- 26 Sep 2014
- 2 menit membaca
Diperbarui: 30 Jul 2025
SURAT KABAR Tionghoa peranakan, Matahari, 1 Agustus 1934, memuat foto menggemparkan. Seorang pemuda keturunan Arab mengenakan beskap dan blangkon, menyerukan kepada kaumnya agar bersatu membantu perjuangan bangsa Indonesia. “Di mana seseorang dilahirkan, di situlah tanah airnya,” ujar pemuda yang bernama Abdul Rahman Baswedan, yang lahir pada 11 September 1908. Dia adalah sosok yang lengkap: wartawan, politikus, diplomat, bahkan budayawan.
Pengamat politik, Fachry Ali, mengatakan bahwa pada 1934 saat Indonesia masih sebagai konsep, AR Baswedan berani menyatakan dirinya dan kaumnya bertanahair Indonesia. Dalam Konferensi Peranakan Arab pada Oktober 1934, dia tidak ragu mendeklarasikan Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab: tanahair peranakan Arab adalah Indonesia.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















