- 1 Feb 2022
- 8 menit membaca
Diperbarui: 9 jam yang lalu
MUSIM dingin di Nanking (kadang ditulis Nanjing) pada akhir Januari 1938 masih begitu menusuk. John Rabe, lelaki plontos berkacamata dan menyandang armband Swastika Partai Nazi di lengan mantelnya, berjalan dengan hati-hati ditemani asistennya, Han. Mereka hendak mengecek sekitar 100 pengungsi di dekat pekarangan belakang rumahnya.
Kamp pengungsi itu berubah jadi rawa-rawa lagi. Sebelumnya terjadi badai salju selama dua hari. Hari Minggu, 30 Januari 1938, itu saljunya mencair. Terlepas dari keadaan yang memprihatinkan, mayoritas pengungsi itu memajang senyum saat ditemui Rabe. Maklum, sebelumnya pada perayaan tahun baru 1938, Rabe menyumbangkan 100 dolar Amerika untuk diberikan masing-masing satu dolar ke 100 pengungsi itu.
“Sungguh kemalangan yang luar biasa, dan besok adalah Tahun Baru China (Imlek), hari raya terbesar bagi orang-orang China yang malang! Komite memberikan kamp saya sebuah hadiah tambahan lima dolar untuk membeli rempah-rempah untuk membumbui nasi tahun baru mereka – lima dolar untuk 600 orang! Sayangnya kami tak bisa memberikan lebih dari itu walau uangnya mereka terima dengan rasa syukur. Semua orang juga menerima secangkir beras tambahan dari jatah harian dua cangkir,” tulis Rabe dalam catatan hariannya, Der Gute Deutsche von Nanking (terj. The Good German of Nanking).
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















