- 7 Sep 2021
- 4 menit membaca
Diperbarui: 4 hari yang lalu
H. JOMAN, pria berambut putih itu, segera beranjak dari bale ketika seorang pembeli datang ke warung soto minya. Sambil bertanya keinginan si pembeli, tangannya membuka kaca etalase. Dia meracik bahan-bahan soto ke mangkuk lalu menuangkan kuah mendidih. Tak sampai 10 menit, semangkuk soto mi tersaji di meja pembeli.
Joman berdagang soto mi ala Betawi sejak awal 1970-an. “Lagi bujangan mah [saya] kerja di kota. Gua kerja di tukang sate di Kebon Sirih, Jalan Sabang,” ujar Joman kepada Historia.ID. Beberapa lama kemudian, Joman pulang ke rumahnya di Pamulang dan menikah. Untuk menafkahi keluarganya, dia berdagang soto keliling hingga akhirnya mangkal. Setelah berkali-kali pindah tempat mangkal, dia berjualan di halaman rumahnya.
Soto mi ala Betawi hanyalah satu dari sekian jenis soto yang ada di tanah air. Meski tak diketahui pasti kapan awal kemunculannya, soto telah ada sejak berabad-abad silam. Keberadaan soto terkait erat dengan perniagaan antara kepulauan Nusantara dan berbagai bangsa yang menyinggahinya, ketersediaan bahan-bahan, dan pertemuan tradisi kuliner lokal dan pendatang.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

















