top of page

Kisah Anjing Piaraan Sukarno

Anjing jadi jadiah persahabatan dari orang Belanda yang belajar bahasa Jawa. Jadi teman pelipur lara Bung Karno selama pengasingan di Bengkulu.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Bung Karno bersama Si Ketuk Kuning. (Repro Fatmawati: Catatan Kecil Bersama Bung Karno).

5 Mei 2020
2 menit membaca

Diperbarui: 9 Mar

BIDUK rumah tangga Bung Karno goyah sewaktu masa pengasingannya di Bengkulu. Dia kerap bersitegang dengan istrinya Inggit karena kehadiran Fatmawati, gadis yang mondok di rumah mereka. Konflik suami-istri itu membuat hari-hari di rumah terasa hampa.


Dalam otobiografinya, Sukarno mengakui kegalauan hatinya. Untuk melegakan batin, Sukarno mencari keasyikan dengan bekerja. Mulai dari mengerjakan rencana rumah untuk rakyat, aktif dalam organisasi Muhammadiyah, hingga mengajar bahasa Jawa.  


“Akupun menerima calon menantu dari Residen sebagai murid dalam pelajaran bahasa Jawa, karena dia bekerja sebagai asisten kebun di suatu perkebunan teh dan para pekerjanya berasal dari Jawa,” kata Sukarno kepada Cindy Adams dalam otobiografi Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
transparant.png
bottom of page