BELUM lagi ketegangan akibat perdebatannya dengan golongan muda mereda, Sukarno dikagetkan oleh panggilan rahasia dari Jenderal Hisaichi Terauchi, panglima tertinggi pasukan Jepang di Asia Tenggara. Terauchi meminta Sukarno, Moh. Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat datang ke Dalat, Vietnam menghadap kepadanya.
“Aku gugup. Aku merasakan sesuatu yang penting yang akan terjadi. Tapi apa?” kata Sukarno dalam otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
Meski tak satupun dari pimpinan bangsa Indonesia tersebut tahu tujuan pemanggilan oleh Terauchi itu, toh mereka tetap terbang pada 8 Agustus 1945 menggunakan pesawat yang disediakan pihak Jepang. Penerbangan sengaja dilakukan pada malam buta karena misi tersebut amat dirahasiakan supaya tak tercium Sekutu.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















