top of page

Saat Hatta dan Kawan-kawan Dikencingi Sukarno

Kembali ke Jakarta, Sukarno dan Hatta menumpang pesawat bomber uzur yang tak dilengkapi toilet. Hatta dan rombongan kena batunya.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 8 Mei 2020
  • 2 menit membaca

BELUM lagi ketegangan akibat perdebatannya dengan golongan muda mereda, Sukarno dikagetkan oleh panggilan rahasia dari Jenderal Hisaichi Terauchi, panglima tertinggi pasukan Jepang di Asia Tenggara. Terauchi meminta Sukarno, Moh. Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat datang ke Dalat, Vietnam menghadap kepadanya.


“Aku gugup. Aku merasakan sesuatu yang penting yang akan terjadi. Tapi apa?” kata Sukarno dalam otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.


Meski tak satupun dari pimpinan bangsa Indonesia tersebut tahu tujuan pemanggilan oleh Terauchi itu, toh mereka tetap terbang pada 8 Agustus 1945 menggunakan pesawat yang disediakan pihak Jepang. Penerbangan sengaja dilakukan pada malam buta karena misi tersebut amat dirahasiakan supaya tak tercium Sekutu.


“Perwira Jepang mengantarkan kami ialah Letnan Kolonel Nomura dari Gunseikanbu. Dalam perjalanan ke Dalat, kami menginap semalam di Singapura dan semalam di Saigon,” kata Hatta dalam Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi.


Perjalanan menuju Saigon diwarnai hujan lebat dan kabut tebal sebelum pesawat mendarat. Meski pilot sudah memilih membawa pesawat berputar-putar di udara selama sejam, keadaan tak kunjung membaik sehingga memaksanya mendaratkan pesawat.


“Kami mendarat dengan keras di suatu lapangan terbuka dan hampir saja menubruk seekor kerbau. Barang-barang berserakan. Kami terhempas dan benjol-benjol. Pikiran kami semua sangat tergoncang karenanya,” kata Sukarno mengenang.


Bercampur dengan kecemasan karena tak tahu tujuan pemanggilan mereka oleh Terauchi, pengalaman tak mengenakkan mereka itu belum selesai. Penjemput yang akan membawa mereka ke Saigon belum juga datang setelah beberapa jam. “Selama berjam-jam kami menunggu dengan sangat gelisah dan membikin urat syaraf serasa akan pecah,” kata Sukarno melanjutkan.


Mereka akhirnya diterima Jenderal Terauchi selaku perwakilan Tokyo di Asia Tenggara, di Dalat keesokan paginya. Kepada mereka, Terauchi menyatakan Tokyo telah memutuskan memberi kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Bagaimana langkah selanjutnya untuk mewujudkan kemerdekaan itu, Terauchi mempersilahkan pimpinan bangsa Indonesia mengambil sepenuhnya langkah-langkah yang diinginkan, pemerintah Jepang tak ingin mencampuri lagi.


“Aku gembira luar biasa sebab hari itu tanggal 12 Agustus 1945, hari ulang tahunku,” kata Hatta.


Setelah menginap semalam di Saigon, rombongan Sukarno bertolak ke Singapura untuk transit semalam sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Dalam perjalanan kembali ke Jakarta inilah kesialan kembali dialami rombongan.


“Kami tidak lagi naik pesawat penumpang yang enak. Kami diantar oleh seorang penerbang, seorang pembantu penerbang dan dengan pesawat pembom yang sudah uzur dan ringsek ditambah lagi dengan hiasan lubang-luabang bekas peluru. Tidak ada tempat duduk. Kami harus berdiri sepanjang perjalanan atau berbaring. Dan kami membeku kedinginan. Tidak ada pengukur suhu atau pesawat pemanas. Kakus pun tidak,” kata Sukarno.


Meski kondisi pesawat tak nyaman, Sukarno memanfaatkan penerbangan itu untuk berdiskusi dengan Hatta. Yang diajak berdiskusi pun tak mengeluhkan fasilitas yang ada karena pikirannya tersedot untuk memikirkan cara-cara apa yang mesti dilakukan untuk mewujudkan kemerdekaan negerinya di tengah kesempatan emas itu.   


Di tengah diskusi itulah tiba-tiba Sukarno berbisik kepada dokter Suharto, dokter pribadinya. “Saya mau buang air kecil. Bagaimana ya?”


Pertanyaan Sukarno membuat sang dokter segera memeriksa keadaan untuk menemukan cara. Setelah tak menemukan cara, Suharto menyarankan Sukarno agar melakukan hajatnya di bagian belakang pesawat tempat kumpulan lubang bekas tembakan berada. Sukarno pun manut dan segera ke belakang meninggalkan Hatta yang tetap di posisinya.


“Nah, baru saja kumulai maka angin yang keras bertiup melalui sekelompok lubang peluru dan menerbangkan semua itu memenuhi ruang pesawat. Kawan-kawanku yang malang terpaksa mandi dengan zat cair itu. Dalam keadaan setengah basah inilah Pemimpin Besar dari Revolusi Indonesia sampai di Jakarta,” kata Sukarno.*

bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
transparant.png
bottom of page