top of page

Jejak Langkah Aedy Moward dalam Perfilman

Mahasiswa hukum yang menemukan jalannya di perfilman. Jadi mata rantai antar-generasi pelakon seni peran.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Edy Muwardi Abdul Aziz bin Abbid alias Aedy Moward di film "Darah dan Doa" (Tangkapan Layar Youtube Balai Pelestarian Kebudayaan Bali)

26 Agu
5 menit membaca

KEMATIAN sudah bukan lagi barang baru bagi Sersan Mula (diperankan Aedy Moward). Ia sudah terbiasa dengan alam revolusi kemerdekaan. Maka saat mengaso di sebuah rumah berbilik bambu, ia berbicara santai pada rekannya, Letnan Leo (Awaloedin Djamin). Dia tak begitu merisaukan kematian kepala staf batalyonnya, Kapten Adam (R. Sutjipto).


“Sudah mampus?” celetuk Mula enteng, kepada Leo.


“Bapakmu mampus?” jawab Leo.


“Hey, ajudan kita ini bisa marah juga?” tutur Mula lagi.


Leo lantas memarkirkan bokongnya di kursi bambu. Lama-lama, Leo muak mendengar sejawatnya itu mengeluh melulu akibat long march mereka dari Yogyakarta ke Jawa Barat tak hanya menghindari kejaran pasukan Belanda namun juga harus meladeni kombatan-kombatan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang saudara sebangsa sendiri.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page