- 13 menit yang lalu
- 6 menit membaca
BAIK Iran maupun Amerika Serikat (AS), keduanya sama-sama mengklaim kemenangan pasca-disepakatinya gencatan senjata selama dua pekan pada Rabu (8/4/2026). Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sesumbar mengancam akan menghancurkan infrastruktur Iran setelah sebelumya, 2 April 2026, serangan AS menghancurkan Jembatan Karaj B1 di Alborz.
“Hari Selasa (7 April, red.) akan jadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan, semua jadi satu di Iran. Tidak akan ada hari itu!!! Buka selat sialan itu (Selat Hormuz), dasar para bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka – LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J. TRUMP”, kata Presiden Trump di akun media sosial Truth, @realDonaldTrump, 5 April 2026.
Pada 2 April, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga melancarkan retorika serupa pasca-menyerang Jembatan Karaj B1. Katanya, AS siap membuat Iran kembali ke zaman batu.
Namun bukannya gentar, Iran justru ‘nge-troll’ (meledek ) balik ancaman-ancaman vulgar AS melalui mesin-mesin propagandanya. Baik via media massa maupun akun-akun media sosial kedutaannya di beberapa negara. Salah satunya dilakukan akun X Kedutaan Besar Iran untuk Afrika Selatan, @IraninSA, 2 April 2026 silam. Akun itu menjawab cuitan Hegseth “Kembali ke Zaman Batu” dengan balasan, “Zaman Batu? Pada saat Anda masih di gua mencari api, kami sudah menuliskan hak asasi manusia pada prasasti Silinder Koresh (Abad ke-6 Sebelum Masehi). Kami bertahan dari serangan Alexander dan invasi Mongol; karena Iran bukan sekadar negara, Iran adalah sebuah peradaban.”
Kedutaan Iran untuk Indonesia pun ikut-ikutan nge-troll militer AS. Akun X mereka, @IraninIndonesia, 5 April 2026 lalu mengunggah sebuah cuplikan video berdurasi 10 detik tentang satu pesawat dan dua helikopter AS jatuh ditembak misil disertai takarir: “Kedamaian menyertai Anda (emoji satu pesawat dan dua heli). Dan Anda disertai kedamaian (emoji tiga misil).”
Selain dengan video-video animasi berbasis AI –sebagaimana artikel sebelumnya, ledekan Iran untuk AS juga dilancarkan via meme dan media sosial. Teknologi belakangan turut mengubah cara propaganda di saat-saat konflik yang sebelumnya dilancarkan via radio. Berikut beberapa propagandis yang turut berupaya menjatuhkan moral AS pada konflik-konflik sejak Perang Pasifik hingga Perang Vietnam:
Tokyo Rose

Tidak hanya satu atau dua orang, para perempuan penyiar yang melancarkan propaganda untuk Jepang semasa Perang Pasifik (1941-1945) sejatinya tak pernah teridentifikasi secara pasti. Namun, mereka begitu lancar berbahasa Inggris dalam menyampaikan pesan-pesan provokatif dan menggelitik yang diiringi lagu-lagu Barat dalam siaran-siaran radio yang bisa ditangkap para serdadu Amerika Serikat (AS) di seantero Pasifik.
Julukan “Tokyo Rose” pun bukan dari para propagandis Jepang itu, melainkan dari media-media massa AS. Baru kemudian para penyiar itu ikut hanyut menggunakannya baik dalam siaran-siaran yang dilakukan dari Jepang, Manila (Filipina), maupun Shanghai (China).
Salah satu veteran Perang Pasifik yang masih mengingat akan fenomena Tokyo Rose adalah Bill Ohrmann, veteran prajurit Korps Udara Angkatan Darat AS. Pada 1943-1944, dirinya bertugas di Papua Nugini.
“Dia (penyiar perempuan) akan mengatakan, ‘Ini Tokyo Rose’. Dan dia bicara (bahasa Inggris) dengan baik, meski sebagian besar kami tak pernah menanggapinya dengan serius. Siarannya dimulai dengan musik Amerika dan dia akan berbicara, ‘Kepada kalian yang bertempur di hutan, para 4-F (sebutan serdadu buangan) di Amerika merebut para kekasih kalian’ dan semacam itu. Kami menertawakannya karena itu hiburan buat kami,” kenang Ohrmann dalam arsip proyek sejarah lisan University of Montana pada 1987, “Veterans Remember Tokyo Rose”.
