top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Korban Keris Mpu Gandring

    SIAPA yang tak kenal dengan kisah keris Mpu Gandring? Keris ini dikutuk pembuatnya, Mpu Gandring, akan membawa malapetaka. Keris pencabut maut ini dikisahkan dalam kitab Pararaton atau Katuturanira Ken Anrok (gubahan tahun 1478 dan 1486 tanpa disebutkan penggubahnya). Di luar mitos soal magis keris Mpu Gandring, kisah ini menggambarkan suksesi berdarah yang mengiringi perjalanan kerajaan Singasari, yang didirikan Ken Angrok. Berikut ini para korban kutukan keris Mpu Gandring.

  • Bianglala Kehidupan di Balik Kamp Interniran Jepang

    SETIAP pagi, orang-orang Belanda penghuni kamp interniran, harus berbaris menghadap ke sebelah timur arah matahari terbit. Kebiasaan ini mengikuti tradisi orang Jepang yang disebut seikerei sebagai wujud penghormatan kepada kaisar Jepang. Di bawah pemerintah pendudukan Jepang, orang Belanda tak bisa berbuat banyak. Mereka terpaksa ikut tunduk membungkuk di bawah sengatan terik mentari pagi. Celakanya, membungkuk ke arah matahari ketika seikerei itu bisa makan waktu lama. Sikap tunduknya bahkan bisa membentuk sudut tubuh mencapai 25 derajat hingga 40 derajat. Tak ayal, banyak interniran Belanda tak kuat sampai pingsan. Alih-alih ditolong, serdadu Jepang penjaga kamp malah menambah derita mereka dengan gamparan dan tendangan. Meski kehidupan kamp interniran di bawah represi Jepang, orang Belanda tak ingin tunduk bulat-bulat pada Jepang. Beredar cerita yang mengisahkan bagaimana mereka mempertahankan kesetiaan pada negaranya. Dengan segala cara walau berisiko bila ketahuan. Alkisah, seorang tawanan menyobek kain berwarna oranye, warna kebanggaan Kerajaan Belanda, dan membagikannya kepada tawanan lain. Mereka mengikatkan kain itu ke jempol kaki masing-masing. Ketika melakukan seikerei , mereka kuat membungkuk karena merasa memberi hormat kepada Sri Ratu Wilhelmina, bukan kepada Kaisar Jepang. Begitulah kehidupan dalam kamp interniran semasa pendudukan Jepang. Pakar cagar budaya, Nunus Supardi menuturkan beragam segi kehidupan di balik kamp interniran dalam dua buku, Documenta Historica Kamp Interniran: Masa Pendudukan Jepang hingga Revolusi di Indonesia dan Beragam Segi Kehidupan di Balik Kamp Interniran . Selain mencerminkan kekejaman perang, dia juga memotret kisah-kisah kemanusiaan yang dialami para tawanan. “Ada 864 kamp [interniran] di seluruh Indonesia dari Aceh sampai Papua. Cukup banyak. Yang paling dikenal dan dianggap sebagai kamp paling keras adalah Tjideng (Cideng)” terang Nunus dalam bedah bukunya di Galeri Cemara 6–Toety Heraty Museum, Jakarta Pusat, 1 April 2026. Kamp interniran yang dibangun pemerintah pendudukan Jepang ditujukan kepada warga Belanda dan sebagian orang Eropa. Menurut Nunus, Jepang ingin menghilangkan semua pengaruh Barat dan pemisahan yang tegas masyarakat Asia dari bangsa Barat. Andai kata tidak ditangani, warga Belanda dan Eropa yang jumlahnya mencapai 300.000 orang bakal membangun kekuatan untuk melawan Jepang. Selain itu, Jepang melalui kamp interniran ingin mempermalukan bangsa Barat, yang telah merendahkan Jepang untuk waktu yang lama. Diperkirakan sebanyak 294.000 orang Eropa, terutama Belanda, dijebloskan ke dalam kamp interniran yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka mulai dari perwira militer, warga biasa, perempuan, hingga