top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Aksi Heroik Niek De Koning, Kawan Pendiri Kopassus

Perang memaksa Niek de Koning masuk tentara di usia tak muda. Mantan guru ini justru bersinar di palagan Burma bersama pasukan komando Belanda.

30 Mar 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Niek de Koning (https://weggum.com)

  • 1 jam yang lalu
  • 3 menit membaca

NIKOLAAS Jakobus de Koning, yang disapa Niek, sedang berada di Argentina waktu Perang Dunia II meletus. Tanah airnya, Belanda, diduduki tentara Jerman akibat perang itu. Maka demi membela tanah airnya, Niek pun meninggalkan benua Amerika.

 

Niek, sebagaimana disebut kawan seperjuangannya Rudy Albert Blatt dalam laporannya berjudul To Live  You Fight: A War Diary, adalah “mantan guru sekolah di Belanda, yang telah menguasai pasar domba di Argentina.” Bisnis itu dijalaninya sebelum Perang Dunia II meletus. Maka Perang pun agak mengganggu bisnisnya.

 

Hidup baru akibat perang terpaksa harus dijalani Niek. Algemeene Dagblad tanggal 22 Oktober 1955 memberitakan, Niek mencapai Inggris dari Argentina pada 1941 dan dia lalu menjadi prajurit bawahan di sana. Ketika memulai karier militernya, itu usianya sudah 34 tahun. Dia kelahiran di Krabbendijke, Zeeland, Belanda, 16 September 1907.

 

Setelah mengikuti pelatihan komando di Achnacerry, Skotlandia, Niek tergabung dengan pasukan komando Belanda di Inggris, Dutch Army nomor 2. Di sana juga tergabung pria bernama Raymond Paul Pierre Westerling (1919-1987) dan Rodes Barendrecht Visser (1915-1977). Bila Westerling kelak dikenal sebagai jagal dalam sejarah Indonesia, Visser dikenal sebagai pendiri pasukan khusus Angkatan Darat Indonesia, Kopassus.

 

Sebagian dari pasukan itu kemudian dikirim melawan tentara Jepang di Burma, termasuk Niek dan Blatt. Setelah ditempatkan di Komando Nomor 5 ketika berada di India, keduanya lalu ikut diberangkatkan ke Arakan, Burma.

 

“Rudy dan Niek duduk di dek depan kapal kecil yang mengangkut pasukan komando dari sebuah dusun yang agak tidak penting di semenanjung, entah di mana, ke pantai Burma. Mereka mengamati siluet pilot Arakan yang setiap dua menit menancapkan tiang bambu panjang ke dalam air untuk mengukur kedalaman, karena Sungai Naaf, terutama di muaranya, terkenal dengan dataran lumpurnya yang berbahaya,” kenang Wim van der Veer,  atasan Niek dan Blatt di India, di koran Algemeene Dagblad tanggal 22 Oktober 1955.

 

Sepanjang perjalanan, mereka hanya bisa bertanya-tanya apakah tentara Jepang akan muncul di tempat pendaratan mereka. Ini pertanyaan lazim dalam benak pasukan pendarat. Sebab, pasukan musuh di tempat pendaratan adalah lawan yang pertama kali akan mereka hadapi. Lamunan itu “buyar” di sekitar rawa-rawa jelang titik pendaratan karena terdengar long-longan anjing liar.

 

“Setidaknya kita akan punya teman saat mendarat,” kata Niek. “Aku akan senang jika akhirnya bisa menginjakkan kaki di tanah, walaupun hanya rawa-rawa di sini.”

 

Ternyata tak ada tentara Jepang yang menanti mereka di titik pendaratan. Suasana di sana justru tenang.

 

Namun, di kejauhan terdengar gemuruh artileri yang samar dengan kilatannya. Pasukan komando Belanda itupun langsung menyebar. Mereka pun menggali lubang perlindungan dan terus waspada.

 

Rudy mengambil senapannya lalu berlutut dengan satu kaki dan kaki lainnya menopang tangan yang siap menembakkan senapannya. Dalam posisi tersebut, tiba-tiba Rudy mendapat pukulan keras di bahu dan dada hingga senapannya terlepas.

 

“Senapanku, senapanku!" teriaknya.

 

Rudy terluka dan nafasnya tersengal-sengal dalam posisi berbaring. Matanya melihat bintang-bintang di langit malam itu. Ternyata, dalam kegelapan itu ada beberapa orang yang terjatuh.

 

 “Niek! Niek!” teriak Rudy mencari kawan-kawannya.

 

 

Lantaran tak ada jawaban, Rudy berusaha berdiri. Dia harus segera pergi dari tempat berlumpur itu meski tubuhnya lelah, pusing, dan mual. Dalam gelap, lalu terlihat olehnya sesosok tentara mendatanginya.

 

“Niek ... Niek! Niek!” Rudy kembali berteriak.

 

Kali ini dia benar, orang itu adalah Niek. mengetahui kawannya terluka, Niek langsung memapahnya. Sementara itu, tentara Jepang terus menembaki mereka. Niek pun lari terengah-engah dan sempat jatuh karena beban berat yang dibawanya. Mereka akhirnya sampai di tempat aman. Berkat Niek, Rudy bisa dirawat dan selamat.

 

Kisah penyelamatan Rudy oleh Niek yang diceritakan Wim van der Veer itu membuat Niek mendapat apresiasi. Dia lalu dianugerahi medali kehormatan Bronze Kross (Salib Perunggu) karenanya.

 

Niek meneruskan karier militernya setelah Perang Dunia II selesai. Pangkatnya sudah letnan. Pada awal 1961, suratkabar Twentsche Courant tanggal 3 Februari 1961 memberitakan, Letnan Kolonel de Koning diangkat menjadi komandan Pasukan Komando Korps Speciale Troepen (KST) di Roosendaal. Jabatan tersebut terus diembannya hingga menjelang usia pensiun. Niek tutup usia pada 19 Mei 1997 di Apeldoorn, Gelderland, Belanda.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

Murka karena utusannya dibantai dengan bengis, Sultan Mehmed II membalas dengan kekuatan penuh. Walau berhasil kabur, nasib Vlad Dracula berakhir tragis.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
bottom of page