top of page

D.I. Pandjaitan dan Aktivis Mahasiswa Indonesia di Jerman

Ketika atase militer menggalang kelompok mahasiswa. Mulai dari pembinaan politik hingga menjalankan operasi intelijen.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 1 Nov 2023
  • 4 menit membaca

Rumah dinas Kolonel Donald Isaac Pandjaitan sekali waktu kedatangan tamu seorang anak muda. Namanya Rudy, mahasiswa teknik penerbangan Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule Aachen yang berasal dari asal Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Rudy mengutarakan gagasan tentang perlunya Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) mengadakan Seminar Pembangunan. Pandjaitan menyambut baik gagasan tersebut. PPI Jerman Barat akhirnya menyelenggarakan Seminar Pembangunan pada Juli 1958, di Hamburg.


“Pendekatan beliau (Pandjaitan) kepada mahasiswa begitu berkesan, sehingga nasihat dan pembinaannya mempengaruhi karakter dan sikap para pemuda dan mahasiswa Indonesia yang dekat dengan beliau,” kenang Rudy dalam pengantar biografi D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran yang ditulis Marieke Pandjaitan br. Tambunan.


Rudy yang bernama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie itu kelak menjadi Menteri Riset dan Teknologi (1978-1998) kemudian Presiden RI ke-3 (1998—1999). Menurutnya, masalah pembangunan masa depan Indonesia bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, melainkan juga mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri. Persoalan itulah yang dikemukakannya pada 1957, sewaktu berkunjung ke rumah Pandjaitan di Robert Koch Strasse No. 24, Venusberg, Bonn.



Meski Pandjaitan menjabat atase militer, kediamannya kerap kali disambangi para mahasiswa Indonesia yang studi di Jerman. Kebanyakan mereka datang untuk berdiskusi dan bertukar pikiran. Tidak hanya menerima para mahasiswa Indonesia, Pandjaitan juga secara aktif mengabarkan situasi politik yang terjadi di Indonesia.


“Kami di PPI mendapat informasi tentang keadaan politik di Indonesia. Melalui atase militer di Jerman Barat, Kolonel DI Pandjaitan, kami dipertemukan dengan sejumlah perwira militer, termasuk dari kalangan intelijen,” tutur Midian Sirait dalam catatan 80 tahun Revitalisasi Pancasila: Catatan-catatan Tentang Bangsa yang Terus Menerus Menanti Perwujudan Keadilan Sosial.


Midian Sirait merupakan ketua PPI di Jerman Barat. Pada 1958, dia menyelesaikan studi Ilmu Farmasi di Universitas Hamburg dan melanjutkan disertasinya di Freie Universitat Berlin. Suatu ketika di tahun 1960-an, Midian dikenalkan dengan Kolonel Sukendro oleh Pandjaitan. Soekendro mengungkapkan bagaimana PNI selalu berusaha menggerogoti kekuatan tentara sehingga membentuk sikap apriori tentara terhadap partai itu. Selain Soekendro, Asisten I/Intelijen Markas Besar AD Brigjen Ali Magenda juga pernah berkunjung ke Jerman. Magenda membeberkan tentang jaring-jaring agen intelijen Barat di satu pihak maupun Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet berkeliaran di Indonesia.



“Para perwira yang datang itu, memberikan gambaran situasi tanah air cukup lengkap dan mendalam. Salah satu yang mereka ungkapkan adalah bahwa sebenarnya banyak perwira, setidaknya di kalangan intelijen, tidak setuju Manipol Usdek. Tetapi persoalannya, Jenderal AH Nasution, setidaknya seperti yang secara formal dinyatakannya di muka khalayak, setuju terhadap Manipol Usdek itu. Para perwira ini juga sudah melihat bahwa arah dari Manipol ini pada akhirnya akan memberikan keuntungan kepada komunis,” sambung Midian.  