anak-anak. Jumlah dan lokasi kamp interniran yang terdaftar sebanyak 864 kamp. Sebanyak 174 kamp di Jawa Barat, 191 kamp di Jawa Tengah, 179 kamp di Jawa Timur, 180 kamp di Sumatra, 50 kamp di Kalimantan, 39 kamp di Sulawesi, 26 kamp di Sunda kecil, 20 kamp di Maluku, dan 5 kamp di Papua. Bedah buku Beragam Segi Kehidupan di Balik Kamp Interniran: Masa Pendudukan Jepang hingga Akhir Revolusi di Indonesia . (Martin Sitompul/Historia.ID). Jenis kamp interniran bermacam-macam. Mulai dari kamp tahanan perang, kamp VIP atau tahanan orang penting, kamp anak laki-laki, kamp warga sipil, kamp penjahat, kamp tahanan dan penjara, kamp perlindungan, hingga kamp konsentrasi. Namun, tidak semua orang Belanda ditahan di kamp interniran. Mereka yang punya keahlian sebagai teknisi atau ahli di bidang tertentu dibebaskan dan dikaryakan oleh pemerintah pendudukan Jepang. Misalnya, Kepala Dinas Purbakala Hindia Belanda Willem Frederick Stutterheim, semula ditahan di Yogyakarta kemudian dipindahkan ke Batavia. Dia dibebaskan mengingat keahliannya sebagai arkeolog yang dibutuhkan pemerintah pendudukan Jepang. Orang-orang Belanda di kamp interniran hidup nelangsa. Berbanding terbalik dengan kehidupan mereka sebelumnya di masa kolonial sebagai warga kelas satu. Di kamp interniran, mereka harus berjuang untuk memperoleh makanan dan air bersih. Belum lagi kondisi kamp yang kotor dan sumpek lantaran tinggal berdesak-desakan. Nasib anak-anak paling memprihatinkan. Badan mereka kurus kerempeng karena kekurangan gizi. Tak sedikit pula anak-anak yang didera penyakit selama tinggal dalam kamp interniran. Dalam berbagai sumber Jepang, menurut sejarawan Universitas Indonesia Dwi Mulyatari, kamp interniran disebut sebagai “daerah perlindungan”. Jepang berkilah, kamp interniran bagi orang Belanda dan Eropa untuk melindungi mereka dari sasaran kebencian pemuda-pemuda Indonesia. Di balik itu, Jepang sejatinya hanya ingin mengamankan dan menawan mereka sebagai wujud hegemoni kekuasaan. “Bagi sejarawan, penting juga kita melihat sumber apa yang kita gunakan lalu istilah apa yang dipakai dalam sumber tersebut. Untuk sumber-sumber Kan Po , koran sezaman terbitan masa pendudukan Jepang yang memuat peraturan-peraturan pemerintah, kecenderungannya memakai kata yang diperhalus seperti daerah perlindungan. Atau untuk menjaga orang Belanda terhindar dari amukan pemuda revolusioner ketika memasuki masa revolusi,” jelas Mulyatari. Mulyatari juga mengutip kisah humanisme dalam kamp interniran tentang para biarawati yang membuat dan mengirimkan kartu ucapan Natal kepada sesama interniran. Meski sederhana, kartu ucapan Natal ini memberikan harapan akan keselamatan dan kedekatan kepada Tuhan. Sementara itu, Teuku Reza Fadeli, sejarawan Universitas Indonesia, menyatakan bahwa kamp interniran menggambarkan bagaimana memori dibuat, diproduksi, dan dijaga. Ini terlihat dari artefak-artefak sejarah yang ditinggalkan oleh para interniran. Banyak dari mereka menyelingi waktu dalam interniran dengan membuat lukisan, renda, bahkan centong nasi dengan ukiran unik. Itu semua membutuhkan pembacaan lebih lanjut untuk merekonstruksi sejarah dari keseharian para interniran. “Ini mungkin bisa dibingkai dalam studi lanjutan sebagai satu sumbangan studi memori atau bagaimana aspek gender juga membentuk pengalaman dari tawanan kamp interniran ini,” kata Reza.*

