, terutama di muaranya, terkenal dengan dataran lumpurnya yang berbahaya,” kenang Wim van der Veer,  atasan Niek dan Blatt di India, di koran Algemeene Dagblad  tanggal 22 Oktober 1955.   Sepanjang perjalanan, mereka hanya bisa bertanya-tanya apakah tentara Jepang akan muncul di tempat pendaratan mereka. Ini pertanyaan lazim dalam benak pasukan pendarat. Sebab, pasukan musuh di tempat pendaratan adalah lawan yang pertama kali akan mereka hadapi. Lamunan itu “buyar” di sekitar rawa-rawa jelang titik pendaratan karena terdengar long-longan anjing liar.   “Setidaknya kita akan punya teman saat mendarat,” kata Niek. “Aku akan senang jika akhirnya bisa menginjakkan kaki di tanah, walaupun hanya rawa-rawa di sini.”   Ternyata tak ada tentara Jepang yang menanti mereka di titik pendaratan. Suasana di sana justru tenang.   Namun, di kejauhan terdengar gemuruh artileri yang samar dengan kilatannya. Pasukan komando Belanda itupun langsung menyebar. Mereka pun menggali lubang perlindungan dan terus waspada.   Rudy mengambil senapannya lalu berlutut dengan satu kaki dan kaki lainnya menopang tangan yang siap menembakkan senapannya. Dalam posisi tersebut, tiba-tiba Rudy mendapat pukulan keras di bahu dan dada hingga senapannya terlepas.   “Senapanku, senapanku!" teriaknya.   Rudy terluka dan nafasnya tersengal-sengal dalam posisi berbaring. Matanya melihat bintang-bintang di langit malam itu. Ternyata, dalam kegelapan itu ada beberapa orang yang terjatuh.    “Niek! Niek!” teriak Rudy mencari kawan-kawannya.     Lantaran tak ada jawaban, Rudy berusaha berdiri. Dia harus segera pergi dari tempat berlumpur itu meski tubuhnya lelah, pusing, dan mual. Dalam gelap, lalu terlihat olehnya sesosok tentara mendatanginya.   “Niek ... Niek! Niek!” Rudy kembali berteriak.   Kali ini dia benar, orang itu adalah Niek. mengetahui kawannya terluka, Niek langsung memapahnya. Sementara itu, tentara Jepang terus menembaki mereka. Niek pun lari terengah-engah dan sempat jatuh karena beban berat yang dibawanya. Mereka akhirnya sampai di tempat aman. Berkat Niek, Rudy bisa dirawat dan selamat.   Kisah penyelamatan Rudy oleh Niek yang diceritakan Wim van der Veer itu membuat Niek mendapat apresiasi. Dia lalu dianugerahi medali kehormatan Bronze Kross (Salib Perunggu) karenanya.   Niek meneruskan karier militernya setelah Perang Dunia II selesai. Pangkatnya sudah letnan. Pada awal 1961, suratkabar Twentsche Courant  tanggal 3 Februari 1961 memberitakan, Letnan Kolonel de Koning diangkat menjadi komandan Pasukan Komando Korps Speciale Troepen (KST) di Roosendaal. Jabatan tersebut terus diembannya hingga menjelang usia pensiun. Niek tutup usia pada 19 Mei 1997 di Apeldoorn, Gelderland, Belanda.

