top of page

Kala Dubes Amerika Nyaris Digebuk Jenderal Moersjid

Diberitakan dekat dengan CIA, Dubes AS Marshall Green nyaris digebuk Jenderal Moersjid

loading_historia_white.gif
transparant.png

Mayor Jenderal TNI Moersjid dan Duta Besar AS Marshall Green. Ilustrasi foto: Tazkya Wibowo/Historia.

  • 1 Sep 2023
  • 2 menit membaca

Diperbarui: 14 Mei

PADA 1968, Duta Besar Amerika Serikat Marshall Green bersiap-siap mengakhiri tugasnya di Indonesia. Tugas baru menantinya sebagai asisten Menteri Luar Negeri AS urusan Asia Timur dan Pasifik. Untuk itulah Green sering wara-wiri ke Filipina, yang menjadi salah satu negara sekutu Amerika di kawasan Asia-Pasifik.


Suatu ketika di Manila International Airport, kira-kira bulan Oktober atau November 1969, Green bersua dengan Mayor Jenderal TNI Moersjid, duta besar Indonesia untuk Filipina, di sebuah jamuan. Green tentu mengenal Moersjid. Setidak-tidaknya Green tahu bahwa Moersjid sebelumnya seorang pejabat tinggi di Markas Besar Angkatan Darat. Semasa Green awal bertugas di Indonesia tahun 1965, Moersjid menjabat sebagai Deputi I Menteri/Panglima Angkatan Darat. Dengan kata lain, Moersjid adalah wakil Jenderal Ahmad Yani yang membidangi urusan operasi dan intelijen.   


Dalam pertemuan itu, Green melakukan provokasi. Dalam bahasa Inggris dia bertanya kepada Moersjid, “Bagaimana kabar Si Bung? (How’s the Bung doing?). “Si Bung” yang dimaksud adalah Presiden Sukarno yang sudah lengser dari kekuasaan. Kedudukan Sukarno kian melemah setelah Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. Pada 1968, Sukarno sudah diberhentikan MPRS sebagai presiden dan digantikan oleh Jenderal Soeharto. Pada 1969, Sukarno bahkan harus menjalani masa-masa tahanan rumah di Wisma Yaso.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Setelah kembali ke Indonesia, Ahmad Subardjo menjadi pengacara yang diawasi ketat oleh pemerintah kolonial Belanda. Menepi dari aktivitas politik, Subardjo pergi ke Jepang.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah shared a room with Siti Soendari, the youngest sister of Dr. Soetomo. They had different personalities but complemented each other very well.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo bersama rekan-rekan seperjuangan sebangsa maupun lintas bangsa menggalang perlawanan di Eropa, tempat bercokolnya para kolonialis.
bg-gray.jpg
Getol berorganisasi ketimbang kuliah, Ahmad Subardjo mengubah haluan Perhimpunan Indonesia. Menggagas lambang sampai bikin kopiah untuk identitas nasional.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
A deep and balanced understanding about the events in 1959-1969 is required to achieve reconciliation.
Tiada yang mustahil dalam sepakbola, termasuk ketika berpuasa. Toh, Rasulullah Saw. bersabda, “berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.”
Tiada yang mustahil dalam sepakbola, termasuk ketika berpuasa. Toh, Rasulullah Saw. bersabda, “berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.”
Lagu-lagu yang mengabadikan media komunikasi populer di eranya.
Lagu-lagu yang mengabadikan media komunikasi populer di eranya.
Salad kaktus di Timur Tengah hingga gado-gado di Hindia Timur membuktikan makanan ini digemari siapapun.
Salad kaktus di Timur Tengah hingga gado-gado di Hindia Timur membuktikan makanan ini digemari siapapun.
Tak hanya menjaga kedaulatan, heli TNI AU juga digdaya dalam uji skill di udara.
Tak hanya menjaga kedaulatan, heli TNI AU juga digdaya dalam uji skill di udara.
Film Gundala berbeda dengan versi komiknya. Tak ada kesan Yogyakarta, latar belakangnya sangat Jakarta.
Film Gundala berbeda dengan versi komiknya. Tak ada kesan Yogyakarta, latar belakangnya sangat Jakarta.
transparant.png
bottom of page