- 7 Nov 2020
- 3 menit membaca
Diperbarui: 12 Apr
SABTU Pahing, 12 April 1912, di Yogyakarta lahirlah seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Dorojatun. Putra pasangan Gusti Pangeran Haryo Puruboyo dan Raden Ajeng Kustilah itu kehadirannya amat dinanti. G.P.H. Puruboyo sendiri merupakan putra tunggal Pangeran Puruboyo dari garwa padmi (permaisuri). Saat diangkat menjadi raja, G.P.H. Puruboyo bergelar Sultan Hamengkubuwono VIII.
Sejak masih berusia empat tahun, sang ayah telah menentukan pendidikan apa yang akan diterima Dorojatun. Ia bersama saudara-saudaranya harus tinggal dengan keluarga seorang Belanda. Diceritakan Mohammad Roem, dkk dalam Takhta untuk Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX, Sultan ingin putra-putranya menanggalkan semua kemewahan keraton, dan hidup dalam kesederhanaan. Namun tetap bisa belajar dengan baik, layaknya para bangsawan kala itu.
“Instruksi sang Pangeran ketika itu jelas, yaitu agar putra-putranya dididik sebagai anak orang biasa saja, tidak diistimewakan karena status sosialnya yang tinggi. Hendaknya anak-anak itu menyerap kebiasaan hidup sederhana dan penuh disiplin sebagaimana yang ada dalam kalangan orang-orang Belanda,” tulis Roem, dkk.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















