- 29 Mei 2021
- 3 menit membaca
Diperbarui: 25 Apr
AWAL Juli 1677, pasukan Raden Trunajaya berhasil menguasai ibu kota Mataram seutuhnya. Raja beserta keluarga, serta para pangeran yang seharusnya bertanggung jawab atas pertahanan istana, telah lama hengkang. Mereka memilih menyelamatkan diri dan menyerahkan keraton berusia seratus tahun beserta seluruh harta di dalamnya setelah tidak mampu membendung kekuatan para pemberontak tersebut.
Menurut H.J. De Graaf dalam Runtuhnya Istana Mataram, peristiwa jatuhnya istana Mataram ke tangan para pemberontak sebenarnya bisa dihindari, mengingat Mataram masih memiliki persenjataan lengkap: sepuluh meriam besar, dan 20.000 prajurit yang siap diterjunkan ke medan tempur.
Dengan kekuatan seperti itu mungkin mereka masih dapat bertahan dari gempuran pasukan Trunajaya, yang meskipun unggul jumlah tetapi kalah pengalaman berperang. “Tetapi pertahanan Mataram hancur dari dalam karena anarki dan pengkhianatan,” tulis De Graaf.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