  • Ketika Presiden Soeharto Naik KRL

    PRESIDEN Joko Widodo naik Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta bersama sejumlah figur publik pada Sabtu, 20 April 2019. Dia melakukannya setelah menghadiri sebuah pertemuan di pusat perbelanjaan Grand Indonesia. Sebelumnya, dia telah beberapa kali menjajal MRT. Dia juga pernah menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL) untuk pulang ke Bogor pada 6 Maret 2019. Saat itu jam sibuk sehingga dia harus berdesakan dengan penumpang lain. Selain Presiden Jokowi, presiden lain yang pernah menjajal transportasi publik berbasis rel di dalam kota adalah Soeharto. “Penggunaan KRL untuk pertama kali dilakukan Presiden Soeharto dalam rangka peninjauan dan peresmian rumah sederhana di Depok Baru pada 12 Agustus 1976,” tulis Tri Wahyuning M. Irsyam dalam Berkembang dalam Bayang-Bayang Jakarta: Sejarah Depok 1950—1990-an. Perjalanan Presiden Soeharto ke Depok, Jawa Barat, menandai penghidupan kembali layanan KRL. Moda ini berhenti melayani warga sejak 1965. KRL hidup kembali lantaran penerapan konsep Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi).

  • Kunjungan Sukarno ke Bulgaria

    DALAM situs kemlu.go.id  disebut bahwa Bulgaria merupakan salah satu negara yang memberikan dukungan dan pengakuan terhadap Republik Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. Barangkali maksudnya Bulgaria termasuk negara yang cukup awal mengakui Republik Indonesia bersama negara-negara Uni Soviet lainnya. Pengakuan tersebut dikabarkan oleh Suripno, wakil mahasiswa Indonesia di International Union of Students (IUS), yang mengikuti Festival Pemuda Sedunia Pertama di Praha, Cekoslowakia, pada 1947. Selain membuka hubungan diplomatik dengan Uni Soviet yang tidak diakui pemerintah Indonesia, Suripno juga memberitahukan bahwa negara-negara blok Uni Soviet juga mengakui Republik Indonesia.

  • Kecelakaan Helikopter di Puncak

    LAKSAMANA Madya R.E. Martadinata menjabat Menteri/Panglima TNI AL (kini KSAL) dua periode selama tujuh tahun (Juli 1959–Februari 1966). Dia kemudian diperbantukan pada penggantinya, Laksamana Madya R. Moeljadi, selama beberapa bulan.  Setelah itu, R.E. Martadinata ditunjuk menjadi Duta Besar Republik Indonesia Berkuasa Penuh untuk Republik Pakistan pada 1 September 1966. Dia berangkat ke Pakistan tanpa disertai keluarga karena baru akan menyerahkan surat kepercayaan sebagai duta besar kepada presiden Pakistan.   R.E. Martadinata sudah dikenal oleh pemerintah Pakistan, khususnya Angkatan Laut Pakistan, karena sewaktu menjabat Menteri/Panglima TNI AL pada 1965 dia mengirimkan satuan TNI AL untuk latihan bersama AL Pakistan.

  • Tiga Prasasti Tarumanagara (Bagian I)

    KAMPUNG Cibuaya di Karawang geger pada suatu hari di tahun 1951. Muasalnya dari warga bernama Warsinah yang sedang menggali sumur. Bukan air yang didapat, dia malah menemukan sebuah arca. Kaget, warga awam itu pun segera melapor ke aparat setempat. “Benda ini ditemukan oleh Pak Warsinah dari Kampung Cibuaya, ditemukan ketika ia menggali sedalam 21 meter. Patung ini setelah dilaporkan kepada Lurah Erman langsung diberikan kepada Camat pada waktu itu,” tulis sejarawan Halwany Michrob dalam artikel di Buletin Kebudayaan Jawa Barat, edisi No. 2, tahun 1976, “Beberapa Masalah dan Latar Belakang Kepurbakalaan di Indonesia”. Belakangan, yang ditemukan Warsinah ternyata adalah arca Dewa Wisnu –kelak dikenal sebagai Arca Wisnu Cibuaya I. Kemudian pada 1957 dan 1975, berturut-turut ditemukan arca mirip sehingga disebut sebagai Wisnu Cibuaya II dan Wisnu Cibuaya III. Kampung Cibuaya pun pun mulai jadi situs penggalian para arkeolog. Semua ternyata masih berkaitan dengan sejarah Tarumanagara.

bottom of page