top of page

Digulung dan Disingkirkan

Raden Saleh, pelukis abad 19, adalah salah satu simbul penting sejarah bersama Indonesia Belanda. Tapi ada tanda-tanda Belanda ingin menyingkirkannya, seperti Multatuli yang sekarang juga mulai diabaikan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Lukisan berjudul Boschbrand (kebakaran hutan) karya Raden Saleh.

4 Feb 2017
13 menit membaca

SIAPAKAH sebenarnya Raden Saleh, perupa yang karyanya berjudul Boschbrand (kebakaran hutan) sempat menimbulkan keheranan karena telah dijual secara tidak menguntungkan oleh para cucu Ratu Juliana? Aneh juga kalau pelukis yang terkenal dan banyak dipuji di pentas internasional dengan karya-karya yang sekarang bernilai sampai jutaan dolar, justru bukan nama yang dikenal pada setiap rumah tangga Belanda. Kembali meningkatnya penghargaan terhadap karya-karya Raden Saleh terjadi berkat jasa pengamat seni Prancis dan terutama Jerman yang begitu fanatik memujanya. Mereka berhasil mengorbitkan Raden Saleh pada pentas internasional sebagai salah satu seniman besar abad 19, tanpa secuilpun keterlibatan Belanda. Itu jelas janggal.


Masalahnya, Raden Saleh berasal dari bumi Hindia Belanda dan mendapat penghargaan sebagai perupa serta dukungan keuangan tiga raja Belanda, masing-masing Willem I, Willem II dan Willem III. Yang kedua memberikan penghargaan (dalam Orde Eikenkroon) dan yang terakhir bahkan mengangkatnya menjadi Schilder des Konings, pelukis raja/istana. Karena penghormatan ini secara teratur sang pelukis menghadiahkan karya-karyanya kepada keluarga kerajaan. Kemudian karya-karya itu dengan bangga dipinjamkan oleh para sri baginda pada pelbagai museum dan pameran di luar negeri. Apa yang terjadi dengan kebanggaan itu dan apa pula yang terjadi dengan Raden Saleh sendiri?


Lahir sekitar 1810 dalam keluarga bangsawan Jawa Arab yang suka memberontak, dia ditemukan secara tidak sengaja pada usia muda oleh pelukis Belgia A. Payen. Seniman ini merupakan anggota sekelompok penggambar dan perupa yang bertugas melukis flora dan fauna Jawa, atas pesanan penguasa kolonial. Waktu itu Raden Saleh Sarief Bustaman sedang indekos pada residen Robert van der Capellen, di sana bertemu Payen dan karena bakatnya diizinkan ikut Payen sebagai muridnya. Gubernur Jenderal Godert van der Capellen —dijuluki raja muda Hindia dan saudara Robert— dibuat kagum oleh bakat seni Raden Saleh. Dia turun tangan sendiri supaya calon perupa ini bisa memperdalam bakat seninya di Eropa, tatkala mencapai 18 tahun. Godert van der Capellen yang berperangai menarik sangat terpesona pada Hindia, sehingga tatkala kembali ke Belanda ia membawa seorang gadis Papua kecil sebagai ‘kenang-kenangan wilayah Timur’.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Dibuang ke Belanda tak menghentikan pergerakan Semaoen. Bekerjasama dengan kelompok sosialis dan komunis serta para pelaut Indonesia. Namun, keputusan membuat kesepakatan dengan Perhimpunan Indonesia mengakibatkan pemecatan.
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
transparant.png
bottom of page