- 1 Sep 2023
- 5 menit membaca
Diperbarui: 29 Jun
RERUNTUHAN bangunan masih berserakan di berbagai sudut kota pelabuhan Yokohama, Prefektur Kanagawa, Jepang pada 2 September 1923 malam. Sejumlah kebakaran yang melanda juga belum lama padam. Tetapi bukannya memberikan bantuan bagi mereka yang terdampak gempa Kantō sehari sebelumnya, para aparat Kepolisian Kanagawa justru memprovokasi warga untuk “menghalalkan darah” minoritas Korea.
Sehari sebelumnya, 1 September 1923 siang, gempa Kantō menghantam kota-kota pesisir timur Jepang. Gempa tektonik berkekuatan 7,9 magnitudo yang berpusat di kedalaman 23 kilometer Pulau Izu Ōshima di Teluk Sagami itu terjadi akibat benturan Lempeng Filipina dan Lempeng Okhotsk.
Gempa yang berlangsung selama 4 menit 48 detik itu meluluhlantakkan Tokyo, Yokohama, hingga kota-kota lain di Prefektur Chiba, Prefektur Shizuoka, dan Prefektur Kamakura, hingga menyebabkan serangkaian kebakaran besar. Tak berhenti sampai di situ, terjangan tsunami setinggi 10 meter yang mengikutinya juga menghantam pesisir Teluk Sagami hingga Semenanjung Bōsō dan Izu.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















