top of page

Sejarah Indonesia

Kekuatan Yang Mengancam Sriwijaya

Kekuatan yang Mengancam Sriwijaya

Sriwijaya diakui sebagai kerajaan maritim terbesar di Nusantara. Namun ia justru mendapat ancaman dari dalam.

16 April 2019

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Salah satu candi di kompleks Candi Muaro Jambi. (Ryan Wijaya Tan/Shutterstock).

Kesuksesan Sriwijaya memperluas pengaruhnya tidak diraih dengan mudah. Penguasanya harus banyak melancarkan pertempuran melawan pemberontak dari lingkungan internal.

Lewat prasasti, filolog asal Belanda, J.G. de Casparis menganalisis ancaman-ancaman itu bahkan terjadi kala kebijakan ekspansi Sriwijaya sedang getol-getolnya. Itu sekira pada masa awal berdiri, akhir abad ke-7 M.


Ninie Susanti, arkeolog Universitas Indonesia mengatakan, kekuatan Sriwijaya terlihat dari daerah-daerah yang mengakui kedaulatannya, yaitu Kedah, Ligor, Semenanjung Melayu, Kota Kapur, Jambi, Lamoung, dan Baturaja. Mereka kemudian berdiri sebagai mandala bagi Sriwijaya.


“Kedatuan dari kata datu atau orang yang dituakan. Dalam prasastinya tidak pernah menyebutnya sebagai kerajaan,” kata Ninie.



Untuk mempertahankan hegemoninya itu, Sriwijaya mengeluarkan enam prasasti kutukan. Paling tidak itu yang sampai saat ini sudah ditemukan. Isinya adalah ancaman bagi mereka yang berani melawan raja. Pun ada lebih dari 25 prasasti Jayasiddhayatra, yang memuat perjalanan suci menaklukkan daerah-daerah sekitar.


Namun, Sriwijaya tampaknya masih harus berbagi otoritas dengan para datu. Itu baik para datulokal yang mendiami daerah di sekitar Kedatuan Sriwijaya, maupun datu pangeran di daerah mandala-mandala luar.


Hermann Kulke, sejarawan Jerman, di Kedatuan Sriwijaya menulis bahwa telah terbukti kalau kontrol Sriwijaya terhadap mandala-mandala-nya tetap rawan selama berabad-abad. Sriwijaya tak pernah berhasil, atau bahkan berusaha, untuk menganeksasi sepenuhnya mandala-mandala itu.


Semua mandala tampaknya mampu mempertahankan otonomi mereka sebagai replika kecil Sriwjaya. Itu lengkap dengan struktur vanua (satuan beberapa desa dan lahannya) dan samaryyada (satuan yang terdiri dari beberapa vanua). Bedanya, Sriwijaya punya pusat urban yang besar, staf administrasi, dan balatentara yang kuat, juga hubungan dagang internasional.

Setidaknya, ada dua bahaya yang mengintai keutuhan Kedatuan Sriwijaya terutama terkait dengan kebijakan ekspansi yang dianut pemerintahan itu.



Pertama, para anggota keluarga raja Sriwijaya yang muncul menjadi datu yang kuat di mandala-mandala menciptakan ancaman langsung terhadap sang datu Sriwijaya di pusat. Pasalnya, kedudukan mereka menjadi hampir sekuat kedudukan datu Sriwijaya.


Kedua, bahaya berupa perlawanan di dalam kawasan-kawasan yang diserangnya. Kemungkinan besar, kata Kulke, prasasti-prasasti mandala yang isinya kurang lebih identik, yang ditemukan di daerah-daerah luaran berfungsi untuk mengatasi perlawanan lokal di dalam mandala-mandala itu.


“Prasasti-prasasti itu dengan jelas mengatakan ‘orang di segenap wilayah bhumi kekuasaan kadatuan-ku yang memberontak’,” jelas Kulke.


