top of page

Kecakapan Elie Ripon Sang Sersan Swiss di Banda

Seorang serdadu bayaran asal Swiss ikut serta dalam ekspedisi militer VOC ke Pulau Banda. Berhasil melumpuhkan musuh dengan meriam musuh.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 23 Mei 2024
  • 3 menit membaca

SWISS sejak lama dikenal sebagai negara netral. Negeri pegunungan bersalju ini pun tak punya tentara. Namun, bukan berarti bangsa Swiss tak punya orang yang suka berperang. Contoh paling legendaris dalam sejarah Indonesia adalah Hans Christoffel. Antara akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 dia telah berperang dengan keras di Aceh dan beberapa wilayah Indonesia lain.


Jauh sebelum Hans Christoffel, tersebutlah Elie Ripon. Pria asal Laussane ini bergabung dalam pasukan militer maskapai dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Dia bergabung sekitar 1617 hingga 1626. Ketika baru direkrut sebagai tentara bayaran untuk VOC, Elie sudah ikut serta dalam sebuah ekspedisi militer berdarah.


“Pada 21 September 1619, Jenderal Pieterzoon Coen meninggalkan Batavia menuju Pulau Banda. Dia merekrut semua pria berbadan sehat yang ada di kepulauan Maluku dan beberapa tempat lain untuk menyerbu Pulau Lontar,” catat Bernard Dorleans dalam Orang Indonesia dan Orang Perancis.


Coen punya dendam belasan tahun. Sebelumnya, dia nyaris terbunuh oleh orang Banda dalam sesuatu yang dianggapnya perundingan damai.



Sersan Elie Ripon bersama serdadu lain tiba di Banda sekitar Maret tahun berikutnya. Dia ingat pengalamannya di Banda dan menuliskannya dalam sebuah buku harian yang kemudian dibukukan Yves Giraud sebagai Voyages et Aventures du Capitaine Ripon aux Grandes Indes. Seingat Elie, ketika kapal-kapal VOC tiba, Pulau Banda ditembaki dari semua penjuru.


Ketika pasukan VOC mendarat, benteng telah kosong karena orang-orang Banda telah mengungsi ke gunung. Namun kemudian hampir tiap hari benteng yang diduduki tentara VOC itu diserang oleh orang Banda. Pasukan VOC kemudian mendapat petunjuk jalan menuju ke arah gunung.


“Saya memimpin pasukan sebanyak 50 orang, dengan pasukan elite setiap regu, berpura-pura untuk menyusuri jalan itu. Saya perintahkan enam prajurit membawa lima puluh obor menyala untuk menyenangkan hati musuh karena mereka akan mengira saya muncul dari jalan itu, padahal saya naik dari arah lain dengan memanjat batu karang yang tidak dijaga,” aku Elie Ripon dalam buku hariannya yang diolah Giraud dan disarikan Dorleans.



Namun, Elie menemukan kejutan setelah memanjat. Di puncak gunung karang itu ada seorang penjaga yang tahu ada orang yang naik. Penjaga orang Banda itu lalu melempar sebongkah batu yang kemudian mengenai kepala Elie hingga tubuh Elie tersungkur ke tanah.

Elie ditolong serdadu lain. Sementara itu, enam serdadu lain asal Jawa bergerak maju melumpuhkan penjaga yang melempar Elie dengan batu. Elie sudah bangkit lagi dan kembali memimpin pasukannya.


Meriam musuh yang mereka temui kemudian mereka putar arah moncongnya. Dari semula ke arah pasukan VOC menjadi ke arah kubu orang Banda. Setelah peluru dan amunisi terisi, meriam itu ditembakkan ke arah orang Banda. Ledakan itu membuat orang-orang Banda kemudian bergerak menuju meriam yang dikuasai pasukan Elie.


“Begitu musuh mendekat dalam jumlah besar, saya memerintahkan tembakan meriam mereka sendiri ke arah mereka dan menimbulkan kekalahan telak ke pihak mereka,” ujar Elie.


Keadaan itu membuat sisa orang Banda yang selamat kemudian terjun ke laut. Begitulah peran Elie Ripon dalam ekspedisi militer VOC ke Banda.



Banda berhasil dikuasai VOC. Namun, VOC kemudian tak sekadar menguasainya, tapi juga melakukan pembantaian di sana. Kampung-kampung kemudian dibakar. Pohon pala ditebang dan harta benda penduduk dirampas.

“Diperkirakan dari 15.000 penduduk Kepulauan Banda, tampaknya yang selamat tak melebihi 1.000 orang beberapa orang berhasil menghindari blokade dan mencari tempat perlindungan di Seram, Aru serta Kei,” catat Dieter Bartels dalam Di Bawah Naungan Gunung Nunusaku 2. Ratusan orang Banda yang tersisa lalu dijadikan budak.


Dalam ekspedisi itu, menurut Willard Anderson Hanna dalam Kepulauan Banda: Kolonialisme dan Akibatnya di Kepulauan Pala, terdapat 1.655 serdadu bayaran Eropa, sekitar 80-100 serdadu bayaran Jepang (yang diperkirakan bekas kaum Samurai). Elie Ripon satu dari 1.655 serdadu Eropa itu.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Sejak masa kolonial, tembakau dan produk turunannya dikenai cukai. Dianggap menguntungkan dan bertahan kala krisis global.
Sejak masa kolonial, tembakau dan produk turunannya dikenai cukai. Dianggap menguntungkan dan bertahan kala krisis global.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik “Ngak Ngik Ngok” ini sudah bermusik.
Penyanyi nyentrik asal Sukabumi sohor di era 1990-an. Sedari remaja, penikmat musik “Ngak Ngik Ngok” ini sudah bermusik.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
transparant.png
bottom of page