- 6 Jun 2023
- 7 menit membaca
Diperbarui: 18 Apr
PESISIR Normandia, Prancis Utara pada pagi 6 Juni 1944. Desingan peluru senapan mesin dan ledakan-ledakan artileri Jerman di bibir pantai saling berlomba memekakkan telinga. Hari itu “Operasi Overlord” –atau sering disebut D-Day adalah operasi pendaratan pasukan Sekutu untuk membebaskan Eropa Barat dari tangan Jerman-Nazi– dimulai. Prajurit Satu Huston Riley merupakan satu di antara pasukan Kompi F, Batalyon ke-2, Resimen ke-16, Divisi Infantri ke-1 Angkatan Darat (AD) Amerika Serikat yang mesti mendarat pada gelombang pertama D-Day atau Invasi Normandia.
Keadaan chaos tak sedikitpun memberi waktu buat Riley menebalkan nyali begitu ia turun dari kapal pendarat LCVP di sektor Omaha Beach. Riley sempat terjatuh dan setengah tenggelam. Ia berlindung sebisa mungkin selama setengah jam di pinggir pantai.
Peluru senapan mesin Jerman mulanya hanya menyerempet ransel perbekalan di punggung serta di ujung sepatu boot-nya. Namun ketika ia kemudian tergeletak pasrah, empat peluru bersarang di bahunya. Tetapi hari itu maut belum menjemputnya. Seorang sersan dan seorang lagi yang tak familiar bagi Riley menarik tubuhnya untuk berlindung ke gundukan pasir yang lebih aman.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