Soal keberadaan Soekendro di Jerman turut dibenarkan istri Pandjaitan, Marieke Pandjaitan br. Tambunan. Soekendro bersama istrinya bahkan menginap di kediaman Pandjaitan. Selain sebagai intel, menurut Marieke, Sukendro adalah perwira anti-PKI yang dicurigai memihak kelompok PRRI. Itulah sebabnya Presiden Sukarno menonjobkan dan menyuruh Soekendro istirahat di luar negeri.


Seperti Soekendro, nama Pandjaitan kemudian juga dicurigai pemerintah Jakarta. Pandjaitan dituding mempengaruhi mahasiswa Indonesia di Jerman untuk anti kepada pemerintah. Dalam Kongres PPI se-Eropa di Praha pada Agustus 1961, PPI Jerman menerbitkan makalah kontroversial berjudul “Manipol dan Nasakom sebagai Strategi PKI”. Kongres menjadi ricuh. PPI di negara-negara sosialis pada umumnya mendukung Manipol. Presiden Sukarno dikabarkan begitu marah hingga memanggil Pandjaitan menghadapnya ke Beograd.  



Tapi, Pandjaitan tidak jera membina mahasiswa Indonesia di Jerman. Mereka rupanya dapat diandalkan untuk mendukung kepentingan nasional saat itu, yaitu Irian Barat (Papua). Para atase militer di berbagai negara Eropa yang lain juga berjuang secara rahasia untuk hal yang sama. Operasi ini oleh Jenderal Nasution dinamakan “Operasi C” atau diplomasi senyap TNI.


Pandjaitan menggalang PPI Jerman Barat untuk mempengaruhi mahasiswa-mahasiswa Papua yang disekolahkan di Belanda. Dalam operasi yang dirancang Pandjaitan, mahasiswa-mahasiswa Papua itu diundang datang ke Jerman Barat. Kedatangan mereka dipersiapkan melalui Prancis dan Swiss. Kalau langsung dari Belanda ke Jerman, besar kemungkinan tercium intel Belanda. Melalui koordinasi Midian Sirait, tugas tersebut diberikan kepada Frans Mariakasih, Basuki Gunawan dan lain-lain.


Mahasiswa Papua itu akhirnya masuk ke Jerman secara bergelombang. Selama di Jerman, mereka diberi pakaian khusus sebagai kenang-kenangan. Di antara para mahasiswa Papua itu, dua orang yang paling berpengaruh adalah Frits Kirihio dan Rumanium.



“Keduanya mengadakan konferensi pers dan wawancara dalam siaran televisi, dan secara tegas mengatakan bahwa Irian Barat adalah wilayah Republik Indonesia,” terang Marieke.


Frits Kirihio bahkan dikirim dari Jerman ke Indonesia untuk menemui Presiden Sukarno. Pandjaitan membekali Frits dengan paspor Indonesia. Di Jakarta, Frits diterima Jenderal Nasution kemudian dibawa ke Istana Bogor menemui Presiden Sukarno. Pada 2 Januari 1962, Sukarno memperkenalkan Frits kepada rakyat dalam rapat akbar di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Frits kemudian berperan dalam penyatuan Papua ke Republik Indonesia.


Pandjaitan sendiri merampungkan dinas sebagai atase militer pada 1962, setelah enam tahun lamanya bertugas. Dia meninggalkan Bonn untuk kembali ke Jakarta, tepatnya Markas Besar AD. Kepala Staf Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani menunjuknya sebagai Asisten I/Intelijen. Namun, setelah diminta melapor kepada Presiden Sukarno, Pandjaitan akhirnya menempati posisi Asisten IV/Logistik. Jabatan itu diemban Pandjaitan sampai akhirnya hayatnya.


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
bg-gray.jpg
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
bg-gray.jpg
Kala ditugaskan ke Pontianak, Rudy Blatt dapat informasi pembantaian rakyat oleh Jepang. Berinisiatif mencari para penjahat perang Jepang itu.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
transparant.png
bottom of page