top of page

Laku Pandita Seorang Raja Jawa

Demi menghapus dahaga akan ilmu pengetahuan, Mangkunegara VII memilih meninggalkan istana dan mengembara. Bekal berharga untuknya di kemudian hari.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 5 Apr 2019
  • 3 menit membaca

ROMBONGAN turis asing itu terpukau oleh koleksi benda-benda antik nan cantik milik Museum Puro Mangkunegaran. Selain jumlahnya masih banyak, mayoritas koleksi itu juga terawat. Komentar acap keluar dari mulut para turis itu.


Sambil menenteng plastik kresek sebagai tempat alas kaki –karena aturan dalam museum mengharuskan alas kaki pengunjung dilepas saat di dalam Dalem Ageng, tempat yang kini jadi museum– mereka terlihat sering manggut-manggut setelah mendapat penjelasan dari tourguide.


Dari sekian banyak koleksi milik museum, benda-benda milik dan tentang Mangkunegara VII mungkin terbanyak. Penguasa Mangkunegara berpikiran maju itu punya kepedulian tinggi terhadap seni-budaya dan sejarah. “Beliau kan orangnya multitalenta,” ujar Supriyanto, petugas Dinas Urusan Istana Mangkunegaran, kepada Historia.


Pengembaraan

Mangkunegara VII atau RM Soerjo Soeparto merupakan putra laki-laki ketiga dari 12 putra laki-laki Mangkunegara V. Lahir pada 15 Agustus 1885, Soeparto menjalani kehidupan masa kecil jauh dari kemewahan selayaknya anak-anak raja pada umumnya. Penyebabnya, Mangkunegaran saat itu sedang mengalami defisit yang disebabkan oleh salah urus perekonomian oleh Mangkunegara V, krisis ekonomi dunia, dan hancurnya perkebunan kopi yang menjadi sumber keuangan Mangkunegaran oleh hama.


Selain itu, sejak kecil Soeparto hidup dalam pengasuhan pamannya, Pangeran Handajaningrat (kemudian Mangkunegara VI). “Mangkunegoro V kan meninggal dalam usia muda, kecelakaan,” ujar Supriyanto. Dalam Modernisasi di Jantung Budaya Jawa: Mangkunegaran 1896-1944 karya Wasino disebutkan, Soeparto sejak kecil diberikan oleh orangtuanya kepada Pengeran Handajaningrat lantaran sang pangeran belum dikaruniai putra kendati telah lama menikah.


Dalam kesehariannya, Soeparto memiliki banyak perbedaan dibandingkan anak-anak pada umumnya. Dia lebih senang melihat tanaman di kebun dan menanyakan nama tanaman-tanaman yang ada ketimbang bermain bersama anak-anak sebayanya. Soeparto juga lebih banyak menyendiri. Andai berkumpul, Soeparto lebih senang duduk-duduk dengan emban dan para abdi dalem.


“Tidak ikutnya Soeparto bermain seperti putra-putra Mangkunegara V yang lain menandakan sikap rendah diri, karena walaupun merupakan putra Mangkunegara V ketika itu, toh ia sudah diberikan kepada Mangkunegara VI. Dengan demikian, derajat sosialnya lebih rendah daripada putra Mangkunegara V yang langsung di bawah asuhannya sendiri,” tulis Wasino.


Namun, pendidikan Soeparto sampai jenjang Europeesche Lagere School (ELS) tetap ditanggung oleh Mangkunegara VI seperti anak Mangkunegara V yang lain. Pembatasan jenjang itu jelas membuat Soeparto tak puas. Hasratnya untuk mengenyam pendidikan ke jenjang lebih tinggi amat besar.


Setelah berupaya meminta izin untuk melanjutkan pendidikan kepada Mangkunegara VI dan ditolak, Soeparto frustrasi. Dia kemudian menikah dengan Mas Rara Mardewi, putri bekel bernama Mas Wangsasutirta. Alih-alih bahagia setelah menikah dan dikaruniai putri bernama BRA Partini, Soeparto justru melampiaskan rasa frustrasinya dengan meninggalkan anak, istri, dan Mangkunegaran.


Dengan bekal alakadar, Soeparto mengembara. Sesekali menumpang kereta api kelas III, Soeparto lebih banyak berjalan kaki mengunjungi desa-desa. Dia makan sekadarnya, terkadang pemberian penduduk. Apabila tak beruntung mendapat tumpangan menginap di rumah kepala desa, Soeparto menginap di rumah penduduk atau bahkan seringkali di pinggir jalan.


Pengembaraan itu membuat Soeparto melihat langsung dan mengenali wilayah-wilayah yang disinggahinya berikut kondisi masyarakat di dalamnya. Dia merasakan perasaan sebagian besar masyarakat.


Di Demak, Soeparto menetap dan mendapat pekerjaan sebagai juru tulis, lalu mantri. Saat menjadi mantri itulah Soeparto mengetahui kondisi kesehatan masyarakat.


Sambil bekerja, Soeparto terus menambah pengetahuan bahasa Belanda dan sastra Jawanya dengan mengikuti kursus yang biayanya didapatnya dari menyisihkan gaji. Namun, itu tak berlangsung lama. Konfliknya dengan bupati Demak dan membuatnya berhenti bekerja. Soeparto kembali frustrasi lantaran tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Frustrasi itu baru sirna setelah dia mendapat pekerjaan dari Residen Van Wijk, menerjemahkan naskah-naskah berbahasa Jawa ke bahasa Belanda atau sebaliknya.


Soeparto amat menikmati pekerjaan barunya. Sambil bekerja, Soeparto bergabung dengan Boedi Oetomo dan aktif berdiskusi serta menulis di Dharmo Kondo. Tak lupa, dia terus menabung untuk biaya sekolah di Eropa yang diimpikannya.


Kerja keras dan ketekunan Soeparto menjadi perhatian residen. Setelah melihat semangat Soeparto yang tak pernah kendur, residen akhirnya merekomendasikan agar Soeparto bisa belajar di Eropa dengan biaya sendiri. Mimpi Soeparto akhirnya menjadi kenyataan ketika pada 12 Juni 1913 dia berangkat ke Eropa untuk belajar di Leiden.


Soeparto memanfaatkan betul kesempatannya di Eropa untuk menambah pengetahuan dan pergaulan serta pengalaman. Selain senang berkeliling ke berbagai tempat, dia bersahabat dengan banyak orang. “Mangkunegara VII menikmati kehangatan hubungan dengan etnografer tari Claire Holt dan arkeolog Belanda, Willem Suttterheim,” tulis Laurie Margot Ross dalam The Encoded Cirebon Mask: Materiality, Flow, and Meaning along Java’s Islamic Nortwest Coast. Soeparto juga berkarib dengan etnomusikolog Jaap Kunst.


Pengetahuan, pergaulan, dan pengalaman di Eropa menambah kaya pengalaman Soeparto yang banyak didapat saat menderita di masa pengembaraan. “Dalam perjalanan pengembaraan itu ia dapat mengenal wilayah dan kehidupan masyarakat yang disinggahi. Dengan cara itu ia dapat mempelajari kehidupan masyarakat Jawa. Kesan ini tampak memengaruhi kepribadiannya, sehingga ketika menjadi Mangkunegara, ia sangat memikirkan nasib kemajuan dan kemakmuran rakyatnya,” tulis Wasino.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
bg-gray.jpg
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
bg-gray.jpg
Kala ditugaskan ke Pontianak, Rudy Blatt dapat informasi pembantaian rakyat oleh Jepang. Berinisiatif mencari para penjahat perang Jepang itu.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
transparant.png
bottom of page