top of page

Dua Satu Tiga Puluh

Kebanggaan nasional tidak murah harganya. Pengembangan pesawat jet buatan anak negeri perlu kucuran dana gotong royong.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi pesawat buatan PT DI. (Betaria Sarulina/Historia.ID).

15 Des 2022
19 menit membaca

Diperbarui: 26 Feb

BEBERAPA rak buku besar merapat di dua bidang dinding ruang kerja yang cukup luas di sebuah bangunan kayu berlantai. Dua meja besar membentuk “L” menyesaki salah satu sudut sikunya. Dari office seat-nya itu, Rahardi Ramelan bisa memandang lurus ke sudut ruangan lainnya ke arah sebuah miniatur pesawat komersial bermesin jet sekira 60 cm dan berskala 1:100.


Miniatur pesawat itu mendongak ke atas dengan ditopang sebuah stand mic berkaki tiga. Livery atau corak miniatur pesawat dominan putih polos dengan lima gradasi warna biru di bagian bawah perutnya. Di dua sisi badan, dekat jendela kokpit, tertera tulisan “DSTP”. Sementara pada sirip ekornya yang tertera “N2130”.


“Kalau lihat modelnya, ini bukti bahwa saya pernah jadi direkturnya, direktur DSTP,” celetuk Rahardi diiringi tawa renyah. Rahardi waktu itu menjabat wakil kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
transparant.png
bottom of page