Pasca-perang, muncul satu terduga penyiar Tokyo Rose itu yang kemudian ditangkap, yakni Iva Toguri. Ia kelahiran Los Angeles, 4 Juli 1916 dari keluarga imigran Jepang yang lima bulan sebelum serbuan Pearl Harbor (7 Desember 1941) bepergian ke Jepang untuk mengunjungi kerabatnya. Pecahnya perang membuatnya tak bisa balik ke AS namun ia menolak melepaskan kewarganegaraan AS.
Intimidasi membuat Iva terpaksa ikut bekerja untuk Jepang sebagai propagandis dalam program radio Zero Hour mulai November 1943. Siaran ini diinisasi perwira intelijen Jepang Mayor Shigetsugu Tsuneishi –dia memaksa para tawanan Sekutu jadi penyiar propaganda Jepang.
Pasca-perang, dua jurnalis AS mencari-cari siapa Tokyo Rose. Baru pada September 1945 Iva mengaku sebagai salah satu dari Tokyo Rose karena butuh uang untuk bisa pulang ke AS.
Iva kemudian ditangkap dan ditahan. Pada September 1948, Iva dipindahkan ke San Francisco lalu diseret ke Pengadilan Distrik Federal San Francisco. Meski tak terbukti sebagai Tokyo Rose, Iva divonis bersalah ikut jadi penyiar propaganda Jepang. Ia dihukum 10 tahun penjara, denda 10 ribu dolar AS, serta dicabut statusnya sebagai warga AS.
“Hari itu pada bulan Oktober, 1944, terdakwa berada di Tokyo, Jepang, dalam sebuah studio siaran Broadcasting Corporation Jepang, berbicara dengan mikrofon menyiarkan berita tentang kapal-kapal tenggelam,” kata para juri, dikutip Masayo Duus dalam Tokyo Rose: Orphan of the Pacific.
Seoul City Sue

Anna Wallis, pengajar Sekolah Minggu untuk Gereja Metodis Episkopal, terjebak dalam Perang Korea (1950-1953) ketika Korea Utara menyerbu dan menguasai Seoul medio Juni 1950. Karena enggan meninggalkan Sekolah Minggu tapi berada di bawah tekanan pasukan Korea Utara, Anna dan suaminya, pria lokal bernama Suh Kyu-ch’ol, mau bersumpah setia kepada rezim Korea Utara.
Mulai Juli 1950, di bawah supervisi instruktur Universitas Seoul Dr. Lee Soo, Anna menyiarkan propaganda perang via program Radio Seoul di studio HLKA (kini stasiun radio dan televisi KBS). Ketika terjadi pendaratan dan Pertempuran Incheon (10-19 September 1950), di mana pasukan AS mulai terlibat, Anna dan suaminya dievakuasi ke utara dan terus melancarkan siaran melalui Radio Pyongyang.
Lewat siaran-siarannya, suara Anna mulai dikenal oleh pasukan AS hingga mereka memberinya banyak julukan. Di antaranya “Rice Bowl Maggie”, Rice Ball Kate”, meski kemudian ia lebih dikenal sebagai “Seoul City Sue”. Para G.I. (julukan serdadu AS) menjulukinya berdasarkan lagu “Sioux City Sue” yang liriknya diplesetkan menjadi “Seoul City Sue, nothing smells of kimchi like my Seoul City Sue.”
“Suaranya terus menggema membacakan halaman demi halaman detail tentang bom-bom yang dijatuhkan, warga sipil yang tewas dan terluka, dengan beberapa kali menyebut ‘imperialis Amerika’ dan ‘penjajah Wall Street’. Namun tak seperti Tokyo Rose di Perang Dunia II, siarannya tak menawarkan musik, tidak ada hiburan, atau bahkan menggoda para G.I. untuk menyerah. Justru ia terdengar membosankan,” tulis The New York Times edisi 28 Agustus 1950, “Missionaries say ‘Seoul City Sue’ is Ann Suhr, U.S. wife of Korean”.