  • Anusapati dan Candi Kidal

    BANYAK yang percaya Candi Kidal di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur ditemukan oleh Thomas Stanford Raffles (1781-1826) tahun 1817. Padahal, Raffles yang menulis History of Java hanya sebentar menjadi Letnan Gubernur Jenderal di Jawa. Dalam Hasil Pemugaran dan Temuan Benda Cagar Budaya PJP I, misalnya, I.G.N. Anom, ‎Sri Sugiyanti, dan ‎Hadniwati Hasibuan menyebutkan, ketika ditemukan Raffles pada 1817, Candi Kidal diselimuti oleh hutan. Tanpa harus mengaitkanya dengan Raffles, Candi Kidal tetaplah candi menarik. Candi yang terletak di barat Gunung Bromo ini adalah warisan dari penganut Hindu-Siwa yang dulu berkembang di daerah ini. Di zaman Hindia Belanda, candi ini diteliti B. de Haan, J.F.G. Brumund, A.J. Bernet, dan Raden Soekmono.

  • Berburu Keris Bukan Mistis

    PRABU Brawijaya murka. Pengaruh Sunan Giri, salah satu dari sembilan wali, dianggap sudah mengancam eksistensi Kerajaan Majapahit. Gresik tumbuh menjadi pusat politik dan perdagangan yang penting di Jawa. Brawijaya pun mengirim Patih Gajah Mada dan pasukannya untuk menyerang Giri. Penduduk Giri panik dan berhamburan ke dalam keraton. Sunan Giri, yang sedang menulis, terkejut dan terlemparlah penanya (kalam). Dia lalu berdoa dan berubahlah pena itu menjadi keris berputar-putar, Keris itu mengamuk dan menewaskan banyak tentara Majapahit. Keris itu lalu kembali ke keraton dan tergeletak di hadapan Sunan dengan berlumuran darah. Sunan lalu berdoa meminta ampunan. Sekejap keris itu pun bersih kembali. Kisah dalam Babad Tanah Jawa itu begitu populer di kalangan penggemar keris. Konon, setelah itu, Sunan mengatakan kepada rakyat Giri bahwa dia menamakan kerisnya Kalam Munyeng.

  • Jasa Sang Insinyur Teknik Sipil Pertama Indonesia

    PADA masa pendudukanJepang didirikan Bandung Koo Gyoo Dai Gaku tahun 1944. Perguruan tinggi ini sebagai kelanjutan dari Technische Hoogeschool yang ditutup pada 1942. Setelah Indonesia merdeka pada 1945, Bandung Koo Gyoo Dai Gaku diambil alih dan diubah menjadi Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandoeng yang dipimpin oleh Prof. Ir. Roosseno. Tak lama berjalan, STT Bandoeng mengungsi ke Yogyakarta karena terjadi perang kemerdekaan melawan Sekutu dan Belanda. STT Bandoeng dibuka kembali di Yogyakarta pada 17 Februari 1946 (ditetapkan sebagai Hari Perguruan Tinggi Teknik). Pemrakarsanya adalah Ir. Wreksodiningrat, insinyur teknik sipil pertama Indonesia lulusan Belanda. Dia kemudian menggantikan Roosseno sebagai pemimpin STT Bandoeng pada 1 Maret 1947.

