- 16 Apr 2020
- 4 menit membaca
Diperbarui: 23 Feb
MALAM menuju puncaknya. Gulita membekap kawasan Asrama Militer Batujajar, Jawa Barat ketika sekelebat bayangan bergerak cepat di belakang pos penjagaan. Sejurus kemudian, dari bagian belakang, secara kilat bayangan hitam itu membekap prajurit penjaga pos. Sang prajurit tergagap. Dia coba melawan. Namun pitingan tangan yang kuat disertai ancaman pisau komando yang terhunus membuatnya tak bisa berkutik.
“Sang penyergap itu tak lain adalah Visser, instruktur sekaligus komandan kami. Dia memang begitu, nyaris setiap waktu selalu menguji kesiapsiagaan kami sebagai pasukan komando,” kenang almarhum Marzoeki Soelaiman, salah satu anak didik generasi pertama dari Roden Barendrecht Visser alias Mochamad Idjon Djanbi.
Marzoeki juga masih ingat bagaimana aksi Visser saat melakukan latihan penyerbuan dari laut di Pelabuhan Ratu. Dalam skenario, para siswa peserta pelatihan dengan menggunakan beberapa perahu karet akan melancarkan penyerangan ke arah sebuah lapangan udara di muara Sungai Cimandiri.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















