top of page

Peliknya Menjalin Komunikasi dengan Tapol

Ketika suasana pasca-G30S masih mencekam penangkapan masih berjalan, banyak keluarga memilih lepas kontak dengan anggota keluarga yang jadi tapol. Berubah setelah situasi membaik.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 9 Okt 2019
  • 2 menit membaca

SEMENJAK ditahan pada November 1965, Pelukis Lekra Mia Bustam  lepas kontak dengan anak-anaknya. Di awal masa penahanan tersebut, anak-anak Mia hidup dalam bayang-bayang teror. Mereka tak berani mengunjungi atau menghubungi ibunya yang ditahan di Vredeburg kemudian dipindah ke Wirogunan pada April 1966.


“Tahun 1965-67 itu orang masih takut mau mengunjungi keluarganya. Maka saya sangat berterima kasih kepada orang-orang yang berani mengirimi ibu makanan karena waktu itu butuh keberanian besar,” kata Sri Nasti Rukmawati, anak kedua Mia Bustam, pada Historia.


Selain kondisi politik masih mencekam, anak-anak Mia Bustam tak bisa menjenguk ibunya karena dipusingkan oleh urusan memenuhi kebutuhan hidup. Jangankan mengirimi ibunya makanan, untuk bertahan hidup enam anak Mia pun sudah amat sulit. Tedja Bayu, anak tertua, sudah tertangkap sebelum ibunya. Nasti, anak kedua yang berumur 18 tahun, mengungsi ke rumah kerabat karena ketakutan. Yang bertahan di rumah hanya 6 anak yang masih usia sekolah, yakni Watu Gunung, Sekar Tunggal, Sri Shima, Daya, Gawe, dan Rino.


Kiriman makanan untuk Mia justru datang dari istri-istri guru di Seniman Indonesia Muda. Mbakyu Pardal dan Jeng Salam, begitu Mia menyebut keduanya dalam bukunya Dari Kamp ke Kamp. Kedua rekan Mia itumengunjunginya Wirogunan pada H-1 Lebaran 1967. Kala itu, para tapol diperbolehkan menerima kunjungan. Namun sayang, keduanya tak bisa menemui Mia karena pintu los koper keburu ditutup. Mia pun hanya bisa menerima bingkisan mereka saja. Kunjungan pertama Mia selama menjadi tapol kemudian datang dari saudara sepupunya sekeluarga.


Nasti mulai berani mengunjungi ibunya di Wirogunan pada 1969, ketika kondisi Yogyakarta sudah sedikit lebih aman. Kala itu, kenang Mia, Nasti datang membawa calon suaminya, Atik Rubino, berserta Sekar Tunggal dan eyang. Pada kesempatan berikutnya, Nasti, eyang, dan Tunggal datang ke Wirogunan untuk memberitahu bahwa Tedja Bayu akan diberangkatkan ke Pulau Buru. Ketika Mia ditahan di LP Bulu dan hendak dipindahkan ke Plantungan, Nasti dan saudara lainnya kembali mengunjungi Mia untuk memberi perbekalan.


“Ketika ibu ditahan di Wirogunan, kami bukan orang berlebih dan kondisi politiknya pun mencekam. Kalau di Plantungan sudah agak mendingan, kami baru berani kirim makanan dan bisa melakukan kunjungan,” kata Nasti.


Ketika di Plantungan, biasanya sebulan sekali Mia menerima kiriman dari keluarga. Seringkali berupa makanan dan surat dari Nasti. Pernah pula ia menerima kiriman buku tuntunan merangkai janur dari Mimies, adik Mia. Sayangnya, Mia tak pernah menerima buku itu. Menurut kawan Mia, buku tersebut mulanya dipinjam oleh komandan kamp untuk diberikan pada keponakannya yang eks-tapol dan masih menganggur. Mendengar alasan itu, Mia pun mengikhlaskannya dan tak merisaukan benar-tidaknya keponakan komandan itu.


Selain kiriman, kunjungan keluarga juga diperbolehkan dengan durasi satu jam. Ketika hari besar, seperti Natal, kunjungan keluarga dibuka selama dua hari berturut-turut.


Eyang dan anak-anak pun selalu datang, kecuali Sekar Tunggal yang menikah dengan Arifin Wardiman, seorang dosen ITB. Mereka khawatir akan membahayakan mata pencaharian Arifin kalau ketahuan bahwa mertuanya seorang tapol.


Pada natal berikutnya, Watu Gunung datang bersama Tania istrinya dan membawa anak pertama mereka yang masih bayi. Nasti dan Atik pun tiap kali membawa kedua anaknya, Arnas dan Mia.


Adanya larangan berambut gondrong bagi keluarga tapol saat berkunjung membuat Atik, Watu Gunung, Daya, dan Rino memangkas rambut. Bambang, adik ipar Watu Gunung, yang ikut ke Plantungan memilih tak ikut masuk karena enggan kehilangan rambut ikal berombak sebahunya.


“Hampir setiap natal kami selalu datang mengunjungi ibu di Plantungan, sampai dibebaskan,” kata Nasti.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
bg-gray.jpg
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
bg-gray.jpg
Kala ditugaskan ke Pontianak, Rudy Blatt dapat informasi pembantaian rakyat oleh Jepang. Berinisiatif mencari para penjahat perang Jepang itu.
bg-gray.jpg
Pernah berguru ke Rahmah El Yunusiyah dan H.R. Rasuna Said, Shamsiah Fakeh getol memperjuangkan kemerdekaan negeri dan kaumnya. Kini, buku memoar aktivis Malaysia berdarah Minang itu dilarang pemerintah Malaysia.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Pablo Escobar mengisi kebun binatangnya dengan kuda nil. Setelah kematiannya, kuda nil itu berkembang biak tak terkendali hingga menimbulkan masalah.
Pablo Escobar mengisi kebun binatangnya dengan kuda nil. Setelah kematiannya, kuda nil itu berkembang biak tak terkendali hingga menimbulkan masalah.
transparant.png
bottom of page