  • Insinyur Teknik Sipil Pertama Indonesia Lulusan Belanda

    JEMBATAN sepanjang 145 meter melintasi sungai Code. Jembatan dengan lebar 15 meter itu menghubungkan Kabupaten Sleman dengan Kota Yogyakarta, melewati Jalan Condro Lukito dan A.M. Sangaji, menuju ke Kaliurang dan kawasan perguruan tinggi. Dengan melewati jembatan itu, waktu tempuh pun berkurang 25 menit dari Kawasan Monjali menuju Universitas Gadjah Mada dan RS dr. Sardjito. Jembatan itu dibangun mulai dari Oktober 2007 sampai selesai pada November 2008 dengan menelan biaya Rp24,2 milyar dari APBN tahun 2007 dan 2008. Jembatan itu diberi nama Jembatan Wreksodiningrat.

  • Keris Menteri Pertahanan

    MENTERI Pertahanan Prabowo Subianto mengadakan pertemuan empat mata dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Élysée, Paris, Prancis, Selasa (15/3/2022). Mereka membahas kerja sama pertahanan Indonesia dan Prancis, yaitu mengenai pembelian pesawat jet Rafale dan kapal selam Scorpene yang telah disepakati pada 10 Februari 2022. Di pengujung pertemuan, Prabowo menyerahkan cendera mata berupa keris Bali kepada Macron. Prabowo kerap memberikan keris Bali sebagai cendera mata kepada para pejabat negara lain. Sebelumnya, Prabowo memberikan keris Bali kepada Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace di London, Selasa (23/3/2021). Dia juga memberikan keris Bali kepada Menteri Pertahanan Amerika Serikat Lloyd James Austin di Bahrain, Sabtu (20/11/2021).

  • ITB Rayakan Seabad TH Bandung

    PERANG Dunia I menghalangi orang Hindia Belanda melanjutkan pendidikan tinggi ke Belanda, khususnya ke Technische Hogeschool (TH) Delft. Namun, perang juga telah mengubah pandangan orang Belanda, yang semula berpendapat bahwa Hindia Belanda belum siap memiliki perguruan tinggi. Bahkan, pada 30 Mei 1917 beberapa orang terkemuka d ar i kalangan perbankan, perdagangan, dan perusahaan, mengadakan pertemuan di gedung Nederlandse Handelsmaatschappij di Amsterdam , untuk mendirikan Koninklijk Instituut voor Hoger Onderwijs in Nederlands Indie (Institut Kerajaan untuk Pendidikan Tinggi di Hindia Belanda) . Sebagai pelaksana program, dibentuk Raad van Beheer (Dewan Pengurus) yang diketuai oleh Dr. C.J.K. van Aalst, kemudian diganti oleh J.W. Ijzerman. Dia memiliki pengalaman dalam perkeretaapian di Jawa dan Sumatra, serta pengetahuan yang luas tentang masyarakat Hindia Belanda, termasuk sejarah kuno Jawa dan Sumatra.

