top of page

Mata Hari di Jawa

Margaretha Geetruida Zelle, sosok “femme fatale” yang terkenal di dunia spionase. Ia belajar menari di Jawa sebagai pelariannya dari suami yang toxic.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Margaretha Geertruida MacLeod belajar tari dan punya nama panggung "Mata Hari" semenjak di Jawa. (histoire-image.org).

27 Apr 2024
5 menit membaca

Diperbarui: 1 Feb

NEGERI Hindia Belanda (kini Indonesia) masih begitu asing bagi Margaretha Geetruida ‘Griet’ Zelle. Kendati begitu, seiring kapal SS Prinses Amalia berangkat dari Belanda menuju Jawa pada 1 Mei 1897, sosok yang kelak dikenal sebagai Mata Hari itu punya harapan bisa membuka lembaran kehidupan baru di tanah koloni nun jauh dari negerinya.


Berangkat saat usia 21 tahun, Margaretha sudah menjadi ibu muda dengan satu anak, Norman, hasil pernikahannya dengan perwira KNIL Rudolf John MacLeod. Margaretha menerima pinangan Kapten MacLeod demi status. Keluarganya berantakan dan dia sempat jadi anak broken home pasca-ayahnya, Adam Zelle, bangkrut dan menikah lagi.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
transparant.png
bottom of page