Dari pusat Kedatuan Sriwijaya pun ancaman itu ada seperti disebut dalam Prasasti Sabokingking (SKK). Prasasti kutukan paling lengkap memuat nama-nama pejabat pemerintahan itu disebutkan mulai dari putra raja (rājaputra), menteri (kumārāmātya), bupati (bhūpati), panglima (senāpati), pembesar atau tokoh lokal terkemuka (nāyaka), bangsawan (pratyaya), raja bawahan (hāji pratyaya), hakim (dandanayaka), ketua pekerja atau buruh (tuhā an vatak = vuruh), pengawas pekerja rendah (addhyāksi nījavarna), ahli senjata (vāsīkarana), tentara (cātabhata), pejabat pengelola (adhikarana), karyawan toko (kāyastha), pengrajin (sthāpaka), kapten kapal (puhāvam), peniaga (vaniyāga), pelayan raja (marsī hāji), dan budak raja (hulun hāji).


Casparis pernah menulis dalam Prasasti Indonesia, orang-orang yang disebut pada prasasti itu adalah orang-orang yang dikategorikan berbahaya dan berpotensi melawan Kedatuan Sriwijaya. Mereka itu perlu disumpah.


“Maksud Prasasti SKK adalah memberikan ancaman sebesar-besarnya kepada semua lawan, dan bukan melegitimasi klaim Sriwijaya untuk memerintah mereka,” kata Kulke.


Menurut Kulke, sebagaimana yang tertulis dalam prasasti, orang-orang berbahaya di imperium ini bukan saja para pangeran dan komandan tentara yang dapat menggalang pemberontakan ketika mereka jauh dari pusat. Tetapi juga sejumlah abdi rendahan yang mudah menjangkau raja, seperti juru tulis, tukang cuci, budak, pelaut, dan pedagang bisa sangat berbahaya.



“Karena mereka menjalin hubungan dengan kekuatan asing. Disebutnya secara khusus kelompok-kelompok terakhir ini pas sekali dengan kekuatan bahari dan niaga Sriwijaya,” lanjut Kulke.


Dengan struktur politik begitu, sekali Sriwijaya kehilangan keunggulan dalam mengontrol sejumlah pos penting di pelosok, ia kehilangan posisinya sebagai primus inter pares di antara mandala dan para datu-nya. “Sriwijaya pada gilirannya mungkin menjadi sebuah mandala dari salah satu bekas mandala-nya,” kata Kulke.



Namun, itu bukan berarti akhir sebuah negara bernama Sriwijaya. Bukan pula berarti jatuhnya kadatuan dan vanua-nya yang, menurut Kulke, berada di Palembang masa kini. Seiring perjalanan waktu, Sriwijaya mungkin kembali menjadi penguasa dalam perjuangan kekuasaan yang berlangsung terus-menerus.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
Seputar Karnak, Kuil Paling Penting di Afrika Utara

Seputar Karnak, Kuil Paling Penting di Afrika Utara

Sudah sejak 150 tahun para arkeolog meneliti Karnak. Akan tetapi asal-usul dan evolusi kompleks kuil dari Peradaban Mesir Kuno itu baru terungkap belum lama ini.
Jalan Panjang Memulangkan Fosil "Manusia Jawa"

Jalan Panjang Memulangkan Fosil "Manusia Jawa"

Akhirnya Belanda serahkan koleksi Dubois. Tidak hanya fosil “Manusia Jawa” tapi juga 28 ribu temuan lain selama Dubois mengeksplorasi Sumatera hingga Jawa.
Ketika Ibukota Khmer Diserbu dan Dijarah Ayutthaya

Ketika Ibukota Khmer Diserbu dan Dijarah Ayutthaya

Konflik antara Kamboja dan Thailand punya sejarah panjang sejak era Khmer dan Ayutthaya yang berimbas pada kejatuhan Angkor.
Candi Preah Vihear dalam Pusaran Sengketa

Candi Preah Vihear dalam Pusaran Sengketa

Riwayat candi yang lebih tua dari Angkor Wat dan sezaman dengan Candi Borobudur. Sudah jadi situs warisan dunia namun melulu dipersengketakan Kamboja dan Thailand.
200 Tahun Perang Jawa: Nama Diponegoro Bakal Terus Hidup

200 Tahun Perang Jawa: Nama Diponegoro Bakal Terus Hidup

Setelah 200 tahun berlalu, Perang Jawa diperingati di Perpusnas RI dalam Pameran 200 Tahun Perang Jawa. Selain tulisan, pelana kuda dan keris Diponegoro turut dipamerkan.
bottom of page