- 5 Jun 2020
- 5 menit membaca
Diperbarui: 6 jam yang lalu
DALAM perjalanan ke Desa Kondomari, sekira tiga kilometer dari lapangan terbang Maleme di Pulau Kreta, Yunani, Franz Peter Weixler, fotografer XI Fliegerkorps Division Wehrmacht (AD Jerman), sempat singgah di Desa Maleme. Di sana dia ditunjukkan kondisi beberapa mayat prajurit Jerman yang membusuk oleh Kapten Horst Trebes, komandan salah satu kompi di Batalion II Resimen Badai Lintas Udara 1 AD Jerman.
Weixler dan Trebes pun berdebat. Weixler menyatakan mayat-mayat itu membusuk bukan disebabkan oleh penyiksaan yang dilakukan penduduk, tapi Trebes bersikeras mayat-mayat itu membusuk akibat siksaan penduduk. Keduanya lalu melanjutkan perjalanan ke Desa Kondomari, tempat di mana Trebes akan memimpin ekspedisi untuk menghukum penduduk desa yang diyakini menyiksa tentara Jerman dalam Pertempuran Kreta (Mei-Juni 1941).
Pertempuran Kreta terjadi pada fase awal Perang Dunia II. Merebut Kreta mendadak jadi obsesi Hitler setelah berhasil menduduki Yunani daratan pada April 1941. Upaya meyakinkan yang terus diutarakan jenderal-jenderalnya di Luftwaffe (angkatan udara) membuat Hitler khawatir Kreta, yang masih dikuasai Inggris (Sekutu), akan dijadikan sebaagi basis untuk menyerang pangkalan minyak terpenting Jerman di Rumania, Ploiesti, dan serangan-serangan lain di sisi selatan daratan Eropa. Hitler jadi ragu karena dia mesti membagi fokus yang tadinya tercurah seluruhnya untuk pematangan rencana invasi ke Uni Soviet.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















