- 14 Sep 2023
- 3 menit membaca
Diperbarui: 12 Jul
PADA awal revolusi, Abdul Latief adalah komandan pasukan pemuda yang berhasil mengumpulkan senjata untuk pasukan setara satu kompi di Bojonegoro. Di masa itu, perbandingan kepemilikan senjata bisa satu senjata banding empat personel.
Sebagai komandan tempur, Latief berkali-kali kehilangan anak buahnya. Pasukan Latief merupakan pasukan yang sering berada di garis depan –yang resiko terbunuhnya lebih besar– baik di front Surabaya maupun sesudahnya front Jawa Tengah.
“Dengan adanya perintah rasionalisasi dan rekonstruksi organisasi Angkatan Perang oleh pemerintah saya dipanggil kembali ke Ibukota RI ke pasukan induk dengan keputuan pangkat mayor diturunkan satu tingkat menjadi kapten dan mendapat tugas untuk menyusun Kompi Istimewa/Stoot Kompi dengan persenjataan lengkap. Bersamaan dengan itu terjadi peristiwa Madiun dan pasukan saya dilimpahkan menjadi pasukan Komando Militer Kota (KMK) di bawah pimpinan Letnan Kolonel Latief Hendraningrat,” catat Abdul Latief dalam riwayat hidup tak diterbitkan yang dibuatnya pada 1993 di Penjara Cipinang.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















