top of page

Akhir Tragis Menteri Surachman

Diidentifikasi loyalis Sukarno oleh Angkatan Darat, tokoh muda radikal PNI itu dituduh sebagai “orang simpanan” PKI di tubuh PNI. Cerita hidupnya berakhir di ujung peluru seorang kopral.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ir. Surachman. (koransulindo.com).

11 Sep 2020
3 menit membaca

Suasana hutan Tumpak Kepuh (terletak di kawasan Desa Sumberdadi, Blitar Selatan) masih remang-remang. Pagi baru saja tiba, ketika seorang lelaki hampir paruh baya melintasi jalan setapak hutan tersebut. Langkahnya yang terburu-buru dan cepat mengundang perhatian Peltu Jatimin dan beberapa anak buahnya  dari Kompi C Batalyon 521 Kodam Brawijaya.


Tanpa pikir panjang Jatimin berteriak memerintahkan lelaki itu untuk menghentikan langkahnya. Alih-alih dituruti, yang diperintah malah menjalankan langkah seribu. Tembakan peringatan pun dilontarkan tiga kali. Tetap tak digubris. Sebagai jalan terakhir, Kopral Dua Soepono terpaksa mengarahkan senapannya. Dor! Dor! Dor! Terjungkallah lelaki itu seketika.


Saat didekati, nampak pangkal pahanya nyaris putus. Namun lelaki itu masih hidup. Dalam kondisi sakratul maut, dia masih menyebut namanya sebagai “Gunawan”. Beberapa detik kemudian nyawanya pun lepas.  Ketika memeriksa tas hitam yang yang dibawanya, nampaklah sehelai sarung usang berwarna hijau. Kain itu membalut sebuah radio transistor kecil dan sebuah buku berjudul Kaum Buruh Sedunia Bersatulah! karya pemimpin komunis Tiongkok, Mao Zedong.


Dua hari kemudian yakni pada 17 Juli 1968, Wakil Komandan Satuan Tugas Operasi Trisula (operasi khusus memburu sisa-sisa anggota PKI di wilayah Blitar Selatan) Letnan Kolonel Sasmito membuat pengumuman yang mengejutkan: lelaki itu ternyata adalah Ir. Surachman, Menteri Irigasi Kabinet Dwikora II sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Nasional Indonesia (PNI) yang sejak Februari 1966 menjadi buronan karena dituduh sebagai anggota PKI. Demikian pernyataan Sasmito dalam buku Operasi Trisula Kodam VIII Brawijaya karya Semdam VIII Brawijaya.


Hampir setahun kemudian, peran politik Surachman sebagai “orang PKI yang diselusupkan” ke tubuh PNI dikuatkan oleh Kusnun alias Abdullah, anggota verfikasi CC PKI urusan Kalimantan. Dalam sidang hari ke-4 pengadilan subversi terhadap terdakwa Sardjono dan Florentinus Suharto pada 30 Mei 1969, Kusnun menyebut  bahwa Ir. Surachman (PNI) dan Karim DP merupakan para infiltran PKI.


Tetapi ketika ditanya tentang bukti administratif mengenai keberadaan para anggota PKI yang berada di partai-partai lain itu, Kusnun menjawab soal tersebut sulit dihadirkan di pengadilan.


“Karena untuk kepentingan security, maka bukti-bukti itu biasanya dimusnahkan,” kata Kusnun seperti dikutip oleh Abadi, 31 Mei 1969.


Pendapat Surachman sebagai orang komunis yang menyelundup di tubuh PNI semakin kuat ketika Profesor Soenarjo S.H (salah seorang pendiri PNI) menyebut dalam bukunya Banteng Segitiga,  Surachman sebagai anggota PNI yang lebih pandai mengekor PKI. Namun benarkah semua tuduhan itu?


Satya Graha, mantan wakil pemimpin redaksi Suluh Indonesia (koran milik PNI), menyatakan ketidakpercayaannya terhadap tuduhan itu. Sebagai seorang yang pernah mengenal insinyur pertanian lulusan UGM itu (1961), dia tidak yakin bahwa tokoh muda PNI tersebut sebagai orang PKI.


“Saya kira karena dia loyalis Bung Karno yang sangat radikal, lantas musuh-musuh politik Bung Karno mem-PKI-kan-nya setelah Peristiwa Gestok (Gerakan Satu Oktober),” ungkap Satya.


