top of page

Parikan, Puisi Jawa dengan Berbagai Makna

Di tahun 2022 “Jaka Tingkir Ngombe Dawet” muncul sebagai lagu dangdut campur sari. Lagu ini dapat digolongkan sebagai Parikan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sasya Arkhisna menyanyikan lagu "Joko Tingkir Ngombe Dawet". (YouTube Perdana Record).

  • 19 Agu 2022
  • 3 menit membaca

Nama Jaka Tingkir menjadi trending seiring munculnya lagu “Joko Tingkir Ngombe Dawet” yang dipopulerkan oleh penyanyi-penyanyi dangdut terkenal di Indonesia. Kepopuleran ini mengundang banyak pihak berkomentar, mulai dari kiai, anggota DPRD, hingga MUI.

Jaka Tingkir telah memiliki citra positif di masyarakat Jawa. Ia dianggap sebagai tokoh yang berjasa pada penyebaran agama Islam.


Tentu tidak ada hubungan antara tokoh tersebut dengan tokoh pada lagu “Joko Tingkir Ngombe Dawet”. Jika ditelaah, lagu “Joko Tingkir Ngombe Dawet” bisa digolongkan sebagai puisi Jawa, yaitu Parikan. Dalam kesusastraan Indonesia, Parikan sama dengan pantun. Pigeud dalam Javaansche Volksvertoningen berpendapat bahwa istilah “Parikan” berasal dari kata pari. Pari (padi) dalam bahasa krama berarti pantun.



Ada kemungkinan sejarah Parikan berasal dari pantun Melayu. Hal itu diutarakan ahli susastra Karsono H. Saputra.


“Dugaan ini masuk akal jika ditilik bahwa pada tahun-tahun tersebut intensitas pergaulan antar budaya Melayu sangat tinggi,” kata Karsono dalam Puisi Jawa Struktur dan Estetika.


Sastra wayang dan cerita panji di sastra Melayu menjadi pertanda pengaruh sastra Jawa. Sebaliknya, ada pula sastra Jawa yang terpengaruh sastra Melayu. Selain Parikan, ada Singir (syair) serta berbagai serat seperti Serat Tajusalatin.



Parikan dalam Seni Pertunjukan


Parikan sering digunakan dalam seni pertunjukan rakyat. Ia berkembang di tengah-tengah masyarakat Jawa. “Setiap orang Jawa dapat mengucapkan sekaligus menciptakan parikan,” kata Karsono. Oleh karena itu, wajar jika jenis Parikan tertentu akhirnya tidak diketahui penciptanya. Pun dengan lagu “Joko Tingkir Ngombe Dawet” dalam tayangan Youtube Cak Nan dan Happy Asmara, pencipta liriknya hanya tertulis NN.


Sebelum lagu “Joko Tingkir Ngombe Dawet”, sudah ada lagu-lagu lain, seperti dangdut dan campursari, yang menggunakan Parikan. Antara lain”Randha Kempling” dan ”Jambu Alas”.


Masuknya parikan dalam dangdut campur sari disebabkan oleh dinamika masyarakan saat ini. Supriono dalam makalah berjudul Marginalisasi dan Revitalisasi Parikan di Era Kelisanan Sekunder padaInternational Symposiumon Urban Studies 2010 mengatakan, “Campursari telah menjelma sebagai ikon kultur populer dalam kemasan budaya massa dan budaya urban. Berbeda dari tembang (klasik, red.) Jawa, lagu-lagu campursari hampir selalu mengandung parikan.”



Parikan hadir bukan hanya sebagai hiburan namun lebih ke sarana komunikasi antara penampil dan penonton. Isi cerita dalam parikan dapat berupa nasihat, sindiran, senda gurau, dan lain sebagainya. Karsono berpendapat bahwa tema parikan beragam sesuai dengan situasi ketika wacana tersebut dihadirkan. Akan tetapi pada lagu-lagu campursari, Supriono memiliki pandangan bahwa parikan tidak lagi alami sebagai sarana komunikasi langsung.


Banyak unsur yang hilang, seperti unsur spontanitas, interpolasi, keterlibatan rasa (emosi) dalam interaksi partisipatoris antar penikmat,” tulis Supriono.


Apabila saat ini parikan dengan lirik “Joko Tingkir ngombe dawet, Jo dipikir marai mumet” hadir di pertunjukan dangdut campur sari, zaman dahulu parikan sering hadir pada pertunjukan ludruk. Tim ludruk biasanya tampil berpindah-pindah tempat.



Salah satu tokoh fenomenal yang pernah menyindir menggunakan parikan adalah Cak Gondo Durasim. Dalam kelompok ludruknya ia memiliki parikan yang banyak digunakan dalam setiap pentas.


"Bekupon omahe dara, dijajah Nipon tambah sengsoro, Kentang karo gubis, Jepang menang wong Jawa ngemis," demikian salah satu parikan Cak Gondo yang artinya “Kandang rumahnya burung dara, dijajah Jepang tambah sengsara, Kentang dan kol, Jepang menang orang Jawa menangis.” Parikan tersebut muncul saat penjajahan Jepang sekitar tahun 1943-1944.


Hingga kini, belum ada yang dapat menentukan tujuan penciptaan lagu “Joko Tingkir ngombe dawet”. Kemungkinannya: entah ada wacana tertentu yang ingin disindir, nasihat, atau hanya sekedar senda gurau belaka.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo bersama rekan-rekan seperjuangan sebangsa maupun lintas bangsa menggalang perlawanan di Eropa, tempat bercokolnya para kolonialis.
bg-gray.jpg
Getol berorganisasi ketimbang kuliah, Ahmad Subardjo mengubah haluan Perhimpunan Indonesia. Menggagas lambang sampai bikin kopiah untuk identitas nasional.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah dituduh pro-Amerika gara-gara meloloskan flm Hollywood.
bg-gray.jpg
Presiden Sukarno menggagas program transmigrasi Djajaloka untuk menyejahterakan eks pejuang Perang Kemerdekaan. Gejolak politik dan transisi kekuasaan menjadikannya melenceng dari tujuan awal.
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Selalu ada cerita di balik kemunculan maskot. Termasuk pada Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang.
Selalu ada cerita di balik kemunculan maskot. Termasuk pada Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang.
Mayoritas museum di Indonesia masih menampilkan sisi rekreasi.
Mayoritas museum di Indonesia masih menampilkan sisi rekreasi.
Sejarah Indonesia tidak hitam-putih. Ada orang Belanda yang mendukung kemerdekaan Indonesia, sebaliknya ada pribumi yang nyaman menjadi pegawai pemerintah Belanda.
Sejarah Indonesia tidak hitam-putih. Ada orang Belanda yang mendukung kemerdekaan Indonesia, sebaliknya ada pribumi yang nyaman menjadi pegawai pemerintah Belanda.
Meski namanya masih asing di telinga, kerja keras bangsa Viking ini membuahkan prestasi dalam sepakbola.
Meski namanya masih asing di telinga, kerja keras bangsa Viking ini membuahkan prestasi dalam sepakbola.
Saat meletus, Gunung Agung menimbulkan bencana hebat. Ribuan orang tewas, ratusan ribu lainnya menjadi pengungsi
Saat meletus, Gunung Agung menimbulkan bencana hebat. Ribuan orang tewas, ratusan ribu lainnya menjadi pengungsi
transparant.png
bottom of page