- 26 Jun 2024
- 4 menit membaca
Diperbarui: 27 Jul
TAK ada yang lebih menakutkan bagi penduduk Batavia di paruh kedua abad ke-17 selain terinfeksi penyakit kusta. Wabah penyakit kusta memicu kepanikan masyarakat, khususnya orang-orang Eropa. Seiring bertambahnya jumlah penderita kusta, Lazarus Huis yang didirikan di Angke pada 1666 sebagai tempat perawatan pasien kusta menjadi semakin padat.
Oleh karena itu, pada 1667 diputuskan bahwa mereka yang terinfeksi penyakit kusta harus mendaftarkan diri ke rumah sakit Batavia untuk menjalani pemeriksaan. Sayangnya, upaya ini tak sepenuhnya berhasil mengatasi wabah penyakit kusta. Menurut sejarawan Leo van Bergen dalam Uncertainty, Anxiety, Frugality: Dealing with Leprosy in the Dutch East Indies, pada 1678 masih ada 70 orang penderita kusta, tetapi tak menjalani perawatan di Lazarus Huis.
Willem ten Rhijne, seorang dokter Belanda, yang telah meneliti penyakit kusta menawarkan solusi untuk mengatasi wabah penyakit kusta yang melanda Batavia. Menurutnya, kusta dapat menular melalui kontak fisik antara penderita dengan orang sehat. Oleh karena itu, isolasi menjadi cara yang paling tepat untuk menghentikan laju penyebaran penyakit kusta. Berdasarkan hal tersebut, pembangunan rumah sakit kusta di sebuah pulau yang terpisah dari Batavia mulai dilakukan pada 1679. Pulau itu dikenal dengan nama Purmerend yang berarti Pulau Sakit atau pulau untuk orang-orang sakit.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















