Diperbarui: 15 Sep
LAUT tak jauh dari hidupnya. Dia pernah menyeberangi lautan untuk mengadu nasib ke Jawa sewaktu muda. Ayah angkatnya pun seorang pelaut meski barangkali hanya pelaut kapal kayu. Pelaut dari Madura itulah yang menjadikannya anak, memungutnya dari Gorontalo, daerah asalnya.
Dullah, singkatan dari Abdullah, itulah nama panggilannya. Dia masih belia sewaktu tentara Jepang menduduki Kepulauan Nusantara. Dullah kala itu berada di Surabaya. Dia sering keluar-masuk pelabuhan mengantar penumpang.
“Menjelang kekalahan Jepang, Pemuda Abdullah adalah seorang tukang becak yang buta-huruf. Pada saat-saat itulah dia menerima latihan kemiliteran anggauta pasukan Jibakutai,” catat Soe Hok Gie dalam Kisah Penumpasan RMS: Gerakan Operasi Militer IV.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