Pasca-gencatan senjata, Anna dan suaminya bak hilang ditelan bumi. Hingga seorang pembelot AS lain, Charles Robert Jenkins, menceritakannya dalam buku The Reluctant Communist. Jenkins mengklaim sempat bertemu Anna di Pyongyang pada 1965. Jenkins kemudian mengungkapkan bahwa Anna dieksekusi oleh seorang agen ganda Korea Selatan pada 1969.
Hanoi Hannah

Lahir di Hanoi pada 1931, Trịnh Thị Ngọ sejak remaja begitu menggemari film-film Hollywood. Salah satunya Gone with the Wind (1939) yang dibintangi aktor papan atas Clark Gable dan Vivien Leigh. Film tersebut membuatnya antusias belajar bahasa Inggris dengan kursus privat yang difasilitasi keluarganya yang industriawan pabrik gelas. Pda 1955 Ngọ sudah jadi penyiar berbahasa Inggris di radio Voice of Vietnam dengan nama panggung Thu Hương (artinya: aroma musim gugur).
Ketika Perang Vietnam (1955-1975) pecah, Ngọ memilih berpihak pada kubu Partai Komunis Vietnam (CPV). Dengan supervisi Tentara Rakyat Vietnam (PAVN), Ngọ menulis sendiri naskah narasi siaran propagandanya yang ditujukan kepada para G.I. Isinya memberitakan nama para G.I. yang berhasil ditawan atau tewas, membujuk mereka yang masih bertahan untuk meninggalkan pos-pos mereka, hingga memutar lagu-lagu Barat anti-perang untuk menjatuhkan moral pasukan AS.
“Ini Thu Hương memanggil para prajurit Amerika di Vietnam Selatan,” demikian Ngọ selalu mengawali siarannya.
Meski begitu, para G.I. malah menjulukinya “Hannoi Hannah”, merujuk pada lokasi asal siarannya dan nama gadis Barat yang berrima dengan ibukota Vietnam. Julukannya kemudian juga “diviralkan” media-media massa AS.
Tak seperti para pendahulunya macam Axis Sally atau Tokyo Rose, suara Hanoi Hannah justru acap ditunggu-tunggu para G.I. Di balik penyensoran setiap berita oleh militer AS, para prajuritnya cenderung lebih percaya berita-berita yang disiarkan Hanoi Hannah, terlepas dari ia tetap membujuk para G.I. untuk membangkang dari pemerintah AS.
“Suara Thu Hương begitu lembut, menggoda, dan anehnya bikin nyaman. Pesan-pesannya disuarakan dengan gigih: ‘G.I., pemerintah (AS) telah mengabaikan Anda. Mereka memerintahkanmu untuk mati. Jangan percaya mereka. Membelotlah, G.I. Lebih baik meninggalkan kapal yang karam. Kau tahu takkan menang perang ini. Kau telah kalah, G.I. Para imperialis yang menciptakan perang ini, G.I. Pesawat-pesawatmu membom pasukan kalian sendiri. Para G.I. kulit hitam, kalian diperintahkan bertempur dan mati oleh para pemimpin Amerika yang rasis. Sementara kalian di rawa-rawa, para kekasih kalian berselingkuh’,” ungkap Robert F. Lawrence dalam Good Night Vietnam: From an American Army Rebel with a Cause.
Hanoi Hannah terus mengudara via radio hingga 1973, ketika para prajurit AS mulai meninggalkan Vietnam. Dua tahun berselang, ia dan suaminya pindah ke Ho Chi Minh City dan terus jadi penyiar di beberapa radio, lalu televisi sebelum wafat pada 30 September 2016.
“Saya hanya warga biasa yang ingin berkontribusi untuk negara saya. Tujuan saya saat itu hanya membujuk para G.I. untuk tidak berpartisipasi dalam perang yang bukan perang mereka. Saya berusaha untuk ramah dan meyakinkan. Saya tidak ingin jadi agresif atau berteriak lantang. Saya selalu merujuk para tentara Amerika itu sebagai lawan. (Tetapi) Saya tidak pernah menyebut mereka sebagai musuh,” kenang Ngọ ketika diwawancara reporter David Lamb untuk artikel di Los Angeles Times edisi 4 April 1998, “Hanoi Hannah Fondly Remembers Her Role”.















