- 54 menit yang lalu
- 5 menit membaca
KEMATIAN sudah bukan lagi barang baru bagi Sersan Mula (diperankan Aedy Moward). Ia sudah terbiasa dengan alam revolusi kemerdekaan. Maka saat mengaso di sebuah rumah berbilik bambu, ia berbicara santai pada rekannya, Letnan Leo (Awaloedin Djamin). Dia tak begitu merisaukan kematian kepala staf batalyonnya, Kapten Adam (R. Sutjipto).
“Sudah mampus?” celetuk Mula enteng, kepada Leo.
“Bapakmu mampus?” jawab Leo.
“Hey, ajudan kita ini bisa marah juga?” tutur Mula lagi.
Leo lantas memarkirkan bokongnya di kursi bambu. Lama-lama, Leo muak mendengar sejawatnya itu mengeluh melulu akibat long march mereka dari Yogyakarta ke Jawa Barat tak hanya menghindari kejaran pasukan Belanda namun juga harus meladeni kombatan-kombatan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang saudara sebangsa sendiri.
“Ah, rokok yang enak itu satu dulu ah,” pinta Mula yang sekadar menggulung-gulung kertas koran untuk dijadikan pembungkus tembakau.
“Payah, payah. Digasak Belanda, dikejar-kejar bangsa sendiri. Ini kan kertas koran, nih. Eh nyo, kalau begini naga-naganya Republik alamat gulung tikar. Rokok saja kertas koran, baju bau enggak ditukar-tukar. Tentara disuruh disiplin. Disiplin, disiplin melulu,” keluh Mula.
“Kadang-kadang aku eneg mendengar omongmu. Mengapa tidak memihak saja pada Belanda? Ada captain, baju NICA, ada keju,” sahut Leo kesal.
“Jadi usulmu itu? Kalau begitu, baik. Kupikirkan nanti. Kau pikir aku senang diburu-buru macam babi hutan. Keadaan macam begini, macam-macam aja mau merdeka,” kata Mula sambil melekatkan kertas rokok dengan liurnya dan pergi berlalu.
Mula pasti bukan pengkhianat. Ia sekadar mencurahkan keluh kesah yang manusiawi. Sisi itulah yang ditampilkan sutradara Usmar Ismail pada karakter-karakter berbeda yang dimainkan para aktor di film Darah dan Doa (1950). Para prajurit di tengah revolusi toh juga manusia biasa dan Usmar menginginkan karakter-karakter humanis yang berbeda dari setiap para pemainnya.
Hebatnya, banyak aktornya yang berhasil membawakan sisi-sisi manusiawi itu. Termasuk Aedy Moward si pemeran karakter Sersan Mula. Padahal, sebagaimana banyak cast lain Aedy menjalani debut pertamanya di layar perak di film yang hari pertama syutingnya itu dijadikan Hari Film Nasional.