  • Westerling Terkulai Dirudal Jerman

    JAUH sebelum rudal ditembakkan pihak-pihak yang terlibat dalam perang di Teluk Persia sekarang, Jerman telah melakukannya waktu Perang Dunia II. Teknologi perang Jerman vital dalam memperkuat armada perang Adolf Hitler (1889-1945) menghadapi negara-negara Sekutu yang menjadi lawannya. Termasuk ketika Jerman telah melemah pada tahun-tahun terakhir perang.   Di fase akhir perang, sebuah teknologi dipersiapkan Jerman. Ia adalah peluru kendali –lebih tepatnya roket dan sering disebut bom terbang– bernama Fieseler Fi 103, dikenal sebagai V-1 yang kemungkinan singkatan dari Vergeltungswaffe 1. Orang Jerman mengartikan Vergeltungswaffe 1  sebagai senjata balas dendam.   Senjata dengan 1.870 pon bahan peledak ini, disebut Jean-Denis G.G. Lepage dalam An Illustrated Dictionary of the Third Reich, dikembangkan sejak Juni 1942 dan diproduksi massal Maret 1944. Dari sekitar 35.000 buah yang diproduksi, 9.251 buah ditembakkan ke Inggris dan 6.551 ditembakkan ke Antwerp, Belgia.   Jackie Rosenthal dan Raymond Paul Pierre Westerling –yang kelak membantai ribuan rakyat Indonesia sehingga dijuluki “Sang Jagal”– berada di Antwerp ketika ratusan atau ribuan V-1 menghajar Antwerp. Dalam memoarnya, Mijn Memoires , Westerling menyebut pasukan komando Belanda dari Inggris itu, termpat Westerling berada, diterjunkan tidak jauh dari tempat peluncuran rudal-rudal V-1. Militer Jerman menempatkannya ke Belanda bulan-bulan terakhir tahun 1944 agar bisa menembaki Inggris dengan rudal tersebut.   Dekatnya markas Westerling dengan tempat peluncuran V-1 membuatnya sering melihat V-1 diluncurkan. Ia bahkan sempat menikmati tontonan lalu lintas rudal Jerman itu di langit sebelum memakan korban.   Sementara Westerling belum sibuk di Antwerp, di Belanda pasukan Sekutu melancarkan Operasi Market Garden dengan menerjunkan pasukan khusus dari Inggris. Mereka berusaha untuk menembaki rudal itu di tempat peluncurannya, namun selalu ada rudal yang lolos. Salah satu rudal itu kemudian jatuh beberapa meter dari Jackie dan Westerling sewaktu keduanya sedang berjalan kaki.   “Mereka terjatuh ke tanah dan pingsan untuk beberapa waktu sebelum Raymond mulai sadar. Ia menyadari, meskipun perlahan, bahwa sebenarnya ia tidak terluka sama sekali. Lalu ia melihat sekeliling dan melihat Jackie,” catat Rudy Albert Blatt dalam To Live  You Fight: A War Diary .   Jackie terlihat oleh Westerling menderita luka parah terkena ledakan V-1. Hanya beberapa kata diucapkan Jackie sebelum meregang nyawa dalam pelukan Westerling.   Westerling sendiri kemudian dievakuasi dan dibawa ke Inggris untuk mendapatkan perawatan. Dirinya ditempatkan dalam sebuah kamar hingga tubuhnya kurus dan pucat.    “Butuh tiga minggu sebelum saya bisa melihat lagi dan lima bulan sebelum bisa pulih untuk kembali bertugas,” aku Westerling dalam Mijn Memoires .   Rudy Blatt sempat menemui Westerling. Yang ditemui tampak hilang keceriaan pasca-kejadian mengerikan itu. Westerling bahkan bicara layaknya orang tua yang sedang sekarat soal apa yang dialaminya bersama Jackie. Westerling nyaris buta oleh V-1 Jerman tadi. Sulit bagi Westerling untuk melupakan kejadian mengerikan itu.   Namun bukannya memperlihatkan simpatinya, Rudy malah kecewa pada Westerling yang dianggapnya tampak lemah seperti orang gangguan mental. Westerling bahkan sempat dihinanya. Rudy bilang Westerling itu pengecut dan tak lebih baik daripada perempuan-perempuan yang membantu tentara yang juga menghadapi bahaya perang.   “Wajah Ray memucat karena marah. Aku menantangnya untuk bangun dari tempat tidurnya yang sialan itu, berhenti bertingkah seperti anak kecil, berpakaian, dan jalan-jalan bersamaku,” kenang Rudy.   Merasa kehormatannya diinjak-injak, Westerling langsung mengumpat dan bangkit dari tempat tidurnya lalu berpakaian. Pancingan kasar Rudy pun dimakan Westerling yang mendadak sembuh.   “Setengah jam kemudian kami duduk di sebuah bar sambil minum-minum. Ketika 15 menit kemudian dia meninggalkanku untuk mengikuti seorang wanita pirang yang cantik, aku tahu semut kecilku telah berhasil,” kata Rudy melihat Westerling telah berangsur pulih dari “kemanjaannya”.

