top of page

Hukuman Sultan Agung bagi Panglima yang Gagal

Panglima perang Mataram lolos dari hukuman mati. Putrinya yang cantik berhasil mengetuk hati Sultan Agung.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Aryo Bayu berperan dalam film "Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta" (2018) garapan sutradara Hanung Bramantyo. (imdb.com).

  • 14 Apr 2020
  • 3 menit membaca

Diperbarui: 27 Jul

PANGLIMA pasukan Mataram yang baru, Tumenggung Sura Agul-Agul tiba di Batavia untuk menggantikan Tumenggung Baureksa yang mati bersama dua putranya dalam pertempuran pada 21 Oktober 1628.


Tumenggung Sura Agul-Agul didampingi dua bersaudara panglima lapangan, Kiai Adipati Mandurareja dan Kiai Adipati Upa Santa. Mereka datang dengan harapan besar Batavia telah ditaklukan sehingga tinggal mengumpulkan harta rampasan. Mereka tercengang melihat keadaan yang sebenarnya.


"Apa yang akan saya bawa untuk raja saya, raja Mataram," kata Mandurareja.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
bg-gray.jpg
Captain Drury, a veteran of the Java Invasion, is the only British person buried in the old Dutch cemetery at the Bogor Botanical Gardens.
transparant.png
bottom of page