Diperbarui: 25 Jul
NAMA Sintong Panjaitan melejit setelah sukses menumpas aksi teroris pembajak pesawat Garuda DC-9 “Woyla” di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand. Sintong yang waktu itu berpangkat letnan kolonel merupakan komandan Grup IV/Sandiyudha Kopassandha (kini Kopassus). Bersama 30 anak buahnya, Sintong memimpin operasi anti-teror untuk menyelamatkan para sandera pembajakan.
“Kita datang di sini untuk menyelamatkan nyawa sandera. Jadi naywa sandera lebih berharga dibanding dengan nyawamu dan nyawaku, karena kita sudah menjadi tentara,” kata Sintong kepada anak buahnya sebagaimana dituturkan Hendro Subroto dalam biografi Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando.
Penyerbuan pesawat Garuda Woyla pada dini hari 31 Maret 1981 itu berlangsung singkat. Seluruh penumpang yang disandera berhasil diselamatkan. Tiga pembajak ditewaskan seketika menyusul kemudian dua orang lagi. Di antara kelima pembajak, pemimpinnya diketahui bernama Mahrizal. Namun, di luar mereka, Imran bin Muhammad Zein disebut-sebut sebagai dalang di balik aksi pembajakan pesawat Garuda Woyla tersebut.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

















