top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Sersan Mayor Tentara Kolonial Jadi Presiden

Mobutu Sese Seko, pelajar dan bintara cerdas yang menjalin hubungan dengan CIA lalu menjadi presiden.

26 Feb 2026

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Mobutu Sese Seko berkunjung ke Israel, 1963. (National Library of Israel/Wikimedia Commons).

  • 3 jam yang lalu
  • 3 menit membaca

ADA kemiripan antara Joseph-Désiré Mobutu, yang populer sebagai Mobutu Sese Seko, dengan Soeharto. Keduanya sama-sama cerdas dan berkuasa selama 32 tahun. Keduanya juga sama-sama pernah menjadi sersan tentara kolonial di negeri masing-masing. Soeharto di tentara kolonial Hindia Belanda Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL), sementara Mobutu di tentara kolonial Belgia di Kongo, Force Publique (FP).

 

Namun, Soeharto dikenal pendiam dan tidak suka membuat perkara di masa muda. Dia masuk tentara karena perkara menyambung hidup. Sementara, Mobutu adalah siswa cerdas di Ecole Moyenne Mbandaka. Dia hobi membaca. Tak hanya suratkabar, buku-buku “berat” juga dibaca Mobutu. Penulis kesukaannya adalah Jenderal Charles De Gaulle dari Perancis, Perdana Menteri Inggris Winston Churchill dan Nicollo Machiavelli dari Italia yang menulis The Prince. Jadi Mobutu muda lebih intelek daripada Soeharto muda.

 

“Dia rajin membaca dan terkesan dengan apa yang dibacanya,” catat Dave Renton dkk. dalam The Congo  Plunder and Resistance.



Di sekolah misionaris Katolik itu, Mobutu tak hanya siswa yang pandai dalam banyak pelajaran dan jago olahraga, tapi juga pandai menulis. Anak koki bernama Albéric Gbemani dan Marie Madeleine Yemo itu bahkan pernah menjadi editor suratkabar sekolah.

 

Suatu kali, Mobutu yang kelahiran Lisala, 14 Oktober 1930 itu kabur naik kapal Mbandaka ke Leopoldville dan menjalin hubungan dengan seorang perempuan muda. Dia lalu dikeluarkan dari sekolah pada 1949 dan pada awal 1950 dia bergabung ke FP.

 

Ketika baru menjadi tentara, Mobutu berkenalan dengan Sersan Louis de Gonzague Bobozo (1915-1982), yang menjadi isntrukturnya. Boboza di tahun 1950 sudah belasan tahun jadi tentara dan perah terlibat dalam melawan tentara Italia di Perang Dunia II Front Ethiopia. 

 

“Dia menjadi Sersan bagi Mobutu di tahun 1950-an dan tumbuh ikatan kekeluargaan di antara mereka berdua,” catat Michael G. Schatzberg dalam The Dialectics of Oppression in Zaire.


Karier Mobutu di FP cukup baik untuk kebanyakan orang Afrika. Kemampuan berbahasa Perancis dan apa yang dipelajarinya di sekolah membuatnya dengan cepat menjadi sersan. Di FP, Mobutu pernah menjadi juru tulis.

 

Namun, Mobutu tak lama di tentara kolonial Belgia di Kongo itu. Pada 1956, Mobutu keluar dengan pangkat terakhir Sersan Mayor.


 

Sekeluarnya dari FP, Mobutu menjadi jurnalis. Dia pernah menjadi reporter L'Avenir dan  editor Actualités Africaines. Selama menjadi wartawan, Mobutu berkenalan dengan Patrice Lumumba (1925-1961), yang memimpin Mouvement National Congolais (MNC) alias Gerakan Nasional Kongo. Setelah 1958, Mobutu menjadi pembantu kepercayaan Lumumba. Maka ketika Lumumba dipenjara karena aktivitas politiknya di Kongo, Mobutu mewakili Lumumba hadir di Konferensi Kemerdekaan Kongo di Brussel tahun 1960.


Setelah Kongo merdeka pada 30 Juni 1960, Joseph Kasavubu ditunjuk menjadi presiden Kongo dan Lumumba ditunjuk menjadi perdana menteri. Mobutu dimasukkan dalam kabinet sebagai menteri luar negeri yang mengurusi pertahanan. Namun negeri yang baru merdeka itu mesti kehilangan Provinsi Katanga, yang di bawah Moise Tshombe (1919-1969) sebagai presidennya, memisahkan diri pada 11 Juli 1960.

 

Waktu terjadi pemberontakan tentara pribumi Kongo terhadap perwira Belgia di FP, Presiden Kasavubu memberi Mobutu pangkat kolonel untuk mengatasi pemberontakan. Tugas itu tidaklah sulit bagi Mobuto, sebab kawan lamanya di tentara dulu, Bobozo, adalah salah satu pemimpin pemberontakan itu. Louis Bobozo yang terakhir di FP berpangkat Ajudan (pembantu letnan) kemudian dijadikan kolonel dalam Armée Nationale Congolaise (ANC/Tentara Nasional Kongo). Ketika Mobutu memegang tentara pada awal dekade 1960-an, Bobozo adalah kepala staf tentara Kongo. Maka Kolonel Boboza ikut melawan pemberontakan Simba.

 

Namun, Kongo dilanda prahara lebih parah. Presiden Kasavubu dan PM Lumumba berseteru. Mobutu memilih tak mendukung Lumumba yang berseberangan dengan negara-negara Barat. Lumumba sendiri lalu terbunuh. Kasavubu lalu menjadikan Mobutu panglima angkatan bersenjata.



Kekacauan terus terjadi setelah Kongo merdeka. Konflik di Kongo melibatkan tentara bayaran dari Eropa. Kongo adalah daerah pertambangan uranium yang diincar Blok Barat dan Blok Timur dalam Perang Dingin. Dalam film Mister Bob (2011), digambarkan Mobutu tak menyukai kehadiran tentara bayaran yang komandannya orang Eropa dan dia berusaha menguranginya hingga sekecil mungkin. Namun dia ingin tentara bayaran Perancis yang pakar kudeta, Bob Denard (1929-2007), menjadi penasihat militernya.

 

Pada 24 November 1965, Mobutu mencetak sejarah dengan merebut kekuasaan dari Kasavubu dan Tshombe. Kabar CIA mendukung Mobutu sebagai presiden baru di Kongo, yang kemudian disebut Zaire, pun menyeruak. Amat beralasan, sebab Mobutu berkawan dengan agen CIA Larry Devlin.

 

“Mereka pertama bertemu di Brusel awal 1960,” sebut Michael G. Schatzberg, yang menggambarkan  momen ketika Mobutu menjadi bagian dari perwakilan kemerdekaan Kongo yang didukung Uni Soviet.

 

Mobutu menjadi presiden yang mulanya dekat dengan Amerika Serikat namun belakangan berhubungan juga dengan Republik Rakyat Tiongkok. Presiden Mobutu lalu mengangkat Mayor Jenderal Louis Bobozo menjadi panglima ANC. Bobozo pensiun pada 1972, jauh sebelum sang presiden turun. Mobutu sendiri berkuasa hingga 16 Mei 1997 atau hampir 32 tahun. Dia lengser dari kepresidenan pada usia 66 tahun dan pada 7 September 1997 tutup usia. Setelahnya, Zaire menjadi Kongo lagi.*


 

 

 

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
bottom of page