top of page

Komandan Resimen Dikagetkan Tank Jadi-jadian

Kisah para prajurit yang kerap keliru menerjemahkan keadaan. Situasi haru mendadak berubah menjadi kepanikan.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 11 Nov 2022
  • 2 menit membaca

Setelah pertempuran Titi Bambu, Letkol Djamin Gintings memerintahkan penggotongan keenam prajurit Kompi Markas yang masih hidup ke Kampung Suka. Dalam proses evakuasi dan identifikasi, tiga orang prajurit tak ditemukan. Mereka ternyata hanyut terbawa arus Sungai Lau Biang yang deras. Sementara itu, enam prajurit lainnya dipastikan meninggal. Dalam suasana penuh duka, komandan Resimen I Sumatra itu tetiba dikejutkan oleh suara teriakan.


“Awas, Tank datang!”


Mendengarnya, sontak saja situasi dilanda hiruk-pikuk. Dikira tentara Belanda datang. Tapi, mujurlah kepanikan itu tak berlangsung lama. Sejurus kemudian diketahui bahwa tank yang digembar-gemborkan itu adalah kereta lembu petani yang baru pulang dari ladang. Deru langkah lembu itu memang terdengar menghentak tanah dengan keras.  


“Dalam suasana sedemikian haru dan duka masih ada prajurit-prajurit kita yang mampu rupanya membuat lelucon,” kenang Gintings dalam catatan hariannya yang diterbitkan dengan judul Titi Bambu: Saksi Bisu Tumpahnya Darah Pejuang Resimen IV, Divisi X dalam Perang Gerilya.



Gintings cepat berpaling begitu keadaan terkendali kembali. Ia melanjutkan proses evakuasi terhadap jenazah-jenazah pasukannya yang terbaring di tanah. Kampung terdekat dari Sungai Lau Biang adalah Seberaya, sekaligus markas darurat Resimen I. Dengan tandu yang terbuat dari bambu, tubuh para prajurit nahas itu dibawa ke Seberaya untuk dimakamkan.


Menunggu pemakaman, jenazah disemayamkan di sebuah ruangan yang dijaga pasukan Kawal Kehormaan. Seluruh perhatian pasukan Resimen I ditujukan kepada peristiwa yang baru saja terjadi pada siang harinya. Tak dilupakan pula enam prajurit lainnya yang mengalami luka-luka berat. Malam itu diambil keputusan untuk memakamkan ke-6 prajurit Kompi Markas Resimen I pada keesokannya, 22 Agustus 1947 pukul 9 pagi. Sempat timbul ketakutan di kalangan pasukan bahwa Belanda akan datang menyerang. Tetapi, risiko itu diambil oleh komandan resimen.


Dalam suasana perkabungan itu, insiden yang menggegerkan terjadi lagi. Seorang prajurit dari Kawal Kehormatan melaporkan bahwa tikar penutup salah satu jenazah bergerak-gerak. Kemungkinan ada yang masih hidup, begitu katanya. Untuk memastikannya, Gintings memanggil Semin Sinuraya, staf bagian kesehatan Resimen I, untuk melakukan pemeriksaan.

“Ternyata bergerak-geraknya tikar penutup itu karena ulah seekor anjing yang masuk mencari,” tutur Gintings yang untuk kedua kalinya kecele.     



Pagi harinya, upacara pemakaman diselenggarakan di tengah cuaca mendung dan matahari redup.  Ketika matahari menyembul, para prajurit ditugaskan menggali lubang makam. Baik penduduk Seberaya maupun warga kampung tetangga turut berdatangan mengikuti upacara pemakaman. Menurut Gintings, mereka bertanya, putra-putra siapa yang telah gugur itu, serta di mana kampung asalnya. Sebagian lagi meratap layaknya orang meratapi kematian anak sendiri. Gintings sendiri selaku komandan resimen bertindak sebagai inspektur upacara yang memimpin upacara pemakaman.


 “Engkau para pahlawan sudah gugur. Kami berjanji akan lebih hebat melancarkan perjuangan sampai cita-cita kemerdekaan dari bangsa kita tercapai sepenuhnya. Yang patah akan tumbuh, yang hilang akan berganti. Patah tumbuh hilang berganti,” ucap Ginting dalam perkabungan yang diiringi linangan airmata itu.  


Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
bg-gray.jpg
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
bg-gray.jpg
Kala ditugaskan ke Pontianak, Rudy Blatt dapat informasi pembantaian rakyat oleh Jepang. Berinisiatif mencari para penjahat perang Jepang itu.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
transparant.png
bottom of page