- 30 Jul 2018
- 4 menit membaca
Diperbarui: 1 hari yang lalu
PERKARA rasial dan imigran menghebohkan publik Jerman pekan lalu. Gara-garanya, pemain timnas Jerman berdarah Turki, Mesut Özil, merasa mengalami rasisme dan diskriminasi hingga mencuit di akun Twitter-nya. Perlakuan itu membuatnya memilih pensiun dari Die Mannschaft.
Rasisme dan imigran, dua hal sensitif di Jerman, sejatinya tak hanya jadi persoalan para imigran asal Turki, melainkan juga yang berasal dari sub-sahara alias Afrika berkulit hitam. Pada 2016, rekan setim Özil, Jérôme Boateng, juga jadi obyek rasisme. Alexander Gauland, politikus dari partai Alternative für Deutschland (AfD), partai sayap kanan anti-pengungsi dan imigran, menghinanya. “Orang-orang asli Jerman takkan mau tinggal bertetangga dengan Boateng,” cetusnya kepada Suratkabar Frankfurter Allgemeine Zeitung, 5 Juni 2016.
Sontak Gauland banjir kecaman. Kebanyakan mengutuknya karena Gauland tak tahu terimakasih atas jasa Boateng yang turut mengantar timnas Jerman menjuarai Euro U-21 2009 dan Piala Dunia 2014. Boateng merupakan bek kelahiran Berlin Barat 3 September 1988 dari orangtua campuran Jerman-Ghana, Martina dan Prince Boateng.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















