top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Rosihan Tidur Berbantalkan Granat

Sepanjang perjalanan ke Yogyakarta, Rosihan Anwar menjadikan sebuah besek sebagai alas tidur. Tak dinyana, isi besek itu ternyata bahan peledak.

26 Mar 2020

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Rosihan Anwar, jurnalis di masa revolusi. Sumber: Wiki.

Setelah bertolak dari Makassar usai meliput Konferensi Malino, (Juni 1946) wartawan Merdeka, Rosihan Anwar menuju Yogyakarta. Dari Jakarta, Rosihan bersama Soedjatmoko, pemimpin redaksi Het Inzicht menumpang kereta api barang. Mereka duduk di bangku panjang yang melekat ke dinding gerbong.


Di Krawang, kereta api berhenti. Beberapa pemuda anggota laskar rakyat naik sambil menenteng senjata dan ranselnya. Walaupun berdesak-sesakan, mereka dapat juga duduk. Masuk Cikampek, penumpang bertambah lagi. Tampak sekumpulan pemuda yang memakai kaplaars dengan pistol di pinggang memenuhi gerbong. Semuanya juga hendak ke Yogya, ibu kota sementara Republik Indonesia. 


Perjalanan panjang itu membutuhkan waktu sehari semalam. Rosihan pun kelelahan. Dia mencari cara agar tidur dengan nyaman. Terbersitlah ide untuk menjadikan rak barang yang ada di atas bangku dekat langit-langit gerbong sebagai tempat tidur. Lagi pula, Rosihan bertubuh kurus dan ramping sehingga tidak sulit nyempil di ruang sempit itu.


Setelah menyelinap ke rak barang, Rosihan membentangkan segulung tikar sembahyang yang di bawanya dari Makassar sebagai alas. Tapi dia butuh bantal untuk sandaran kepala. Tidak jauh dari tumpukan barang, rupanya ada sebuah besek (keranjang kecil berbahan bambu dan berbentuk segi empat) . Rosihan menarik besek itu dijadikannya bantal. Pas!   

   

“Ada bantal, ada guling mengalang punggung, apa lagi yang kurang? Kereta api makin keras getarannya, tetapi saya sudah lama terlelap nyenyak,”kenang Rosihan dalam Musim Berganti: Sekilas Sejarah Indonesia 1925—1950.


Keesokan pagi, cahaya mentari menembusi jendela gerbong. Rosihan terjaga dengan tubuh yang lebih segar. Dia turun dari rak barang dan kembali duduk di bangku. Sejurus kemudian, seorang penumpang menyapa Rosihan.


“Bisa tidur?” tanya si penumpang seraya tersenyum.


“Nyenyak,” sahut Rosihan.


“Beruntung,” kata si penumpang lagi.


Rosihan dengan santai mengatakan tidurnya nyenyaknya lantaran ada bantal dari besek dan juga tikar sembahyang yang beralih fungsi jadi guling. Mungkin karena ingin mengucapkan terimakasih, Rosihan menyakan siapa yang empunya besek itu.


“Punya kami,” jawab seorang anggota laskar.


“Apa isinya yah?” tanya Rosihan.


“Sedikit pakaian dalam, tetapi di bawahnya ada granat,” jawab si laskar.


“Granaaatt…?” tanya Rosihan terbelalak.


“Ya, granat kami,” ujar anggota laskar itu dengan tenang.


“Waduh, Masya Allah,” kata Rosihan. Bibirnya gemetar.


Anggota laskar yang menyaksikan Rosihan panik itu pun tertawa. Menurut Rosihan mereka bukannya sembrono menaruh bahan peledak. Namun bagi para laskar yang terbiasa berpindah front pertempuran sambil membawa senjata, maka cara begitu sudah lumrah.


Menyadari dirinya baru saja selamat dari ledakan granat, Rosihan terhenyak dalam lamunan. Pikirnya, “Andai kata salah satu granat itu terlepas pinnya, maka pasti benak saya menjadi bubur bertebaran dan kembali ke hadirat ilahi.” 

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Perang Jawa Memicu Kemerdekaan Belgia dari Belanda

Perang Jawa Memicu Kemerdekaan Belgia dari Belanda

Hubungan diplomatik Indonesia dan Belgia secara resmi sudah terjalin sejak 75 tahun silam. Namun, siapa nyana, kemerdekaan Belgia dari Belanda dipicu oleh Perang Jawa.
Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

Persekutuan Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja

Tuan Rondahaim dan Sisingamangaraja bersekutu melawan Belanda. Keduanya telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Prajurit Keraton Ikut PKI

Prajurit Keraton Ikut PKI

Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
bottom of page