top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Abrakadabra Kota Canberra

Ibu kota negara Australia dengan sedikit keganjilan yang terselip dari masa lalu. Di sana ada monumen simbol korban pembunuhan massal di Indonesia.

2 Agu 2023

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Gedung Parlemen Australia di Canberra. (Thennicke/Wikimedia Commons).

ANGIN kering musim panas langsung menerpa begitu saya keluar dari bandara Canberra pertengahan Februari lalu. Kota ini sepi, tapi bukan kota mati. Ia malah ibu kota negara Australia yang genap berusia seabad pada Maret tahun ini. Untuk sebuah ibu kota negara, dibandingkan dengan Jakarta yang sudah berusia lima abad lebih, Canberra masih terbilang muda.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Tuan Rondahaim melawan Belanda di Simalungun hingga akhir hayatnya. Dia tidak pernah menyerah. Penyakit rajalah yang menghentikan perlawanannya.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
bottom of page