  • Belanda Mengawasi Indonesia dari Australia

    DI LANTAI 10 gedung Temple Court building, Collins Street, Melbourne, Australia, para petinggi pemerintahan Hindia Belanda acap kali berkumpul. Mereka adalah pejabat kolonial pimpinan Hubertus van Mook yang melarikan diri dengan dua pesawat Dakota dari Bandung menuju negara sekutunya, Australia. Di sana, dibentuk jawatan penerangan untuk terus memantau kondisi Hindia Belanda: NIGIS (Netherlands Indies Goverenment Information Service). “Kegiatan ini merupakan kegiatan dinas rahasia sipil dan organisasi propaganda pemerintah Hindia Belanda di pengasingan yang berbasis di Australia, selepas jatuhnya Hindia Belanda ke tangan balatentara Jepang,” tutur sejarawan Rushdy Hoesein dalam ekspose “Arsip Foto Netherlands Indies Government Information Service (NIGIS) di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta Selatan, 28 November 2016.

  • Ada Oknum Polisi dalam Pembunuhan Berencana Marhaenis

    DUA bulan sudah kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J bergulir dengan aneka drama dan rumor motif yang menyertainya. Namun, ada titik terang-titik terang yang perlahan membuka tabir misteri kasus. Salah satu yang terpenting, eks-Kepala Divisi Profesi dan Pengalamanan (Kadiv Propam) Polri Irjen Ferdi Sambo dijadikan tersangka pembunuhannya. Rekonstruksi kejadian sudah dilakukan tim penyidik Polri di dua tempat kejadian perkara (TKP), yakni di Jalan Saguling III, Jakarta Selatan (kediaman pribadi Sambo) dan Komplek Polri Duren Tiga (rumah dinas Sambo) pada 30 Agustus 2022. Total ada 78 adegan yang diperagakan di dua TKP untuk menyibak apa dan bagaimana peran Sambo dan para tersangka lain: Bharada E (Richard Eliezer), Bripka RR (Ricky Rizal), KM (Kuat Ma’ruf), dan Putri Candrawathi (istri Sambo). Kendati masih terdapat perbedaan pandangan dan keterangan antar-tersangka, rekonstruksi itu setidaknya membuktikan pembunuhan berencana Brigadir J untuk kemudian dijadikan catatan tim penyidik sebelum diserahkan ke kejaksaan. Tersangka Ferdy Sambo dan istrinya, Putri Candrawathi, sama-sama dijerat pasal 340 subsider pasal 380 juncto  pasal 55 juncto  pasal 56 KUHP.

  • Riwayat Penghulu dari Masa Lalu

    KERINGAT dingin membasahi tubuh Dedi Slamet Riyadi, 38 tahun. Setelah menuruni bukit, melalui tegalan sawah, dan menerabas sungai dengan sepeda motornya, dia tiba di tempat perhelatan: sebuah masjid kampung di Kuningan, Jawa Barat. Begitu masuk masjid, wajah dan berkas pernikahan yang dia jinjing sama-sama kusut. Tapi toh dia mesti menuntaskan pekerjaannya: menghadiri dan mencatat pernikahan.   Sebagai penghulu, Dedi terbiasa menyantap medan seperti itu. Selama masih masuk wilayahnya, kapan pun dia mesti siap jika dibutuhkan masyarakat. “Pernah juga hari raya,” katanya. Tentu saja tugas penghulu bukan hanya menghadiri dan mencatat pernikahan. Sebagai pegawai negeri sipil, dia punya tugas lainnya. Dari perencanaan kegiatan hingga pengembangan kepenghuluan. Dari pengawasan pencatatan nikah/rujuk hingga pembinaan keluarga sakinah. Namun, meski tampak segambreng, sebenarnya tugas penghulu masa kini hanya berkutat di hukum keluarga dan pernikahan. Kedudukannya pun di kecamatan.

bottom of page