top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Sukarno-Hatta dan Kucingnya

Kucing disayangi oleh berbagai kalangan, mulai dari Nabi, kepala negara, sampai rakyat biasa.

6 Mar 2014

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Kucing. (Micha Rainer Pali/Historia.ID).


KUCING merupakan hewan yang banyak dipelihara. Nabi Muhammad Saw. menyukai dan menyayangi kucing. Sahabatnya, yang setelah masuk Islam bernama Abdul Rahman, lebih dikenal sebagai Abu Hurairah, artinya "bapak kucing", karena menyayangi kucing dan sering bermain-main dengannya. Karena itu, Islam melarang menyakiti kucing.


Proklamator kemerdekaan Indonesia, Sukarno dan Mohammad Hatta, juga menyayangi dan memelihara kucing.


Ketika diasingkan di Ende Flores, Sukarno memiliki sekelompok "sahabat" khusus, yakni kera dan kucing. Menurut Jae Bara, pengawal Sukarno selama di Ende dalam Bung Karno: Ilham dari Flores untuk Nusantara, "jumlahnya 35 ekor kucing. Kucing-kucing itu begitu dekat dengan Bung Karno. Kucing-kucing itu tidak pernah berkeliaran ke mana-mana. Walaupun sedemikian banyaknya, kucing-kucing tersebut tidak pernah ribut. Semuanya hidup bersama secara aman di atas loteng rumah Bung Karno."


"Bung Karno sering memberi mereka makan. Pada waktu makan, kucing-kucing itu pun tidak pernah berebutan. Mereka tetap tinggal diam di tempat masing-masing menunggu Bung Karno memanggil nama-nama mereka satu demi satu. Ada yang diberi nama Wellem, Joko, Tuty, Api dan sebagainya, oleh Bung Karno."


Begitu pula ketika Sukarno dipindahkan ke Bengkulu. Menurut A.M. Hanafi, Duta Besar Indonesia untuk Kuba pada 1965, Inggit memelihara seekor kucing; mending kucing anggora yang bulunya halus-bagus, ini kucing kampung yang lepas tak punya tuan. "Kucing itu dipungut dan dipelihara, saya mengetahui hal itu ketika sama-sama di Bengkulu," kata Hanafi dalam AM Hanafi Menggugat. "Nah, Bung Karno suka juga mengelus-ngelusnya, karena kucing itu suka menunggu di dekat Bung Karno kalau Bung Karno habis sembahyang."


Selain kucing, Sukarno memelihara anjing. Ketika Rachmawati melihat seekor pekingnese putih tengah mengibas-kibaskan ekor di dekat kaki ibunya, Fatmawati, dia berkata: "Sepertinya Rachma menyayangi anjing, Bu."


"Anjing dan kucing," kata Fatmawati dalam Suka Duka Fatmawati Sukarno karya Kadjat Adra’i.

Rachmawati, anak ketiga Sukarno dan Fatmawati, kemudian memelihara kucing kesayangannya jenis anggora.


Waktu diasingkan ke Banda Naira, Bung Hatta memelihara banyak kucing. "Oom Kaca Mata memelihara beberapa ekor kucing berwarna harimau di rumah barunya. Beliau memang seorang penyayang kucing. Semua kucing peliharaannya adalah kucing jantan,” kata Des Alwi dalam Bersama Hatta, Sjahrir, dr. Tjipto & Iwa R. Sumantri di Banda Naira.


Anehnya, Bung Hatta menamai kucing-kucing itu dengan nama diktator yang dibencinya: Hitler, Mussolini, Franco, dan Turky. Mungkin setelah dia gemas membaca ulasan berita politik luar negeri, misalnya, kucing yang kulitnya mirip macan diberi nama Hitler, sedangkan kucingnya yang putih belang-belang hitam diberi nama Tito.


Di rumahnya di Jakarta, Bung Hatta mempunyai banyak kucing sedangkan di Megamendung memelihara kucing, kelinci, dan ikan. Kucing kesayangannya bernama Jonkheer (gelar bangsawan pada masyarakat Belanda), dan ikan kesayangannya bernama Si Rabun sebab matanya memang rabun.


"Ayah senantiasa memberi contoh pada kami dalam mencintai binatang," kata Gemala Rabi’ah Hatta, anak kedua Bung Hatta, dalam Pribadi Manusia Hatta.


Bung Hatta senantiasa memperhatikan kucing-kucingnya; memberi makan dengan daging yang dipotong kecil-kecil; membagi porsi makanan dengan adil; serta menjentik kucing besar yang rakus dan berusaha menghabiskan porsi kawannya.


"Dalam hal ketertiban ini Ayah memandang Jonkheer sebagai kucing yang tahu berdisiplin," kata Gemala. Bila sedang keluar rumah, Jonkheer menunggunya pada saat kira-kira Bung Hatta akan kembali ke rumah. Ia juga tahu jadwal kegiatan Bung Hatta; kapan mandi atau ke ruang perpustakaan. Waktu Bung Hatta sakit, ia tidak suka makan dan mengeong-ngeong di muka kamar seakan ikut merasakan sakit tuannya.


"Ayah tidak suka dengan anjing dan kami tidak pernah memeliharanya," kata Gemala. "Meskipun anjing adalah binatang najis menurut agama Islam, ayah tidak suka pada orang yang menganiaya binatang."

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Demam Telenovela di Indonesia

Demam Telenovela di Indonesia

Bermula dari sandiwara radio di Kuba, revolusi membuka jalan alih wahana radionovela menjadi telenovela. Sinema Amerika Latin ini menyebar ke berbagai negara termasuk membanjiri layar kaca Indonesia.
Kisah Wanita Paling Mematikan di Italia

Kisah Wanita Paling Mematikan di Italia

Produk kecantikan yang digandrungi perempuan Italia ini ternyata racun yang diramu oleh perempuan paling mematikan.
Virus Nipah yang Bikin Resah

Virus Nipah yang Bikin Resah

Kasusnya pertamakali muncul di peternakan-peternakan babi di Malaysia tiga dekade silam. Lebih dari satu juta babi sampai dimusnahkan untuk menyetop penyebarannya.
Pedagang dan Pejuang dari Tanah Rencong (Bagian III–Habis)

Pedagang dan Pejuang dari Tanah Rencong (Bagian III–Habis)

Teuku Hamid Azwar memimpin CTC yang punya gedung tertinggi di Jakarta hingga turut membangun Sarinah. Pernah dua kali menolak kursi menteri Sukarno.
Ilmuwan Perang Dunia II dalam Pengembangan AI

Ilmuwan Perang Dunia II dalam Pengembangan AI

Alan Turing dikenal sebagai ilmuwan yang berperan dalam kemenangan Sekutu di Perang Dunia II. Gagasannya mengenai mesin cerdas menjadi awal pengembangan kecerdasan buatan.
bottom of page