Keyakinan Satya Graha berkelindan dengan pendapat ahli sejarah politik Indonesia J. Eliseo Rocamora. Dalam bukunya, Nasionalisme Mencari Ideologi: Bangkit dan Runtuhnya PNI 1946-1965, Rocamora menyebut tuduhan itu tidak memiliki dasar sama sekali.


“Tulisan-tulisan panjangnya di koran PNI Suluh Indonesia tidak menyingkapkan sedikit pun gaya penulisan atau pemikiran PKI,” ungkapnya.


Jikalau pendiriannya terlihat lebih cenderung kepada hal-hal yang dikeluarkan oleh PKI (soal pembentukan Angkatan Kelima misalnya) dan sikap-sikapnya terkesan mendua terhadap insiden-insiden aksi sepihak yang dilakukan oleh banyak kader PKI, itu bisa dimaklumi. Sebagai seorang loyalis Sukarno, Surachman tentunya akan mengacu kepada sikap junjungannya itu yang menurut Rocamora sikapnya terhadap kedua isu tersebut juga mendua.


Rocamora pun bisa memahami jika di tengah “ketidakpastian” dan aksi Letnan Jenderal Soeharto menangkapi menteri-menteri-nya Sukarno pasca Gerakan 30 September 1965, Surachman jadi berpaling kepada musuh Soeharto yakni PKI.


Ketika sisa-sisa PKI melancarkan aksi gerilya di Blitar Selatan, Surachman membuat keputusan cepat untuk bergabung dengan para pemberontak. Terlebih baginya Malang Selatan dan Blitar Selatan adalah dua tempat yang tidak asing,  mengingat sebagai anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) pada era Perang Kemerdekaan (1946-1949), dia pernah bergerilya melawan Belanda di wilayah tersebut.


Namun upaya cari selamat itu ternyata tak berbanding lurus dengan suratan takdirnya. Gegara tembakan seorang kopral, pelariannya itu malah mempercepat kematiannya. Maka berakhirlah hidup sang menteri dengan membawa sejumlah misteri yang tak pernah terjawab pasti hingga kini.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Kasus perdagangan anak di daerah transmigrasi Rawa Makmur, Kalimantan Timur ungkap kemiskinan ekstrem yang menjerat kehidupan para transmigran. Praktik korupsi aparat disinyalir biang keladinya.
bg-gray.jpg
Panglima tempur yang memadamkan gejolak di berbagai daerah. Menggagas banyak hal penting setelah aktif lagi di Angkatan Darat.
bg-gray.jpg
Sebagai gubernur militer, Gatot Soebroto berperan dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Dia disebut turut bertanggung jawab atas eksekusi mati Amir Sjarifoeddin cs.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi kepala polisi wilayah Banyumas pada awal kemerdekaan. Dekat dengan anak buah, Gatot berhasil memimpin pasukan dalam pertempuran Ambarawa.
Tradisi lama untuk menyambut musim semi agar mendapatkan kemakmuran dan rezeki di tahun baru.
Tradisi lama untuk menyambut musim semi agar mendapatkan kemakmuran dan rezeki di tahun baru.
Muasal Copa América beriringan dengan sejarah revolusi Argentina. Sudah tiga dekade gagal bersatu.
Muasal Copa América beriringan dengan sejarah revolusi Argentina. Sudah tiga dekade gagal bersatu.
Sejak awal diselenggarakan, pesta rakyat tahunan ini tetap mempertahankan fondasi utamanya.
Sejak awal diselenggarakan, pesta rakyat tahunan ini tetap mempertahankan fondasi utamanya.
Cita-cita revolusi kemerdekaan Indonesia tak untuk memperlebar jurang orang kaya dan miskin dan mengabaikan hak-hak minoritas.
Cita-cita revolusi kemerdekaan Indonesia tak untuk memperlebar jurang orang kaya dan miskin dan mengabaikan hak-hak minoritas.
Di balik pameran karya seni ada proses panjang dalam mempersiapkannya, mulai dari memilih karya, mengurus peminjaman koleksi, hingga menjamin keamanannya.
Di balik pameran karya seni ada proses panjang dalam mempersiapkannya, mulai dari memilih karya, mengurus peminjaman koleksi, hingga menjamin keamanannya.
Willie, si singa berambut ala personel The Beatles, sang pelopor tradisi maskot.
Willie, si singa berambut ala personel The Beatles, sang pelopor tradisi maskot.
transparant.png
bottom of page