- 1 Nov 2023
- 3 menit membaca
Diperbarui: 9 Jun
RUMAH dinas Kolonel Donald Isaac Pandjaitan sekali waktu kedatangan tamu seorang anak muda. Namanya Rudy, mahasiswa teknik penerbangan Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule Aachen yang berasal dari asal Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Rudy mengutarakan gagasan tentang perlunya Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) mengadakan Seminar Pembangunan. Pandjaitan menyambut baik gagasan tersebut. PPI Jerman Barat akhirnya menyelenggarakan Seminar Pembangunan pada Juli 1958, di Hamburg.
“Pendekatan beliau (Pandjaitan) kepada mahasiswa begitu berkesan, sehingga nasihat dan pembinaannya mempengaruhi karakter dan sikap para pemuda dan mahasiswa Indonesia yang dekat dengan beliau,” kenang Rudy dalam pengantar biografi D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran yang ditulis Marieke Pandjaitan br. Tambunan.
Rudy yang bernama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie itu kelak menjadi Menteri Riset dan Teknologi (1978-1998) kemudian Presiden RI ke-3 (1998—1999). Menurutnya, masalah pembangunan masa depan Indonesia bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, melainkan juga mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri. Persoalan itulah yang dikemukakannya pada 1957, sewaktu berkunjung ke rumah Pandjaitan di Robert Koch Strasse No. 24, Venusberg, Bonn.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















