TRAGEDI 11 September 2001 (9/11) –serangan ke menara kembar World Trace Center (WTC) di New York dan Pentagon di Washington– sudah 25 tahun berlalu, namun Pemerintah Kota New York baru merilis ratusan ribu arsip yang selama ini dilupakan. Walikota New York Zohran Mamdani sengaja merilisnya untuk menyingkap kebenaran.
Beberapa hari sebelum peringatan 25 tahun Peristiwa 9/11, Walikota Mamdani merilis 170 ribu halaman dokumen terkait tingkat bahaya kualitas udara yang beracun di sekitar ground zero Peristiwa 9/11. Tak lama setelah kejadian, otoritas kota saat itu menutupi fakta bahwa udara masih dalam level aman.Padahal, data internal mereka dan apa yang dialami para warga di sekitar ground zero berkata lain.
“Hal terkecil dari kota ini berutang kepada keluarga (korban), penyintas, dan penanggap pertama yang kehidupannya berubah oleh serangan 11 September adalah transparansi dan akuntabilitas. Itulah mengapa saya dengan bangga bahwa pemerintahan kami telah merilis portal arsip publik kota pertama yang didedikasikan untuk dampak 9/11 terkait lingkungan dan kesehatan. Sudah terlalu lama, para warga New York bertarung mendapatkan akses terhadap arsip-arsip yang semestinya tersedia bagi mereka sejak awal,” ujar Mamdani, di laman resmi pemerintah kota New York, 8 September 2026.
Pemerintah kota New York merilis arsip-arsip itu lewat situs resmi sept11documents.cityofnewyork.us. Portal itu diharapkan memudahkan para penyintas dan keluarga korban yang selama lebih dari dua dekade bertarung di jalur hukum demi tuntutan-tuntutan mereka ke pemerintah kota maupun pemerintah federal.
Serangan teror 9 /11 mengakibatkan 2.977 orang tewas. Namun jumlah sesungguhnya lebih banyak lagi yang meninggal akibat dampak racun dalam udara pasca-gedungnya runtuh, baik warga sekitar maupun para penanggap pertama seperti personel kepolisian, paramedis, hingga pemadam kebakaran (damkar).

Menutupi Fakta Udara Beracun
Pasca-Peristiwa 9/11, menara kembar WTC ambruk. Terlepas secara politik memicu kebencian terhadap para imigran dengan agama tertentu, satu hal yang ketika itu terlupakan adalah dampak kesehatan dan lingkungan. Runtuhnya menara kembar itu menyebarkan partikel-partikel beracun dari kepulan abu puing-puing bangunan ke udara dan saluran air.
Sehari pasca-kejadian, 12 September 2001, seorang ilmuwan pemerintah federal, dr. Edwin M. Kilbourne, sudah memberi peringatan lewat memo kepada Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, CDC, agar mencegah warga maupun para penanggap pertama buru-buru ke area yang terdampak serangan guna mencegah terekspos bahaya udara dari material-material beracun. Namun, pada H+2 walikota New York Rudolph ‘Rudy’ Giuliani justru menyatakan partikel-partikel kimia dan biologi yang ada di udara tidak akan mengganggu apalagi mengancam kesehatan.
“Pada 13 September Walikota New York Rudy Giuliani menyatakan bahwa ‘sejauh yang bisa kami katakan udaranya aman, terlepas dari adanya partikel-partikel kimia dan biologi.’ Pada 18 September, Christine Whitman, kepala Badan Perlindungan Lingkungan (EPA), menyatakan bahwa ia ‘dengan senang hati memastikan warga New York...bahwa udara mereka aman untuk dihirup dan airnya aman untuk diminum’,” ungkap William Bryant Logan dalam Air: The Restless Shaper of the World.
Masalahnya, New York adalah pusat keuangan dunia. Presiden AS George W. Bush pun mendesak Distrik Keuangan di New York sudah bisa kembali dibuka pada H+3 peristiwa. Padahal, faktanya data EPA maupun Departemen Perlindungan Lingkungan Kota New York berkata lain. Kualitas udaranya masih beracun, setidaknya sampai lima bulan pasca-peristiwa.
Penelitian lewat pengambilan sampel-sampel lain oleh beberapa badan lain juga menunjukkan bahaya itu dari puing-puing bangunan maupun pecahan-pecahan kaca. Di antaranya partikel-partikel selulosa, karsinogen racung asbestos, timbal hingga merkuri.
“Terdapat indikasi penyebaran asbestos di tempat-tempat dalam ruangan. Pada November dan Desember 2001, Badan Substansi Racun dan Penyakit ATSDR) dan Departemen Kesehatan dan Kebersihan New York menguji sampel-sampel udara dan endapan debu di 30 bangunan pemukiman di Lower Manhattan. Tidak ditemukan peningkatan level asbestos dalam sampel udara namun ditemukan dalam 18 persen sampel-sampel endapan debu. Asbestos yang terdapat dalam endapan debu masih bisa menyebar dan terhirup,” tulis Lloyd S. Dixon dan Rachel Stern dalam Compensation for Losses from the 9/11 Attacks.
Itu yang membahayakan karena terbilang kasat mata. Warga maupun para penanggap pertama menghirupnya dan di kemudian hari baru merasakan dampaknya.
Detektif kepolisian New York James Zadroga jadi korban pertamanya. Ia wafat pada 5 Januari 2006. Gerard Breton, pakar patologi yang mengotopsi jenazah Zadroga, menyatakan penyebab kematiannya terkait langsung dengan Peristiwa 9/11. Breton menemukan partikel-partikel asing di paru-paru Zadroga.
Hingga kini, diperkirakan ada lebih dari 4 ribu hingga 6 ribu korban lain yang kemudian juga meninggal akibat komplikasi paru-paru dan jantung. Ada pula yang karena kanker. Ribuan tuntutan kemudian muncul dari para penyintas maupun keluarga korban kepada pemerintah kota maupun federal.
Pada 2010, parlemen dan Presiden AS Barack Obama merespons dengan mengesahkan Undang-Undang Kesehatan dan Kompensasi James Zadroga 9/11. Beleid untuk mengalirkan anggaran guna program kesehatan untuk perawatan medis bagi penyintas dan para penanggap pertama yang mengalami komplikasi kesehatan yang terkait Peristiwa 9/11.













Komentar