top of page

Sukarno dan Jenggot Fidel Castro

Bung Karno sempat tergoda menyarankan sahabat revolusionernya itu untuk mengubah penampilan. Urung dilakukan karena tak mau menyinggung perasaan teman.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Sukarno dan Fidel Castro di Havana, Kuba pada 1960. (Wikipedia).

  • 4 Jun 2020
  • 2 menit membaca

Selain Asia dan Afrika, Presiden Sukarno juga menjalin persahabatan dengan pemimpin negara-negara Amerika Latin. Pergaulan terjalin lantaran kesamaan pandangan anti kolonialisme dan imperialisme. Tidak melulu soal politik, Sukarno juga mengagumi cara berpenampilan salah satu pemimpin negara Amerika Latin yaitu Juan Peron dari Argentina.


Menurut Guntur, putra sulung Bung Karno, Presiden Argentina Juan Peron adalah pemimpin dari Amerika Lartin yang paling parlente di mata Sukarno. Juan Peron memang populer bagi masyarakat Argentina. Dia menjadi presiden Argentina untuk tiga periode masa jabatan (1946—1952, 1952—1955, dan 1973—1974). Juan Peron yang berlatar belakang militer ini dikenal tampan dan berpenampilan rapi –sepertinya halnya Sukarno.


Bila Juan Peron dijunjung dengan selera penampilannya yang bagus, maka berbanding terbalik dengan Fidel Castro. “Kalau yang paling ‘brengsek’ cara berpakaiannya adalah Sang ‘Maximo Lider De La Revolution De Cuba’ atau ‘Pemimpin Besar Revolusi Kuba’ Fidel Castro,” ujar Guntur dalam Bung Karno & Kesayangannya. Dalam artian, Fidel Castro sama sekali tidak peduli perkara penampilan.


Hubungan diplomatik Indonesia dan Kuba telah berjalin sejak para pemimpinnya saling mengunjungi. Pada 1959, Ernesto “Che” Guevara, sahabat dan orang kepercayaan Fidel Castro berkunjung ke Indonesia sebagai wakil resmi pemerintah Kuba. Setahun berselang tepatnya 13 Mei 1960 , giliran Sukarno yang melawat ke negeri Kuba. Fidel Castro sendiri menyambut langsung Sukarno di Bandara Havana. Sukarno disambut merah. Warga Kuba berdiri di sepanjang jalan membentangkan poster bertuliskan "Viva Presiden Soekarno".


Seperti dituturkan kepada Guntur, Sukarno pernah hendak berkirim surat pribadi atau ngobrol santai dengan Fidel Castro dan juga Che Guevara. Bukan soal yang berat-berat, yang ingin diutarakan Sukarno hanyalah agar mereka mencukur kumis dan jenggotnya yang tebal. Sukarno sejatinya perhatian dengan sahabat revolusionernya dari Kuba itu. 


Menurut Sukarno, tanpa kumis dan jenggot, Fidel Castro dan Che Guevara akan terlihat lebih tampan. Amat disayangkan kalau ketampanan wajah mereka harus tersembunyi dibelakang kumis dan brewok nan lebat. Khususnya pada sosok Fidel Castro, yang menurut Sukarno gagah dan ganteng itu.


“Justru karena karena dia itu berkumis dan brewokan maka kegagahan dan kegantengan wajahnya jadi tertutup dan inilah yang membuat dia nggak laku-laku sama wanita alias jadi bujang tua terus!” celoteh Guntur.


Sukarno pada akhirnya mengurungkan niatnya mewejangi Fidel dan Che soal penampilan. Rupanya Bung Besar khawatir juga Fidel dan Che yang tempramenmya terkenal panas akan tersinggung. Selain itu, Bung Karno tidak mau merusak identitas nasional Kuba serta citra revolusionernya yang dilambangkan dengan kumis dan brewok tebal tadi. Kumis dan brewok bagi masyarakat Kuba ibarat sudah merupakan ciri khas sepertinya halnya peci hitam bagi orang Indonesia.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Rasa kebangsaan Ahmad Subardjo tergugah oleh tulisan Soewardi Soerjaningrat dan pidato Tjokroaminoto. Dia juga sempat menggeluti teosofi.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo tak hanya berotak encer dalam pelajaran, wawasan dunia dan kesadaran kebangsaannya tumbuh berkat Jules Verne, Multatuli, hingga Sun Yat-sen.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah terpikat sosialisme pada pandangan pertama. Sutan Sjahrir jadi comblangnya.
bg-gray.jpg
Buyut Ahmad Subardjo berasal dari keluarga terpandang di Aceh yang terlibat persaingan kekuasaan. Dia memilih merantau ke Jawa dan menjadi pemuka agama Islam. Anaknya mengikuti jejaknya.
Sekuel “Venom 2” menghadirkan drama-action berbalut komedi. Karakter anti-hero yang mulanya berasal dari sayembara penggemar.
Sekuel “Venom 2” menghadirkan drama-action berbalut komedi. Karakter anti-hero yang mulanya berasal dari sayembara penggemar.
Merekam situasi zaman dalam goresan pensil di atas selembar kertas.
Merekam situasi zaman dalam goresan pensil di atas selembar kertas.
Orang gemuk bukan hanya menghadapi ancaman berbagai penyakit, tapi juga persepsi publik.
Orang gemuk bukan hanya menghadapi ancaman berbagai penyakit, tapi juga persepsi publik.
Jadwal laga-laga akbar sepakbola kacau gegara virus corona, sebagaimana yang terjadi seabad silam.
Jadwal laga-laga akbar sepakbola kacau gegara virus corona, sebagaimana yang terjadi seabad silam.
Memaknai kembali hubungan Jepang dan Indonesia lewat pameran Sakura di Khatulistiwa. Digelar pada 9 Agustus hingga 10 September 2022.
Memaknai kembali hubungan Jepang dan Indonesia lewat pameran Sakura di Khatulistiwa. Digelar pada 9 Agustus hingga 10 September 2022.
Habis cuju, terbitlah sepakbola modern. Tim Naga membuka peluang mengulang lolos ke Piala Dunia usai membekap “Garuda”.
Habis cuju, terbitlah sepakbola modern. Tim Naga membuka peluang mengulang lolos ke Piala Dunia usai membekap “Garuda”.
transparant.png
bottom of page