Diperbarui: 24 Jul
SULTAN Zainul Arifin memimpin Kesultanan Banten antara 1733-1748. Namun, istrinya, Ratu Syarifah Fatimah, menginginkan kekuasaannya. Untuk memuluskan tujuannya, Ratu Syarifah bersekutu dengan VOC.
Ratu Syarifah merancang konflik antara Sultan Zainul Arifin dan putranya, Pangeran Gusti. Hasilnya, putra mahkota diasingkan ke Ceylon (Sri Lanka). Ratu Syarifah kemudian mendorong kemenakan laki-lakinya, Syarif Abdullah, sebagai putra mahkota yang baru pada 1747.
Namun, menurut M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern, putra mahkota yang baru itu terlalu muda untuk memerintah, sementara Zainul Arifin menunjukkan tanda-tanda penyakit jiwa. Karenanya, atas persetujuan Ratu Syarifah, VOC menangkap dan membuang Sultan Zainul Arifin ke Ambon. Atas restu VOC, Ratu Syarifah kemudian menjadi “wali Sultan”. Namun kalangan elite Banten menentang pemerintahan Ratu Syarifah yang menindas.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












