top of page

Merekatkan Sejarah Lakban

Vesta Stoudt mengirim surat kepada Presiden Roosevelt tentang pita perekat yang kuat dan aman untuk menyegel kotak peluru. Muncullah lakban.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi penggunaan lakban di masa Perang Dunia II. (Arsip Johnson & Johnson/jnj.com).

13 Nov 2024
4 menit membaca

Diperbarui: 6 Jan

VESTA Oral Stoudt merupakan satu di antara jutaan wanita Amerika Serikat yang berkontribusi pada upaya perang dengan bekerja di industri pertahanan atau pabrik komersial untuk menggantikan para pria yang sedang berperang. Meningkatnya semangat patriotisme penduduk Negeri Paman Sam seiring dengan masuknya Amerika ke dalam pusaran Perang Dunia II membuat para pria di negara itu berbondong-bondong mendaftarkan diri ke dinas militer untuk menjadi prajurit, dua di antaranya adalah putra Stoudt yang bertugas di angkatan laut.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page