- 23 Apr 2013
- 3 menit membaca
Diperbarui: 3 hari yang lalu
DALAM surat-suratnya, RA Kartini meratapi buta huruf di kalangan perempuan karena tidak tersedianya peluang pendidikan bagi mereka. “Kami, gadis-gadis Jawa, tidak boleh memiliki cita-cita, karena kami hanya boleh mempunyai satu impian, dan itu adalah dipaksa menikah hari ini atau esok dengan pria yang dianggap patut oleh orangtua kami,” tulis Kartini dengan getir kepada Rosa Manuela Abendanon-Mandri, 8/9 Agustus 1901.
Setelah Kartini meninggal pada 1904, perjuangannya untuk menyediakan pendidikan bagi perempuan dilanjutkan teman-teman Belandanya.
Surat-surat Kartini antara 1899-1904 kepada teman-teman Belandanya, terutama Rosa Manuela Abendanon-Mandri, istri mantan direktur pendidikan, agama, dan industri Hindia Belanda Mr. Jacques Henry Abendanon, disunting secara selektif dan diterbitkan pada 1911 di Belanda dengan judul Door duisternis tot licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Buku tersebut meraih sukses besar di kalangan publik Belanda, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Indonesia, Melayu, Sunda, dan Jawa.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















