top of page

Pergaulan Ahmad Subardjo dengan Teosofi

Bermula dari hasrat ingin memperdalam agama, Ahmad Subardjo berkenalan dengan aliran Teosofi. Dia belajar bahwa bagi aliran Teosofi ‘tak ada agama yang lebih tinggi dari kebenaran’

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 10 Jan 2021
  • 3 menit membaca

SETELAH menamatkan sekolah menengah pada 1917, Ahmad Subardjo segera menentukan sekolah lanjutan yang akan ditempuhnya. Dia berkeinginan belajar di sebuah universitas. Sementara di dalam negeri pendidikan tinggi semacam itu masih sangat terbatas. Sehingga dia pun memilih pergi ke Belanda, melanjutkan pendidikan di fakultas hukum.


Namun pada tahun tersebut, perang masih berkobar di Benua Biru. Akses masuk menjadi sulit. Ditambah kekhawatiran keluarga, yang makin memberatkan langkah Subardjo pergi ke Negeri Kincir Angin. Akhirnya dia memutuskan menunda sampai perang berakhir. Sambil menunggu, Subardjo mempergunakan waktunya untuk belajar bahasa Latin dan Yunani. Keduanya amat dibutuhkan dalam proses belajar nanti, mengingat pendidikan hukum kala itu masih menggunakan teks-teks berbahasa klasik.


“Mereka yang keluaran gymnasium di Negeri Belanda, diperbolehkan segera masuk Fakultas Hukum, karena mereka telah mendapatkan pelajaran dalam bahasa-bahasa klasik tersebut. Tetapi bagi mereka yang berasal dari sekolah menengah umum, seperti kami, harus menempuh ujian tambahan dalam bahasa-bahasa itu,” kata Subardjo.


Bersama dua orang kawan yang sama-sama berencana ke Negeri Belanda, Nazir Datuk Pamuntjak dan Andries Alex Maramis, Subardjo meminta bekas guru sejarah di sekolah menengahnya dahulu, Tuan Green, untuk mengajarkan bahasa klasik. Diceritakan dalam otobiografinya, Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi, selama dua kali dalam seminggu ketiganya menerima pelajaran tambahan dari Tuan Green. Khusus bagi Subardjo, perkenalan dengan bahasa-bahasa itu telah membangkitkan minatnya kepada aliran Teosofi.


Antara 1917-1919, Subardjo mencoba mengetahui sejauh mana ketertarikannya terhadap aliran itu. Dia lalu berkenalan dengan Zainal Arifin, seorang hakim daerah yang menjadi bagian dari masyarakat Teosofi. Arifin bersama kelompok Teosofi di Batavia menempati sebuah kawasan di Koningsplein-West (sekarang Merdeka Barat) bernama Blavatsky-park.


Subardjo berkali-kali berkunjung ke sana untuk mencari informasi tentang tujuan dan obyek Teosofi. Dia mendapati bahwa organisasi itu bersifat internasional dengan pengaruh yang amat luas. Dengan tak berprasangka terhadap agama-agama lain dan aliran-aliran kepercayaan apapun, isi pada praktek-praktek Teosofi menarik perhatian Subardjo.


“Arifin merasa senang, bahwa aku menjadi anggota masyarakat Teosofi itu, terutama ketika aku pindah dari rumah ke villanya yang menyenangkan itu, serta menjalankan tugas-tugas dan kewajiban seorang Teosofis. Aku baru memutuskan setelah aku mempelajari dengan cermat latar belakang sejarah dari Teosofi itu,” uajarnya.


Sejak tinggal di Blavatsky-park, Subardjo mulai berkenalan dengan orang-orang terpandang di kelompok Teosofi itu, seperti B. Fournier, seorang pejabat tinggi Belanda di Jawatan Pos, Telepon, dan Telegraf. Dalam berbagai kesempatan makan malam di kediaman Fournier, Subardjo semakin memperdalam pengetahuannya akan ilmu Teosofi, terutama tentang pengaruh-pengaruhnya bagi perkembangan jiwa manusia.


Ada juga pertemuan mingguan yang rutin diadakan pemuka-pemuka Teosofi di Batavia. Jumlah peserta yang ikut pun tidak main-main. Mereka berasal dari berbagai kalangan, baik Eropa maupun bumiputra. Bagi Subardjo, pertemuan yang bertajuk kuliah umum itu lebih mirip khotbah. Isinya banyak memperingatkan para peserta untuk melakukan meditasi secara teratur dan membaca karangan-karangan mengenai Teosofi, serta berusaha mempraktekan ajaran Teosofi di kehidupan nyata agar dapat menjaga moral baik di masyarakat.


“Sebenarnya, dalam kecenderungan untuk mengetahui diri sendiri, berterus terang kepada diri sendiri, ternyata yang mendorongku ke Teosofi hanyalah perasaan ingin tahu, bukan agama. Naluriku terhadap agama adalah berdasarkan agama Islam, sesuai dengan agama yang secara turun-temurun kudapatkan dari nenek moyangku dari Aceh,” kata Subardjo.


“Sedangkan, ajaran-ajaran Teosofi berisikan lebih banyak unsur agama Hindu, daripada ajaran-ajaran agama Islam,” lanjutnya.


Masyarakat Teosofi, imbuh Subardjo, memiliki semboyan: Tak ada agama yang lebih tinggi dari kebenaran. Mereka berpegang kepada keyakinan bahwa kebenaran harus dicari melalui penyelidikan, renungan, kesucian hidup, dan berbakti untuk cita-cita yang luhur. Kalangan mereka juga menganggap bahwa kepercayaan seharusnya merupakan hasil dari penyelidikan atau naluri sendiri, dan bukan karena suatu yang terjadi dulu, dan seharusnya berdasarkan pengetahuan, bukan pada pernyataan.


Ada begitu banyak hal di dalam keyakinan masyarakat Teosofi yang membuat kagum Subardjo. Tetapi ada banyak pula syarat-syarat yang dipaksakan kepada anggotanya. Seperti kewajiban bermeditasi, dan mendengarkan khotbah mingguan yang tidak bisa diterima Subardjo. Meski rasa haus akan pengetahuan agama begitu kuat dalam diri Subardjo, namun dia merasa ilmu Teosofi tidak bisa secara penuh menyegarkannya.


“Mungkin sekali aku tak berbakat untuk mendapat pengetahuan yang inti dalam bentuk seperti yang diterangkan oleh peraturan-peraturan dari masyarakat tersebut. Akhirnya aku menyerah dalam usahaku untuk menjadi seorang anggota Teosofi yang baik, dan pindah dari Blavatsky-park untuk kembali berkumpul dengan keluargaku,” kata Subardjo.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
bg-gray.jpg
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
bg-gray.jpg
Kala ditugaskan ke Pontianak, Rudy Blatt dapat informasi pembantaian rakyat oleh Jepang. Berinisiatif mencari para penjahat perang Jepang itu.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
transparant.png
bottom of page