Diperbarui: 4 Okt
MIA Bustam, perempuan pelukis anggota Lekra, merasakan jatah makan yang diterima tahanan politik (tapol) 1965 masih manusiawi pada awal ditahan di Vredeburg. Selain diberikan dua kali setiap hari, jam 10 pagi dan 3 sore, menunya pun berupa nasi ditambah oseng-oseng buncis atau kacang panjang, labu siam, dan lauk berupa tempe atau tahu bacem. Lain waktu, menunya berupa gudeg dengan sambal goreng krecek dan tolo.
“Memadailah, yang mengurus ransum itu restoran di Danurejan,” kata Mia dalam memoarnya, Dari Kamp ke Kamp.
Namun, kondisi itu tak berlangsung lama. Pihak restoran mogok mengirim makanan lantaran Tim Pemeriksa Daerah (Taperda) sama sekali tidak membayar katering itu sejak awal. Jatah makan para tapol pun dikirim dari Penjara Wirogunan sejak itu.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















