- 10 Okt 2021
- 3 menit membaca
Diperbarui: 30 Mei
5 Oktober 1965 menjadi hari ulang tahun TNI paling kelabu sepanjang sejarah. Hari itu, TNI Angkatan Darat harus kehilangan enam perwira tinggi dan satu perwira menengah yang terbunuh dalam peristiwa G30S. Jenazah mereka ditemukan sehari sebelumnya dalam sumur tua yang berada di Desa Lubang Buaya, Jakarta Timur. Dengan penuh haru, Jenderal Abdul Haris Nasution melepas jenazah koleganya menuju Taman Makam Pahlawan Kalibata.
“Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Kita semua difitnah dan Saudara-saudara telah dibunuh. Kita diperlakukan demikian. Tapi, jangan kita dendam hati. Iman kepada Allah akan tetap meneguhkan kita,” kata Nasution, saat itu menjabat Menteri Pertahanan merangkap Kepala Staf Angkatan Bersenjata, dalam upacara pemakaman di Mabes Angkatan Darat.
Mereka yang dirujuk Nasution adalah mendiang Letjen Ahmad Yani, Mayjen Soeprapto, Mayjen M.T. Harjono, Mayjen S. Parman, Brigjen Donald Izacus Pandjaitan, Brigjen Soetoyo Siswomihardjo, dan ajudannya Letnan Pierre Tendean. Selain rekan-rekan tersebut, Nasution juga kehilangan anak bungsunya, Ade Irma Nasution, yang tertembak pada malam penculikan Gerakan 30 September. Butuh waktu lama bagi Nasution untuk memulihkan diri dari trauma setelah peristiwa kelam itu.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