Aktor Watak dari Generasi Pertama
Lahir di Kutaraja (kini Banda Aceh) pada 29 November 1929, Aedy punya nama lahir Edy Muwardi Abdul Aziz bin Abbid. Menurut Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978, Aedy selepas masa revolusi kemerdekaan merantau ke Jakarta untuk kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI).
Sebagaimana Del Juzar dan Awaloedin Djamin, ia mahasiswa FHUI yang juga menjajal pengalaman ketika Usmar Ismail membuka seleksi untuk film Darah dan Doa. Baik Del Juzar, Awaloedin, maupun Edy, semua lolos jadi barisan “generasi pertama” di bawah naungan Perfini.
“Aedi adalah angkatan I yang mengisi awal produksi Perfini. Ia bersama dua rekan lainnya – Del Juzar dan Awaludin, adalah angkatan pertama itu yang didampingi oleh satu pemain wanita, Lili Handuran. Saat itu mereka adalah mahasiswa yang pertama-tama memberikan dukungan dan sekaligus menyatakan diri bersedia mengisi film-film Perfini, memperkuat barisan Perfini,” tulis majalah Minggu Pagi edisi 3 April 1966 lewat artikel “Hadji Aedi Moward: Bintang ‘Berat’, Tjemerlang dalam Tiap Pembawaan”.
Dalam Darah dan Doa, Aedy mendapat peran sebagai Sersan Mula. Karakter prajurit Divisi Siliwangi itu digambarkan lugas dengan senjatanya dan bicaranya ceplas-ceplos.
Aedy kembali tampil bareng Del Juzar di dua film Perfini lain, Enam Djam di Jogja (1951), dan Kafedo (1953). Jika Del Juzar kemudian memilih pensiun dini untuk jadi pengacara dan Awaloedin Djamin memilih karier di kepolisian, Aedy tetap di perfilman.
Aedy bekerja keras untuk membagi waktu antara kuliah dan film. Belum lagi setelah lulus, ia sempat bekerja di kantor Bea dan Cukai. Namun akhirnya ia membulatkan tekad untuk memilih film sebagai jalan hidup.
“Aedi Moward pertama-tama telah dicegah oleh keluarganya, pun dalam saat-saat kuliahnya berdampingan dengan pembuatan film – secara ultimatum guru besarnya meminta Aedi menetap: film atau bangku kuliah. Film belum habis tentangan dan tantangan itu tatkala ia menjabat sebagai Perwira Imigrasi. Sedang dua rekannya, Del Juzar kini S.H. dan Awaludin (kini Kombespol drs yang baru saja diangkat sebagai Menteri Tenaga Kerja) lebih dulu pamit dari perfilman. Tinggalnya Aedy justru berarti untuk mempertahankan mata rantai satu angkatan dengan angkatan berikutnya,” imbuh artikel tersebut.
Hingga akhir hayatnya, Aedy sudah membintangi lebih dari 70 judul film. Termasuk Tauhid (1964), film pertama yang bertemakan dakwah dan ibadah haji. Film itu diprakarsai Menteri Agama KH. Saifuddin Zuhri dengan bekerjasama dengan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi). Filmnya digarap sutradara Asrul Sani didampingi Misbach Yusa Biran, dan syutingnya pun dihelat di Makkah –membuat para kru dan cast-nya sekalian menunaikan ibadah haji. Aedy memerankan karakter petugas kesehatan rombongan haji, dr. Halim.
“Di samping membantu Asrul dalam menangani film cerita berjudul Tauhid, saya juga membuat sendiri film instruksional manasik haji, Panggilan Nabi Ibrahim. Yang dapat kamar juga adalah pemain utama wanita, Nurbani Yusuf, bersama ibunya; Rd. Mochtar dan isteri, lalu sutradara Asrul Sani. Pemain pria Ismed M. Noor, Aedy Moward, dan M.E. Zainuddin tidur di palka bersama kru lain,” kenang Misbach dalam Kenang-kenangan Orang Bandel.
Karakter dokter Halim di Tauhid digambarkan mulanya skeptis tentang pentingnya rukun Islam yang ke-5 itu. Di film itu ia beradu akting dengan Ismed M. Noor sebagai pilot pesawat rombongan haji, serta Nurbani Jusuf dan ME Zainuddin yang memerankan jamaah haji dengan latar belakang berbeda. Plotnya simpel namun mampu dimainkan dengan apik oleh Aedy hingga membuat kesan tersendiri bagi para penontonnya, usai ditayangkan pada 4 Februari 1966.
“Dokter (Halim, red.) yang berangkat sebagai petugas kesehatan itu pun punya pengalaman pahit di masa kecilnya. Ibunya sakit keras, dia berdoa, tapi ibunya meninggal juga. Pengalaman mayor-penerbang bertentangan dengan itu, rekan-rekannya meninggal dalam kecelakaan pesawat terbang, dia sendiri selamat. Pada akhirnya dokter mau juga ikut melaksanakan rukun Islam yang ke-5,” kata artikel mingguan Minggu Pagi edisi 20 Februari 1966, “Dengan 300 Perak ke Mekkah Melalui ‘TAUCHID’, Film Pertama (Didunia) tentang Mekah & Ibadah Hadji”.

Seiring perjalanan karier, Aedy membuktikan diri sebagai aktor watak lintas genre. Dari film drama, film bertema dakwah, hingga komedi pun ia bintangi. Antara lain Ateng Raja Penyamun (1974), Ateng Mata Keranjang (1975), atau “trilogi” komedi: Inem Pelayan Sexy (1976), Inem Pelayan Sexy II serta Inem Pelayan Sexy III yang keduanya diproduksi 1977.
Film yang jadi milestone Aedy berada di jajaran legenda hidup adalah film Bulan di Atas Kuburan (1973). Filmnya juga disutradarai Asrul Sani dan mendapat dua Piala Citra di Festival Film Indonesia 1975 dari kategori Film Aktuil Masyarakat Terbaik dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik atas nama Aedy Moward.
“Aedy Moward, bintang lama yang muncul dengan dialek Medan dalam film Bulan di Atas Kuburan disepakati oleh dewan juri menjadi pemain pendukung pria terbaik. Pilihan ini tepat. Aedy jarang dapat peran yang pas itu, ketemu batunya dalam film tersebut. Dan kesempatan yang diberikan sutradara Asrul Sani, tidak disia-siakan oleh Aedy,” tulis Tempo, 10 Mei 1975.
Sebelum wafat di usia 50 tahun, Aedy sempat menuntaskan empat film produksi 1979: Cinta Segitiga, Kutukan Nyai Roro Kidul, Di Ujung Malam, dan Rojali dan Zuleha. Aedy tutup usia secara mendadak pada 6 November 1980 dan kemudian dikebumikan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Pusat.



















Komentar