- 12 Okt 2010
- 4 menit membaca
Diperbarui: 11 Des 2025
SEJARAH bermula dan berakhir di sini. Pada 1869, Kaisar Meiji memerintahkan pembangunan Shokonsha –kini dikenal dengan nama Kuil Yasukuni– untuk mengenang jiwa warga Jepang yang berkorban bagi negara sejak 1853.
Kini, lebih dari 2.466.000 nama, dari Perang Boshin hingga Perang Dunia II, terlepas dari pangkat atau status sosialnya, tercatat di kuil ini. Ada nama-nama tentara bekas jajahannya (Korea dan Taiwan) yang terbunuh dalam perang. Ada pula nama 14 orang yang dinyatakan sebagai penjahat perang Kelas A setelah Perang Dunia II, termasuk Perdana Menteri Jenderal Hideki Tojo yang dieksekusi pada 1948. Dua kali setahun, di musim semi dan musim gugur, sebuah ritual diadakan, di mana kaisar memberikan persembahan untuk mereka.
Tapi bagi perdana menteri Jepang, berkunjung ke Yasukuni adalah sebuah masalah. Negara tetangga mereka, China dan Korea, akan meneriakkan protes karena bagi mereka penghuni Yasukuni adalah penjahat perang. Mengunjungi Yasukuni berarti menghormati penjahat perang. Inilah kesadaran kolektif yang terpatri dalam pikiran rakyat China dan Korea.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















