top of page

D.I. Pandjaitan Berkhotbah di Jerman

D.I. Pandjaitan menyampaikan firman Tuhan bagi jemaat di Jerman. Menyisipkan pendekatan budaya dan sejarah tentang siar agama Kristen di Tanah Batak.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kolonel D.I. Pandjaitan, atase militer Indonesia di Jerman, memenuhi undangan Pendeta De Kleine untuk berkhotbah dalam bahasa Jerman di Wuppertal. (Dok. keluarga D.I. Pandjaitan).

25 Des 2019
3 menit membaca

Diperbarui: 23 Apr

KETIKA menjabat Atase Militer (Atmil) Indonesia untuk Jerman, Kolonel Donald Isaac Pandjaitan punya pengalaman berkesan. Pendeta de Kleine, tokoh Gereja Protestan Jerman di Wuppertal-Barmen mengundangnya untuk memberikan ceramah. Dengan senang hati, Pandjaitan menerima undangan Pendeta de Kleine. Momentum itu berlangsung pada tahun 1960.  


“Mungkin maksudnya agar masyarakat Jerman mengetahui dan bangga, bahwa ada perwira TNI yang berasal dari Tanah Batak, tempat Mission Zending bertugas menyebarkan agama Kristen di sana sejak sebelum penjajahan,” kenang istri Pandjaitan, Marieke Pandjaitan br Tambunan dalam D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran.


Kesediaan Pandjaitan bukan tanpa alasan. Sedari kecil waktu tinggal di Tarutung, Pandjaitan dibesarkan dalam lingkungan sekolah Zending Batakmission yang didirikan misionaris Jerman, Inger Ludwig Nommensen. Uniknya, Pandjaitan diminta mengenakan seragam formal TNI sedangkan istrinya memakai kebaya sebagai perlambang kebudayaan Indonesia. Dan tentu saja, Pandjaitan menyampaikannya dalam bahasa Jerman. 

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page