Diperbarui: 13 Okt
NAMANYA Khoe Tjong Hok. Dalam kehampaan, setelah bercerai dari istrinya, ia pergi meninggalkan rumahnya di Semarang, Jawa Tengah. Meninggalkan ayahnya yang kaya, anaknya yang masih balita. Dengan berjalan kaki, ia memulai pengembaraan. Barangkali ia berjalan kaki melewati Ungaran lalu melintasi Sungai Tuntang. Dari sini jalan yang ditapakinya mirip dengan yang pernah dilalui penyair Prancis Arthur Rimbaud ketika dikirim ke kamp militernya di Salatiga.
Sama seperti Rimbaud, langkah kakinya terhenti di Salatiga. Sebuah kelenteng tua menyambutnya. Ia menginap di sana. Tak seperti Rimbaud yang tak lebih dari dua minggu di Salatiga atau musafir lain yang hanya menginap barang dua atau tiga hari, ia ternyata tak pernah pulang.
Khoe Tjong Hok menetap di kelenteng dan mengabdi sebagai juru kunci. Ia kemudian menikah dengan seorang gadis Jawa yang dicintainya dan dikaruniai lima anak. Tak hanya itu, ia melahirkan makanan kecil berbentuk prisma segitiga yang hingga saat ini dikenal sebagai makanan khas Salatiga: enting-enting gepuk.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















